, ,

Simposium Setara Menata Bangsa Gelar Dialog Kebangsaan: “Perempuan dan Pergerakan Politik”

JAKARTA, 29 Oktober 2025 — Dalam suasana peringatan bulan Sumpah Pemuda, Simposium Setara Menata Bangsa (SSMB) menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Perempuan dan Pergerakan Politik”, Minggu malam (29/10), secara daring melalui platform Zoom. Acara ini menjadi ruang refleksi dan percakapan nasional mengenai kiprah, tantangan, dan harapan perempuan dalam menata masa depan politik Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.30 WIB hingga malam hari itu dipandu oleh Dwi Urip Pramono, Ketua SSMB, yang juga bertindak sebagai moderator. Acara menghadirkan narasumber utama Dorinche Mehue, S.E., Ketua DPD DWKI Provinsi Papua sekaligus anggota Majelis Rakyat Papua, serta tiga penanggap: Jessica Esther Warouw (Sekretaris Umum PP GMKI), Wawardin Zega (mantan Sekjen MUKI), dan Prof. Dr. Thomas Pentury (Guru Besar dan mantan Rektor Universitas Pattimura, Ambon).

Perempuan Papua: Dari Representasi Menuju Transformasi

Dalam pemaparannya, Dorinche Mehue menegaskan bahwa kehadiran perempuan dalam dunia politik tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai penentu arah kebijakan publik yang lebih manusiawi dan berkeadilan.

“Perempuan Papua harus hadir dalam setiap meja pengambilan keputusan. Kita bukan hanya mengisi kuota, tetapi membawa nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang tumbuh dari pengalaman hidup perempuan di tanah ini,” ujar Dorinche.

Ia menyoroti masih kuatnya hambatan kultural dan struktural yang dihadapi perempuan, terutama di daerah, dalam menembus arena politik. Selain persoalan representasi, Dorinche juga menekankan pentingnya pendidikan politik yang berakar pada budaya dan spiritualitas lokal, sehingga perempuan dapat tampil sebagai pemimpin otentik, bukan sekadar simbol.

Menurutnya, perempuan Papua memiliki kekuatan sosial dan spiritual yang mampu membangun harmoni dalam kehidupan berbangsa. “Jika perempuan terlibat aktif, politik akan lebih dekat dengan rakyat dan kebijakan akan lebih berpihak pada keadilan sosial,” tambahnya.

Perspektif Generasi Muda dan Etika Politik

Sebagai penanggap pertama, Jessica Esther Warouw dari PP GMKI memberikan pandangan dari perspektif generasi muda gereja. Ia menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan perempuan di organisasi kemasyarakatan dan keagamaan.

“Kita perlu memastikan ruang aman bagi perempuan muda untuk belajar, berpendapat, dan memimpin. Pendidikan politik yang sensitif gender adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa yang beradab,” ujarnya.

Sementara itu, Wawardin Zega, mantan Sekjen MUKI, mengingatkan bahwa politik tidak boleh kehilangan dimensi moral. Ia menyebut, perempuan memiliki potensi besar membawa etika, empati, dan ketulusan ke dalam dunia politik yang kerap keras dan pragmatis.

“Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Politik adalah panggilan pelayanan. Perempuan sering kali lebih konsisten menjaga nilai dan nurani dalam perjuangan sosial,” ujar Wawardin.

Dimensi Akademik dan Kritis

Dari sisi akademis, Prof. Dr. Thomas Pentury menyoroti pentingnya memahami pergerakan politik perempuan melalui pendekatan multidisipliner meliputi aspek budaya, sosial, teologi, dan pendidikan.

Ia menyatakan bahwa perjuangan perempuan tidak hanya berhenti pada persoalan keterwakilan, tetapi harus diarahkan pada transformasi sosial dan struktural.

“Kita tidak bisa hanya bicara soal jumlah perempuan di parlemen. Yang lebih penting adalah sejauh mana perempuan dapat mengubah orientasi kebijakan publik agar lebih manusiawi dan berpihak pada rakyat kecil,” tegas Pentury.

Ia juga mengingatkan perlunya dukungan sistemik, termasuk kebijakan pendidikan dan reformasi sosial, agar perempuan Indonesia mampu berperan setara dalam ruang publik.

Dialog Terbuka dan Visi Kebangsaan Inklusif

Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menghadirkan beragam pandangan yang saling melengkapi. Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk aktivis gereja, akademisi, mahasiswa, dan pegiat sosial.

Moderator Dwi Urip Pramono menilai bahwa dialog semacam ini merupakan bentuk nyata komitmen SSMB untuk membuka ruang percakapan lintas wilayah dan generasi dalam semangat kesetaraan.

“Simposium Setara Menata Bangsa hadir untuk membangun kesadaran kebangsaan yang inklusif. Kita ingin menata bangsa dengan melibatkan semua suara — termasuk suara perempuan yang selama ini kerap terpinggirkan,” ujarnya menutup acara.

Tentang SSMB

Simposium Setara Menata Bangsa (SSMB) merupakan forum lintas iman, akademisi, dan aktivis sosial yang berkomitmen untuk memperkuat nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kebangsaan. Melalui diskusi publik dan webinar tematik, SSMB berupaya membangun narasi kebangsaan yang kritis dan konstruktif di tengah dinamika sosial-politik Indonesia.

Kontak :Humas Simposium Setara Menata Bangsa (SSMB)📧 Email: sekretariat.ssmb@gmail.com

 

Reporter Suwidodo 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *