Rocky Gerung: Dari Menara Kritik ke Pintu Istana

Oleh: Abd. Aziz

Founder dan Senior Managing Partner Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta; Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK); Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU)

Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026 menghadirkan sebuah ironi sekaligus ujian menarik bagi demokrasi.

Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal sebagai salah satu suara yang lantang mengkritik kekuasaan. Kini, sosok yang selama ini kerap berdiri di luar pagar kekuasaan justru masuk ke dalam lingkaran penasihat Presiden.

Publik pun bertanya: apakah seorang pengkritik telah berubah menjadi bagian dari kekuasaan?

Pertanyaan itu sah. Namun demokrasi yang sehat tidak seharusnya berhenti pada kecurigaan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: setelah masuk Istana, apakah akal kritis Rocky masih bekerja atau justru ikut beristirahat?

Kedekatan dengan kekuasaan tidak otomatis berarti hilangnya independensi. Justru berada di dalam lingkar pengambilan keputusan menghadirkan ujian yang jauh lebih berat.

Kritik dari luar kekuasaan memberikan ruang kebebasan moral yang relatif luas. Sebaliknya, kritik dari dalam kekuasaan berhadapan dengan godaan akses, fasilitas, kepentingan, kedekatan, dan kenyamanan.

Karena itu, ukuran independensi Rocky ke depan bukan lagi seberapa keras ia mengkritik pemerintah, tetapi seberapa berani ia menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar pemerintah.

Kritik Harus Naik Kelas

Sebelum masuk Wantimpres, Rocky bukan sosok yang asing dengan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pada Juni 2026, misalnya, ia mendorong apa yang disebutnya radical break, termasuk gagasan mengenai perampingan kabinet secara signifikan. Pada September 2026, ia kembali mengkritik konstruksi teknokratis sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

Jika sebelumnya kritik disampaikan dari luar kekuasaan, kini Rocky memiliki kesempatan untuk membawa kritik tersebut ke ruang pengambilan keputusan.

Di sinilah jabatan Wantimpres harus ditempatkan secara proporsional.

Wantimpres bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling keras mengkritik Presiden. Ia merupakan ruang untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Karena itu, kritik di dalam Istana harus mengalami kenaikan kelas: dari sekadar pernyataan menjadi argumentasi yang ditopang data, konstitusi, kepentingan publik, analisis kebijakan, dan alternatif solusi.

Seorang kritikus di luar pemerintahan cukup mengatakan sebuah kebijakan keliru. Namun ketika berada di dalam lingkaran penasihat Presiden, ia dituntut menjelaskan mengapa kebijakan itu keliru, siapa yang terdampak, apa konsekuensinya, berapa biaya yang dibutuhkan, bagaimana aspek hukumnya, dan apa alternatif perbaikannya.

Di situlah intelektualitas benar-benar diuji.

Bukan oleh tepuk tangan penonton, melainkan oleh kualitas argumentasi ketika berhadapan dengan keputusan nyata.

Rocky dan Ujian MBG

Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, tidak cukup dinilai berdasarkan slogan politik ataupun popularitas.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah program tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat, bagaimana kualitas pelaksanaannya, seberapa efisien penggunaan anggarannya, bagaimana mekanisme pengawasannya, serta apakah terdapat celah penyimpangan yang harus diperbaiki.

Begitu pula dengan Koperasi Desa Merah Putih.

Perdebatan publik seharusnya tidak berhenti pada posisi pro atau kontra. Yang lebih penting adalah menguji desain program, pembiayaan, pelaksanaan, tata kelola, pengawasan, serta manfaat konkretnya bagi masyarakat.

Jika Rocky pernah mengkritik kebijakan-kebijakan tersebut, maka kini publik memiliki kesempatan melihat apakah kritik itu dapat diterjemahkan menjadi pertimbangan kebijakan yang konstruktif.

Bahaya Terbesar Justru Kenyamanan

Ada jebakan yang sering kali lebih halus daripada tekanan politik.

Kekuasaan tidak selalu harus membungkam seorang kritikus. Terkadang cukup dengan membuatnya nyaman.

Seorang intelektual tidak selalu kehilangan independensi karena diperintah untuk diam. Ia juga bisa kehilangan independensi ketika terlalu menikmati akses, fasilitas, kedekatan, dan kenyamanan yang diberikan kekuasaan.

Karena itu, tantangan terbesar Rocky bukan sekadar bagaimana menghadapi tekanan politik.

Tantangan yang lebih serius adalah bagaimana memastikan dirinya tidak perlahan-lahan mulai membenarkan sesuatu yang dahulu ia pertanyakan.

Kritik tidak mati ketika seseorang masuk ke dalam kekuasaan. Kritik mati ketika keberanian untuk berbeda pendapat ditinggalkan di pintu Istana.

Publik Harus Memberi Ruang untuk Membuktikan

Publik juga perlu memberikan ruang yang fair kepada Rocky.

Jangan setiap kedekatan dengan Presiden langsung dianggap sebagai pengkhianatan terhadap gagasan. Sebaliknya, jangan pula setiap kritik Rocky setelah berada di Istana otomatis dianggap sebagai bukti independensi.

Keduanya harus diuji.

Demokrasi membutuhkan skeptisisme, tetapi skeptisisme juga harus tunduk kepada fakta.

Rocky berhak membuktikan dirinya melalui kerja. Publik berhak menilai melalui rekam jejak dan hasil.

Bukan melalui meme. Bukan melalui cibiran. Bukan pula melalui pujian.

Melainkan melalui apa yang benar-benar ia lakukan setelah berada di dalam Wantimpres.

Pada akhirnya, persoalan Rocky Gerung bukan hanya tentang seorang filsuf yang masuk Istana. Ini adalah ujian yang lebih besar mengenai hubungan antara intelektualitas, kritik, dan kekuasaan.

Kekuasaan membutuhkan kritik agar tidak kehilangan cermin. Kritik membutuhkan independensi agar tidak berubah menjadi legitimasi.

Rocky kini berada di ruang yang memungkinkan keduanya bertemu.

Jika ia mampu membawa keberanian berpikir ke ruang pengambilan keputusan, maka kritik memperoleh kesempatan untuk berubah menjadi koreksi kebijakan.

Namun jika sebaliknya, publik tentu akan mencatat perubahan tersebut.

Sebab masuk Istana bukanlah bukti bahwa seorang kritikus telah kehilangan kebebasan.

Tetap merdeka setelah berada di dalam Istana—itulah pembuktian yang sesungguhnya.

Suwidodo/Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 6681
  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994