,

“JARKONI ROHANI: Pandai Berkata, Tetapi Tidak Hidup dalam Kebenaran”

Istilah orang Farisi dan istilah populer JARKONI (bisa mengajar tetapi tidak melakukan) sering dipakai untuk menggambarkan kemunafikan rohani, yaitu ketika seseorang pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi hidupnya tidak mencerminkan apa yang dia ajarkan.

Ilustrasi perbandingan antara orang Farisi yang pandai mengajarkan hukum Taurat tetapi tidak melakukannya, dan fenomena “Jarkoni rohani” masa kini—orang yang pandai berkata-kata tentang kebenaran, namun tidak memberi teladan dalam hidupnya.

Berikut penjelasannya secara rohani dan Alkitabiah.

1. Orang Farisi dalam Alkitab

Pada zaman Yesus, orang Farisi adalah kelompok pemimpin agama Yahudi yang sangat ahli dalam Taurat. Mereka dikenal, menguasai hukum Taurat, rajin beribadah, terlihat sangat religius di depan orang banyak. Namun Yesus menegur mereka dengan keras karena kehidupan mereka tidak sesuai dengan ajaran mereka.

Yesus berkata dalam Matius 23:3:

“Sebab mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

Artinya: mereka menuntut orang lain taat kepada hukum, tetapi mereka sendiri tidak hidup dalam ketaatan itu.

Yesus bahkan menyebut mereka: munafik, kuburan yang dilabur putih (tampak indah di luar tetapi penuh kebusukan di dalam). Ini menunjukkan bahwa agama tanpa perubahan hati tidak berkenan kepada Tuhan.

2. Makna JARKONI

Istilah JARKONI adalah bahasa populer yang berarti:

“Iso ujar nanging ora iso nglakoni.” (Bisa berkata atau mengajar, tetapi tidak bisa melakukannya.)

Dalam kehidupan sehari-hari, JARKONI menggambarkan orang yang: pandai menasihati orang lain, pandai berkhotbah, pandai memberi teori. Tetapi: hidupnya tidak sesuai dengan perkataannya, tidak memberi teladan.

Dalam konteks rohani, ini sangat berbahaya karena bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain.

3. Yesus Menghendaki Keteladanan

Yesus tidak hanya mengajarkan kebenaran, tetapi melakukannya dalam hidup-Nya.

Karena itu Yesus menekankan bahwa pemimpin rohani harus: rendah hati;  hidup sesuai firman kebenaran; menjadi teladan.

Dalam Yohanes 13:15 Yesus berkata:

“Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Artinya: Kebenaran bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dihidupi.

4. Bahaya Sikap Farisi dan Jarkoni

Jika seseorang hanya pandai berbicara tetapi tidak hidup benar, maka akibatnya:

Kehidupan rohani menjadi kosong ; Orang lain bisa kehilangan teladan; Iman menjadi sekadar pengetahuan; Penyembahan menjadi formalitas. Padahal Tuhan mencari penyembah yang benar (Yohanes 4:23).

5. Sikap yang Dikehendaki Tuhan

Alkitab mengajarkan bahwa orang percaya harus: mendengar firman; melakukan firman kebenaran.

Yakobus 1:22 berkata:

“Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.”

Ini berarti iman sejati terlihat dari hidup yang berubah dan perbuatan yang nyata.

Kesimpulan : Orang Farisi dan sikap JARKONI menggambarkan kehidupan yang: pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi tidak hidup dalam kebenaran.

Yesus menghendaki umat-Nya bukan hanya pandai mengajar, tetapi juga hidup sebagai teladan dalam kebenaran.

Karena penyembahan yang sejati adalah ketika perkataan, iman, dan perbuatan menjadi satu di dalam kehidupan yang dipimpin Roh Kudus.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s