, , ,

Rumondang M. Sitompul dan Babak Baru Kepemimpinan Perempuan di Politik Indonesia

JAKARTA – Rumondang M. Sitompul memasuki babak baru dalam perjalanan pengabdiannya: dari dunia pelayanan dan kegiatan sosial menuju kepemimpinan partai politik. Kini, ia dipercaya sebagai Ketua Umum Partai SETARA dan membawa isu keterlibatan perempuan ke tengah perdebatan mengenai peran masyarakat dalam kehidupan politik Indonesia.

Posisi tersebut membuat Rumondang tidak lagi hanya berbicara dari ruang pelayanan, tetapi juga dari ruang politik yang memiliki konsekuensi lebih luas terhadap organisasi, kader, dan masyarakat yang menjadi sasaran perjuangan politik sebuah partai.

Peran Rumondang sebagai Ketua Umum Partai SETARA terlihat dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Perempuan Kristen dalam Kancah Politik” yang digelar Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) Indonesia bersama DPP Partai SETARA di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Dalam forum tersebut, Rumondang menyampaikan bahwa perempuan mempunyai peran strategis dan kekuatan besar dalam kehidupan politik. Ia menilai kehadiran perempuan dapat memberikan perspektif berbeda di tengah politik yang selama ini banyak diisi laki-laki.

Dari Pelayanan ke Panggung Politik

Kiprah Rumondang di ruang publik sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum dirinya tampil sebagai pimpinan partai.

Pada 2020, ia tercatat sebagai Ev. Rumondang Hadassah M. Sitompul, Ketua Bethesda House of Prayer. Melalui gerakan kepedulian yang dijalankan bersama jemaat, BHP menyalurkan bantuan sembako kepada wartawan Nasrani yang terdampak pandemi COVID-19. Rumondang ketika itu mengatakan kepedulian tersebut juga diarahkan kepada gereja, hamba Tuhan, jemaat, serta masyarakat seperti sopir angkutan umum dan kondektur.

Setahun kemudian, dalam kegiatan pemberian bantuan beras kepada PEWARNA Indonesia, Rumondang kembali menyoroti posisi wartawan sebagai jembatan informasi masyarakat. Ia mendorong wartawan menghasilkan pemberitaan yang mengedukasi dan memberikan ketenangan kepada masyarakat di tengah pandemi.

Rekam jejak tersebut memberikan gambaran mengenai salah satu sisi perjalanan Rumondang sebelum memasuki arena politik: pelayanan dan kepedulian sosial.

Memimpin Partai, Membawa Isu Perempuan

Kini, ruang yang dihadapi Rumondang berbeda. Sebagai Ketua Umum Partai SETARA, ia berada pada posisi yang menuntut kemampuan mengelola organisasi politik sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat.

Dalam FGD 25 September 2026, Rumondang secara terbuka berbicara mengenai pengalaman barunya memasuki dunia politik. Ia mengaku keterlibatan tersebut sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Namun, ia kemudian memandang perjalanan politiknya dalam konteks yang lebih luas. “Tuhan punya agenda atas Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujar Rumondang dalam forum tersebut.

Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana Rumondang membawa perspektif keagamaannya ke dalam ruang politik. Bagi dirinya, politik bukan semata-mata persoalan perebutan posisi, tetapi juga ruang untuk mengambil bagian dalam perjalanan bangsa.

Perempuan Tidak Sekadar Menjadi Pengurus

Tema kepemimpinan perempuan menjadi salah satu benang merah dalam diskusi tersebut.

Tokoh perempuan Papua, Thelma Numberi, yang hadir dalam FGD, menyampaikan bahwa perempuan perlu berani masuk ke dunia politik dan tidak berhenti hanya sebagai anggota atau pengurus. Perempuan, menurutnya, juga perlu berani mengambil posisi kepemimpinan.

Pandangan tersebut menjadi relevan dengan posisi Rumondang sendiri. Ia tidak sekadar hadir sebagai peserta dalam percakapan mengenai politik perempuan, tetapi berada di posisi sebagai pimpinan partai politik.

Akademisi Siesta Napitupulu dalam forum yang sama juga menyoroti pentingnya integritas perempuan ketika masuk ke dunia politik. Ia mengaitkan integritas dengan kemampuan politisi menyuarakan kepentingan rakyat secara konsisten.

Tantangan Kepemimpinan Politik

Posisi sebagai ketua umum tentu membawa tanggung jawab yang berbeda dengan aktivitas pelayanan sosial. Di ruang politik, gagasan harus diterjemahkan menjadi agenda organisasi, komunikasi publik, serta kerja politik yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Karena itu, kepemimpinan Rumondang ke depan tidak hanya akan dilihat dari keberaniannya menyuarakan keterlibatan perempuan, tetapi juga dari bagaimana Partai SETARA membangun organisasi, merumuskan program, berkomunikasi dengan masyarakat, dan menjalankan fungsi politiknya.

Bagi Rumondang sendiri, keterlibatan politik merupakan pengalaman baru. Tetapi rekam jejak pelayanan dan kegiatan sosial sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk keterlibatannya di ruang publik.

Antara Pelayanan, Masyarakat dan Politik

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Rumondang menunjukkan perpindahan ruang pengabdian: dari pelayanan keagamaan, kegiatan sosial, perhatian terhadap masyarakat dan media, kemudian masuk ke arena politik.

Pada Juni 2026, nama Rumondang juga tercatat hadir dalam kegiatan “Indonesia Menyembah” di Monas yang diselenggarakan PEWARNA Indonesia. Ia hadir bersama sejumlah tokoh dalam kegiatan doa bagi Indonesia.

Kini, sebagai Ketua Umum Partai SETARA, Rumondang berada pada fase yang berbeda. Ia harus membawa gagasan yang selama ini disampaikan dalam ruang pelayanan dan sosial ke dalam realitas organisasi politik.

Di titik inilah perjalanan Rumondang menarik untuk dicermati: bukan semata karena ia seorang perempuan yang memimpin partai, tetapi karena kepemimpinan politiknya berangkat dari pengalaman pelayanan dan keterlibatan sosial yang telah lebih dahulu dijalaninya.

Bagaimana perjalanan tersebut diterjemahkan menjadi kerja politik, program partai, dan hubungan dengan masyarakat akan menjadi bagian penting dari babak baru kiprah Rumondang M. Sitompul di panggung politik Indonesia.

Pemimpin dengan Hati Seorang Ibu yang baik.

Sosok pemimpin sejati bukan hanya terlihat dari jabatan yang disandang, tetapi dari hati, sikap, dan tindakan dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Seorang pemimpin yang baik tidak perlu menjatuhkan orang lain hanya untuk menaiki tangga kepemimpinan. Justru, kepemimpinan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk mendorong, merangkul, membantu, menolong, dan mengangkat orang lain agar dapat maju bersama.

Di sinilah pentingnya hati seorang ibu yang baik dalam kepemimpinan. Seorang ibu memiliki naluri untuk menjaga, melindungi, mendengar, membimbing, dan mencari jalan keluar ketika anak-anaknya menghadapi persoalan. Hati seperti itulah yang juga dibutuhkan dalam memimpin masyarakat.

Pemimpin dengan hati seorang ibu yang baik, tidak melihat masyarakat hanya sebagai angka atau kelompok yang harus diarahkan. Ia melihat mereka sebagai manusia yang memiliki harapan, persoalan, kebutuhan, dan masa depan yang harus diperjuangkan bersama.

Ketika ada masalah, ia tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Ia hadir untuk mendengar, memahami persoalan, kemudian mencari arah dan jalan keluar. Ketika ada yang lemah, ia memberikan dorongan. Ketika ada yang tertinggal, ia merangkul. Ketika ada perbedaan, ia membangun jembatan.

Karena itu, menjadi pemimpin bukan semata-mata tentang kekuasaan atau kedudukan. Kepemimpinan adalah pengabdian. Seorang pemimpin harus mampu menjadi pamong, menjadi kepala yang baik, sekaligus menjadi pelayan bagi masyarakat yang dipercayakan kepadanya.

Pada akhirnya, kualitas seorang pemimpin akan terlihat bukan dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari berapa banyak orang yang mampu ia angkat, berapa banyak persoalan yang mampu ia bantu selesaikan, dan seberapa besar masyarakat merasakan kehadiran serta kepeduliannya.

Pemimpin yang demikian tidak perlu menjatuhkan siapa pun untuk terlihat tinggi. Ia justru membuat orang lain ikut bertumbuh dan berjalan bersama menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Redaksi Indonesiasatu928

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 6681
  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994