PIKI AWARDS 2026: Dari Penghargaan Menuju Aksi Nyata, 10 Tokoh dan Lembaga Diapresiasi atas Pengabdian bagi Bangsa
JAKARTA, INDONESIASATU928.COM — Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) menggelar PIKI Awards 2026, dengan mengusung tema “Terang Allah Membawa Kebenaran” yang merujuk pada Efesus 4:15. Acara yang disiarkan langsung di Metro TV, menjadi panggung apresiasi bagi tokoh dan lembaga yang dinilai menghadirkan kontribusi nyata dalam membangun, kehidupan bangsa, pada Minggu (25/10/2026), pukul 20.00 WIB.
Namun, PIKI Awards bukan semata-mata seremoni penyerahan penghargaan. Di tengah tantangan kebangsaan, mulai dari intoleransi, korupsi, persoalan pendidikan, ketimpangan ekonomi hingga krisis lingkungan, penghargaan ini membawa pesan penting: integritas dan pengabdian harus dibuktikan melalui kerja nyata yang manfaatnya dirasakan masyarakat.
Sebanyak delapan kategori penghargaan diberikan, meliputi toleransi, riset dan inovasi, kesehatan, kebudayaan, lingkungan hidup, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pendidikan, serta antikorupsi. Selain itu, dua apresiasi khusus diberikan kepada lembaga filantropi dan penggiat kebebasan beribadah.


Sepuluh Penerima Penghargaan, Sepuluh Jejak Pengabdian
PIKI Awards 2026 memberikan penghargaan kepada figur-figur dengan latar belakang dan bidang pengabdian yang beragam.
Di bidang toleransi, Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., diapresiasi atas kiprahnya membangun keberagaman di Maluku. Wilayah yang pernah mengalami konflik komunal tersebut terus berupaya memperkuat kerukunan dan kehidupan bersama lintas agama.
Pada kategori riset dan inovasi, penghargaan diberikan kepada Prof. (H.C.) Dr. Carina Citra Dewi Joe, B.Sc., M.Sc., Ph.D., atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi vaksin, termasuk keterlibatannya dalam pengembangan vaksin COVID-19 AstraZeneca.
Sementara itu, kategori kesehatan diberikan kepada dr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D., Sp.B., Sp.BTKV. Pendiri Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE ini dikenal melalui pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas medis, termasuk melalui rumah sakit apung dan program Dokter Terbang.
Di bidang kebudayaan, Dr. Bambang Noorsena, S.H., B.A., M.H., menerima penghargaan atas kajian dan pengabdiannya dalam menggali warisan iman serta tradisi lintas bangsa.
Penghargaan lingkungan hidup diberikan kepada Saptoyo, penggerak konservasi pesisir Sendangbiru, yang sejak 1998 mengembangkan upaya konservasi mangrove, perlindungan terumbu karang, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Di sektor ekonomi, Gusti Ngurah Anom atau Ajik Krisna diapresiasi atas kiprahnya dalam mengembangkan usaha di Bali yang turut membuka ruang pemasaran bagi produk UMKM lokal.
Pada kategori pendidikan, Saur Marlina Manurung atau Butet Manurung mendapat penghargaan atas pendirian Sokola Rimba di Jambi. Program pendidikan kontekstual tersebut mendampingi masyarakat adat agar memperoleh akses pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kehidupan mereka.
Adapun penghargaan antikorupsi diberikan secara anumerta kepada Prof. Dr. Artidjo Alkostar, mantan hakim agung yang dikenal karena ketegasan dan kesederhanaannya dalam penegakan hukum. Ia juga pernah mengabdi sebagai anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Dua apresiasi khusus melengkapi malam penganugerahan tersebut. Yayasan Buddha Tzu Chi menerima apresiasi sebagai lembaga filantropi atas kegiatan kemanusiaan lintas suku, agama, dan golongan. Sementara itu, Gugun Gumilar, Ph.D., mendapat apresiasi sebagai penggiat kebebasan beribadah atas konsistensinya memperjuangkan jaminan konstitusional kebebasan beragama dan kehadirannya di tengah masyarakat multikultural.
Penjurian Terbuka, Integritas Menjadi Tolok Ukur
PIKI menyatakan proses penjaringan dan penjurian dilakukan secara terbuka melalui jejaring organisasi, bekerja sama dengan lembaga survei independen Indikator. Lebih dari 30 juri dilibatkan pada setiap kategori, dengan latar belakang dan kompetensi sesuai bidang penilaian.
Penilaian didasarkan pada empat dimensi utama, yakni integritas, inovasi, dampak, dan keberlanjutan.
Keempat aspek tersebut menjadi penting karena sebuah penghargaan idealnya tidak berhenti pada popularitas atau pencapaian sesaat. Rekam jejak, manfaat yang dihasilkan, serta keberlanjutan kontribusi merupakan bagian penting dalam menilai arti pengabdian bagi masyarakat.
Maruarar Sirait: PIKI Harus Berdiri di Atas Kekuatan Sendiri
Ketua Umum DPP PIKI Maruarar Sirait menegaskan bahwa PIKI Awards 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian organisasi, integritas, dan semangat pelayanan kepada bangsa dengan mengandalkan Tuhan Yesus.
“Ini jadi momentum bahwa apa yang kita kerjakan selama empat bulan ini, bagaimana kita bisa berdiri di atas kekuatan sendiri, di kaki sendiri dengan mengandalkan Tuhan Yesus. Itu spirit yang kita bangun. Kita dididik Tuhan jadi kepala bukan ekor, baik kepala dalam iman, dalam pekerjaan dan apa pun itu,” ujar Maruarar.
Ia menjelaskan, selama periode tersebut PIKI telah menggelar sejumlah kegiatan strategis, antara lain Seminar Nasional Kesehatan di Bandung, Seminar Nasional Dana Bagi Hasil di Tentena, Poso, Simposium Energi Nasional di UPH Karawaci, Banten, serta Seminar Nasional Hukum di Balai Kartini, Jakarta.
PIKI juga mengadakan berbagai diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas isu dan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Dalam bidang kemanusiaan, organisasi tersebut turut memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana banjir di Sumatera Utara dan wilayah lainnya, gempa bumi di Flores, serta kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya dan Pontianak.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa peran organisasi intelektual tidak cukup hanya menghasilkan gagasan. Pemikiran perlu diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan, pendampingan masyarakat, dan aksi kemanusiaan yang konkret.

Rekomendasi Energi dan Hukum Mendapat Respons Pemerintah
Maruarar juga menyampaikan bahwa dua rekomendasi PIKI telah diterima dan mendapat respons positif dari pemerintah.
Rekomendasi pertama berasal dari Simposium Nasional Energi, antara lain mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) serta mengutamakan penyediaan listrik bagi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Maruarar, rekomendasi tersebut diterima Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri yang membidangi hilirisasi dan transisi energi, Bahlil Lahadalia. Pemerintah juga disebut mengajak PIKI berkolaborasi dalam program hilirisasi.
Rekomendasi kedua berasal dari Seminar Nasional Hukum yang diterima langsung oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin. Salah satu isu yang disampaikan berkaitan dengan mekanisme kepailitan untuk penyelesaian secara kolektif bagi korban tindak pidana.
Kedua rekomendasi tersebut memperlihatkan ruang kontribusi organisasi masyarakat dalam proses perumusan kebijakan publik. Meski demikian, tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan yang telah disampaikan benar-benar ditindaklanjuti melalui kebijakan dan pelaksanaan yang terukur.
Target Lima Tahun: Organisasi Kredibel dan Melahirkan SDM Berkualitas
Maruarar menyampaikan bahwa dalam dua bulan ke depan, Barita Simanjuntak akan mempersiapkan pembentukan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PIKI di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menekankan bahwa pengembangan organisasi harus dilakukan melalui semangat gotong royong, visi dan misi yang jelas, serta tata kelola yang sehat.
“Saya ingin PIKI mencapai keemasan dalam lima tahun ke depan. Ukurannya dapat dipercaya, berdampak, bicara dan bisa melahirkan SDM yang berkualitas,” tegasnya.
Maruarar juga berharap PIKI dapat melahirkan tokoh-tokoh berintegritas seperti Johannes Leimena, T.B. Simatupang, Radius Prawiro, Sabam Sirait, dan Peter Sumbung.
Ia menegaskan bahwa perjuangan PIKI tidak terbatas untuk umat Kristen, melainkan untuk seluruh masyarakat Indonesia.
“Perjuangan kita bukan hanya untuk umat Kristen tetapi juga untuk semua masyarakat,” tandasnya.
Kasih dan Kebenaran Harus Terbukti dalam Tindakan
Semangat Ad Caritas Et Veritas atau “Demi Kasih dan Kebenaran” menjadi landasan moral yang ingin ditegaskan PIKI melalui penganugerahan tersebut.
PIKI merupakan organisasi kemasyarakatan berbasis Kristiani yang berdiri pada 19 Desember 1963 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari pergumulan kaum intelektual Kristen dalam merespons dinamika kehidupan bangsa dan berupaya menjembatani dunia gereja, akademik, serta masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Untuk masa bakti 2026–2031, PIKI dipimpin Maruarar Sirait, S.IP., sebagai Ketua Umum dan Drs. Benyamin Patondok, M.M., sebagai Sekretaris Umum.
Melalui PIKI Awards 2026, organisasi ini berharap keteladanan para penerima penghargaan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya, menjaga integritas, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah penghargaan bukan hanya siapa yang berdiri di atas panggung atau menerima plakat. Ukuran sesungguhnya adalah seberapa jauh nilai-nilai yang diperjuangkan mampu diwujudkan menjadi perubahan yang nyata, adil, dan berkelanjutan.
Sebab, terang kebenaran tidak cukup hanya disuarakan. Terang itu harus hadir dalam tindakan, dirasakan oleh masyarakat, dan menjadi warisan kebaikan bagi generasi mendatang.
Suwidodo/INDONESIASATU928.COM





Tinggalkan Balasan