,

BNPB: Banjir Tapanuli Utara Surut, Angin Kencang di Takalar Terkendali

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan perkembangan terbaru situasi bencana di sejumlah wilayah Indonesia per Jumat (24/4) hingga Sabtu (25/4) pukul 07.00 WIB. Dua kejadian bencana hidrometeorologi basah tercatat terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Takalar.

Banjir yang sempat melanda tiga desa di Kecamatan Simangumban, Tapanuli Utara, dilaporkan telah surut. Kondisi wilayah terdampak kini berangsur normal berdasarkan laporan pada Jumat (24/4) pukul 17.00 WIB.

Sebelumnya, hujan deras memicu banjir bandang yang menerjang Desa Simangumban Julu, Aek Nabara, dan Dolok Sanggul. Sebanyak 200 kepala keluarga terdampak, dengan rincian 18 rumah rusak berat, empat rumah rusak ringan, serta satu jembatan hanyut.

Petugas gabungan dari BPBD, dinas terkait, dan masyarakat setempat telah melakukan pembersihan lumpur. Alat berat juga dikerahkan untuk membuka kembali akses jalan nasional Tarutung–Sipirok yang sempat tertutup material longsor.

Sementara itu, dampak angin kencang di Kelurahan Sabintang, Kecamatan Pattallassang, Takalar, juga telah tertangani. Berdasarkan data terbaru, 11 rumah warga mengalami kerusakan ringan dan dua rumah rusak sedang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Warga bersama aparat setempat telah melakukan pembersihan serta perbaikan darurat pada rumah-rumah terdampak.

Mengantisipasi potensi bencana susulan, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan tanah longsor. Peringatan dini cuaca ekstrem diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga 27 April 2026 di sejumlah wilayah Indonesia.

Kabupaten Tapanuli Utara adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Utara Indonesia dengan ibukota di Tarutung terletak di daratan tinggi Bukit Barisan wilayah ini dikenal sebagai pusat budaya Batak Toba dan pintu masuk menuju kawasan Danau Toba luas wilayah 3793 KM persegi 6,6 km2 perairan Danau Toba.

BNPB juga mendorong masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan keluarga, termasuk melakukan latihan evakuasi mandiri, membersihkan saluran air, memangkas ranting pohon yang rawan tumbang, serta menyiapkan tas siaga bencana.

Kesiapsiagaan bukan sekadar respons saat bencana terjadi, melainkan budaya yang harus dibangun sejak dini. Dengan langkah preventif dan gotong royong, risiko bencana dapat diminimalkan dan keselamatan warga lebih terjamin.

Donny g

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s