,

Makna Paliatif dari Seorang Dokter yang Tidak Umum 35 Tahun Mengabdi : untuk Meringankan Penderitaan

Indonesiasatu928.com, Sudah tiga puluh lima tahun lamanya Dr. Agus mendedikasikan hidupnya untuk satu hal yang sering terlupakan dalam dunia medis: meringankan penderitaan manusia. Ia menyebut bidang yang digelutinya sebagai paliatif, berasal dari kata Latin palium, yang berarti jubah atau mantel—simbol perlindungan dari panas dan hujan. Namun bagi Dr. Agus, palium bukan hanya pelindung dari cuaca, melainkan pelindung dari penderitaan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

“Dalam dunia kesehatan,” ujarnya, “paliatif berarti melindungi seseorang dari penderitaannya. Dan penderitaan manusia itu tidak hanya fisik, tetapi juga mencakup lima dimensi yang membentuk dirinya: fisik, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual.”

Menurutnya, banyak tenaga kesehatan masih berfokus hanya pada dua dimensi pertama—fisik dan mental. Padahal, tiga dimensi lain—sosial, kultural, dan spiritual—sering kali tidak tersentuh. Akibatnya, proses penyembuhan menjadi tidak utuh. “Kalau orang diobati tanpa menyentuh kelima dimensi itu, hasilnya tidak akan maksimal. Kesehatan sejati harus menyeluruh, tidak bisa sepotong-sepotong,” tegasnya.

Tiga Kunci Dasar Hidup Sehat

Dalam kesempatan itu, Dr. Agus juga berbagi pandangan sederhana namun mendalam tentang hidup sehat. Menurutnya, ada tiga hal penting yang tidak boleh ditinggalkan: gerak, minum, dan berbicara.

Yang pertama adalah gerak. “Hidup itu harus bergerak. Kalau tidak bergerak, sirkulasi berhenti, tubuh pun mudah sakit,” katanya. Ia bahkan mengaku senang melihat orang menari, karena dari gerak tubuh itu terpancar semangat hidup. “Menari itu bagus, apalagi kalau sambil bernyanyi—oksigennya masuk, pikiran senang, tubuh pun sehat.”

Yang kedua adalah minum. Dr. Agus mengingatkan, makan memang penting, tetapi minum jauh lebih penting. “Tubuh manusia terdiri dari 75 persen air. Jadi makanlah secukupnya, tapi jangan sampai kekurangan minum. Kekurangan cairan bisa menyebabkan penyakit degeneratif,” ujarnya.

Yang ketiga, dan sering dilupakan, adalah berbicara. Ia tersenyum ketika menjelaskan, “Orang yang diam saja itu cepat mati. Karena tidak ada oksigen yang masuk.” Ia menegaskan bahwa berbicara, terutama hal-hal positif, adalah bagian dari proses hidup. “Ngomonglah yang baik, yang memotivasi. Jangan pakai ilmu kebatinan diam saja—itu tidak sehat. Orang yang introvert cenderung depresi karena menahan semuanya di dalam. Maka, keluarkan, bicarakan, bernyanyi pun boleh.”

Kesehatan yang Seimbang: Lima Dimensi Hidup

Dr. Agus lalu menekankan bahwa kesehatan sejati adalah keseimbangan dari lima dimensi manusia:

Fisik, yang harus dijaga dengan olahraga dan gerak yang cukup.

Psikologis, yang perlu dirawat dengan pikiran positif dan tidak overthinking.

Sosial, yang menuntut manusia untuk tidak hidup sendiri, melainkan berinteraksi dan saling berbagi.

Kultural, yang mengingatkan agar kita tetap terhubung dengan akar budaya dan nilai-nilai kehidupan.

Spiritual, yang menjadi sumber kekuatan terdalam saat semua hal lain terasa rapuh.

“Kalau lima dimensi ini tidak seimbang, kesehatan tidak akan utuh,” ujarnya. Karena itu, ia selalu mendorong orang untuk tidak menyendiri, untuk terus bergerak, berkomunikasi, dan membuka diri terhadap kehidupan.

 

Pelajaran dari Ujian Panjang

Dr. Agus bercerita bahwa dirinya juga tidak luput dari tekanan besar. Saat masa pandemi, ia termasuk tenaga medis yang tetap berada di garis depan. “Saya masuk terus,” katanya lirih, “karena pasien tidak boleh ditinggal. Setiap jam harus dievaluasi.” Selama dua setengah hingga tiga tahun itu, banyak rekan sejawatnya berpulang satu per satu. “Profesor, konsultan, provokator—semuanya sudah dipanggil. Saya salah satu yang masih ditolong Tuhan.”

Dari pengalaman itulah, Dr. Agus semakin yakin bahwa hidup adalah anugerah untuk menolong sesama. Ia menyebut dirinya sebagai “dokter yang tidak umum”, karena lebih melihat manusia sebagai makhluk utuh, bukan sekadar tubuh yang sakit. “Kalau saya masih diberi hidup, berarti saya harus menolong orang lain,” ujarnya mantap.

Jangan Sendirian Terus, Nanti Cepat Mati

Dalam salah satu video TikTok yang ramai dibicarakan, Dr. Agus mengingatkan dengan gaya khasnya:

“Harus menyiapkan diri untuk sering-sering kumpul, jangan sendirian terus. Apalagi selalu di rumah—nanti cepat mati!”

Kutipan itu mungkin terdengar ringan, tetapi sesungguhnya sarat makna. Ia ingin menegaskan bahwa interaksi sosial adalah bagian dari kesehatan. Manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, bukan menyendiri.

“Kita butuh teman, butuh ngobrol, butuh tertawa bersama,” katanya. “Karena dari situlah energi positif muncul, stres berkurang, dan hidup terasa lebih berarti.”

 

Jangan Sendirian Terus, Hidup Butuh Kumpul-Kumpul

Dalam sebuah video yang ramai di TikTok, Dr. Agus—dokter senior yang sudah lebih dari 35 tahun berkecimpung di dunia paliatif—menyampaikan pesan sederhana, tapi sangat menyentuh.

Dengan nada bersahabat ia berkata,

“Harus menyiapkan diri untuk sering-sering kumpul. Jangan sendirian terus, apalagi di rumah saja. Nanti cepat mati!”

Kalimat itu terdengar seperti candaan, tapi di baliknya tersimpan pesan serius tentang makna hidup dan kesehatan. Sebab, menurut Dr. Agus, kesepian adalah salah satu bentuk penderitaan terbesar yang dialami manusia modern.

Menolong untuk Hidup, Hidup untuk Menolong

Dalam pandangan Dr. Agus, kesehatan bukan sekadar tidak sakit, melainkan kondisi ketika seseorang hidup seimbang dalam kelima dimensi kemanusiaannya. Ia percaya, setiap manusia bisa menjadi penyembuh—bukan hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain. “Kalau kita bisa meringankan penderitaan orang lain, sekecil apa pun, itu sudah bentuk tertinggi dari kesehatan,” tutupnya.

 

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *