OPINI Sampah Pembalut: Tanggung Jawab Bersama, Bukan Hanya Dinas Lingkungan Hidup

Oleh: Suwidodo Dinar

JAKARTA – Di balik hiruk pikuk kehidupan metropolitan, Jakarta menghadapi persoalan lingkungan yang jarang dibicarakan publik: sampah pembalut wanita. Limbah sanitasi ini diperkirakan mencapai lebih dari 60 ton per hari, menjadi bagian dari krisis pengelolaan sampah perkotaan yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Di tengah berbagai persoalan lingkungan di kota-kota besar, ada satu jenis limbah yang jarang menjadi perhatian publik tetapi volumenya sangat besar, yaitu sampah pembalut wanita.

Dengan jumlah penduduk sekitar 11 juta jiwa, Jakarta memiliki sekitar 3,5 juta perempuan usia menstruasi. Jika rata-rata penggunaan pembalut mencapai sekitar 16 lembar per siklus menstruasi, maka setiap bulan diperkirakan terdapat lebih dari 56 juta pembalut yang dibuang di wilayah ibu kota.

Dalam hitungan harian, angka tersebut setara dengan sekitar 1,8 juta pembalut bekas yang masuk ke sistem pembuangan sampah kota.

Masalahnya, sebagian besar pembalut sekali pakai mengandung lapisan plastik, serat sintetis, dan bahan penyerap kimia yang sangat sulit terurai. Tanpa pengelolaan khusus, limbah ini bisa bertahan di lingkungan hingga ratusan tahun.

Artinya, setiap hari Jakarta dapat menghasilkan lebih dari 1,8 juta pembalut bekas atau sekitar 60 ton limbah sanitasi.

Ini sekali lagi Masalahnya, sebagian besar pembalut sekali pakai mengandung plastik, serat sintetis, dan bahan penyerap kimia yang sulit terurai. Limbah ini bahkan dapat bertahan di alam hingga ratusan tahun jika tidak dikelola dengan benar.

Iluatrasi Petugas sanitarian bersama masyarakat melakukan pemilahan limbah pembalut di lokasi pembuangan sampah. Penanganan limbah sanitasi merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan lingkungan, dan masyarakat.

Di lapangan, petugas sanitarian sering menjadi garda depan dalam menjaga kesehatan lingkungan. Mereka melakukan pengawasan sanitasi, edukasi kepada masyarakat, hingga memastikan pengelolaan limbah berjalan sesuai standar kesehatan lingkungan.

Namun penting disadari bahwa tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan tidak dapat dibebankan hanya kepada Dinas Lingkungan Hidup. Persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan lingkungan, dan masyarakat.

Insinerator Skala Kecil (Pembakar Limbah Sanitasi). Teknologi ini paling bisa banyak digunakan di sekolah, kantor, dan fasilitas umum.

Cara kerja: Pembalut dimasukkan ke alat pembakar. Dibakar pada suhu sekitar 600–800°C. Hasilnya menjadi abu sangat sedikit.

Keunggulan: Mengurangi volume sampah hingga 90–95%; Membunuh bakteri dan virus; Tidak menimbulkan bau jika alat standar.

Cocok untuk:Sekolah; Pesantren; Rumah sakit; Toilet umum; Asrama

Untuk kondisi masyarakat Indonesia tehnologi tepat guna, paling realistis dan efektif: Insinerator skala kecil di sekolah, kantor, dan fasilitas umum.

Autoclave + pencacahan untuk rumah sakit atau kota besar.

Pirolisis untuk pengolahan sampah skala industri.

Teknologi ini bisa menjadi bagian dari manajemen limbah sanitasi perkotaan yang selama ini sering diabaikan.

Masyarakat dapat memulai dari langkah sederhana, seperti membungkus pembalut bekas sebelum dibuang, tidak membuangnya ke saluran air, serta memisahkannya dari sampah organik.

Sementara itu pemerintah perlu mendorong inovasi teknologi pengelolaan limbah sanitasi, seperti insinerator skala kecil atau sistem sterilisasi limbah, agar sampah sanitasi dapat ditangani secara aman dan higienis.

Pada akhirnya, persoalan sampah pembalut mengingatkan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kota yang bersih tidak lahir dari kerja satu lembaga saja, tetapi dari kesadaran kolektif seluruh masyarakat untuk merawat lingkungan tempat kita hidup bersama.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s