, , ,

Ibu Uchie Gowes di Kawasan Perkebunan PTPN I Regional 2 Purasari, Leuwiliang, Bogor

BOGOR,  Semangat hidup sehat dan mencintai alam kembali ditunjukkan oleh Ibu Uchie melalui kegiatan bersepeda (gowes) yang digelar pada Sabtu pagi di kawasan PT Perkebunan Nusantara I Regional 2 Purasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (16640), Sabtu (4/10/2025)

Didampingi beberapa rekan, Uchie memulai rute gowes dari area utama perkebunan dengan suasana pagi yang sejuk dan udara segar khas perdesaan Bogor. Jalur yang dilalui melintasi deretan pohon teh dan hamparan hijau kebun yang masih terawat rapi, menghadirkan pengalaman bersepeda yang menyehatkan sekaligus menenangkan.

“Alhamdulillah, pagi ini luar biasa. Udara segar, tubuh terasa ringan, dan hati pun tenang. Gowes bukan hanya soal olahraga, tapi cara saya mensyukuri nikmat Tuhan,” ujar Uchie usai bersepeda sambil tersenyum.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rutinitas sehat yang dijalankan Uchie hampir setiap pekan, terutama di akhir minggu. Ia percaya bahwa menjaga kebugaran tubuh melalui aktivitas fisik adalah wujud syukur atas kesehatan yang dianugerahkan.

Selain bersepeda, Uchie juga dikenal aktif menjalankan ibadah harian, mengikuti majelis taklim, serta meluangkan waktu untuk keluarga dan cucu-cucunya. “Sehat jasmani, tenang rohani, itu keseimbangan hidup yang terus saya jaga,” tambahnya.

Kawasan perkebunan PTPN I Regional 2 sendiri dikenal sebagai salah satu lokasi favorit bagi pehobi gowes karena menawarkan jalur alami dengan pemandangan pegunungan yang asri dan udara bebas polusi.

Bagi Uchie, kegiatan seperti ini bukan hanya soal olahraga, tetapi juga bentuk nyata dari kecintaannya terhadap alam dan kehidupan.

“Setiap kayuhan sepeda adalah pengingat bahwa hidup harus terus bergerak, tapi tetap dalam irama yang seimbang,” tuturnya.

Dengan semangat yang tulus dan gaya hidup yang penuh syukur, sosok Uchie menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk menjalani hidup sehat, aktif, dan berimbang antara aktivitas fisik,

spiritual, dan sosial.

Dalam kehidupan yang sering diwarnai kesibukan dan perubahan, tidak semua berjalan sesuai keinginan. Namun bagi Uchie yang tinggal wilayah kota Jakarta Selatan, setiap pengalaman hidup entah pahit atau manis — adalah bagian dari rencana Tuhan yang pantas disyukuri. Ia percaya, rasa syukur bukan hanya ucapan di bibir, tetapi sikap hidup yang mendatangkan ketenangan dan menambah nikmat.

“Kalau bersyukur, nikmat ditambah. Kalau mengeluh, berkat menjauh,” ujarnya lirih namun mantap.

Sehat sebagai Wujud Syukur

Setiap pagi, roda sepeda Uchie berputar menyusuri jalanan. Aktivitas gowes sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya. Bagi Uchie, bersepeda bukan hanya untuk kebugaran fisik, tetapi juga sarana menyegarkan pikiran dan mensyukuri udara segar yang diberikan Tuhan.

“Setiap kayuhan itu doa, setiap keringat itu wujud syukur,” tuturnya tersenyum.

Namun, ia juga tahu kapan harus memberi jeda. Setiap Senin dan Kamis, ia menjalankan ibadah puasa, membiarkan tubuh beristirahat dan hati lebih fokus pada sisi spiritual. Sedangkan hari Jumat menjadi hari pendek dan Jumat bersih, waktu khusus untuk merapikan rumah dan menata lingkungan.

“Kalau rumah bersih, pikiran juga jernih,” katanya ringan.

Ritme Ibadah dan Kedamaian Jiwa

Uchie dikenal bukan hanya disiplin berolahraga, tetapi juga tekun beribadah. Setiap Maghrib hingga Isya, ia meluangkan waktu di masjid untuk shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan terkadang mengikuti tausiah bila ada ustaz yang mengisi pengajian di sela waktu shalat.

“Itu waktu terbaik bagi saya untuk menenangkan hati. Setelah Isya baru saya pulang, dan rasanya ringan sekali,” ujarnya.

Kedisiplinannya berlanjut hingga malam. Tahajud di sepertiga malam menjadi rutinitas yang ia jaga dengan penuh kesungguhan. Meski dalam seminggu bisa ada satu atau dua malam ia absen, kadang justru seminggu penuh ia bangun untuk sujud dalam keheningan.

“Tahajud itu ruang pribadi saya dengan Allah. Sunyi, tapi justru di situ saya paling damai,” ucapnya penuh makna.

Keluarga dan Kehidupan yang Seimbang

Selain ibadah dan olahraga, keseharian Uchie juga dipenuhi kasih terhadap keluarga. Di hari-hari biasa (weekday), ia tetap aktif memantau dan menjemput cucu dari sekolah — rutinitas yang ia jalani dengan sukacita.

“Cucu itu sumber energi saya. Sekarang mau nambah lagi, cucu ketujuh. Alhamdulillah, mohon doanya,” katanya sambil tertawa bahagia.

Setiap Kamis, ia menghadiri majelis taklim, tempatnya belajar dan bertemu sahabat-sahabat seiman. Di sana, Uchie tak hanya memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga berbagi semangat hidup dan kebaikan kepada sesama.

Syukur sebagai Jalan Hidup

Kepada sahabat dan relasinya, Uchie sering mengingatkan bahwa hidup bukan tentang mencari kesempurnaan, tetapi tentang menemukan keseimbangan dan mensyukuri yang ada. Dalam setiap obrolan santai atau pertemuan keluarga, pesannya selalu sama: jangan biarkan keluh kesah menutupi nikmat yang sudah diterima.

“Kalau kita berhenti mengeluh dan mulai menghitung berkat, kita akan kaget — ternyata Tuhan sudah memberi lebih dari cukup,” ujarnya lembut.

“Setiap hari adalah nikmat baru.

Bagaimana perasaan saat bersepeda ungkapnya adalah “ini luar biasa yang penting: sehat, ibadah jalan, hati bersyukur. Alhamdulillah. Sekali lagi katanya “Bahagia polll!

Alhamdulillah… semua nikmat ini luar biasa. Setiap hari dijalani dengan syukur — dari gowes, ibadah, sampai kumpul keluarga. Semua karena kasih dan kehendak-Nya.

Refleksi Hidup

Hidup sehat, ibadah yang teratur, dan hati yang selalu bersyukur menjadikan Uchie sosok yang tenang sekaligus menginspirasi. Ia tidak mengejar kesempurnaan, tetapi menjalani keseharian dengan ketulusan.

Kehadirannya menjadi pengingat bagi banyak orang di sekitarnya: bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam hati yang lapang.

“Sehat itu anugerah, ibadah itu kebutuhan, dan syukur itu kunci dari semua kebahagiaan,” pungkasnya.

 

Reporter Suwidodo/mas Weng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *