Ungkapan Jawa “Pendopo Kendali Roso” yang Anda tulis itu sangat dalam—seperti ajakan untuk menata batin agar hidup tetap seimbang di tengah perubahan zaman.
Maknanya bisa dirangkai seperti ini:
Pendopo Kendali Roso
Ibarat “pendopo” (ruang terbuka tempat menerima tamu), hati manusia adalah tempat segala rasa masuk dan keluar. Maka “kendali roso” berarti kemampuan mengelola perasaan, pikiran, dan reaksi hidup dengan bijaksana.
Lalu wejangan utamanya:
Ojo Gumunan
Jangan mudah terheran-heran atau silau.
Artinya, tidak gampang terpukau oleh hal-hal baru, kekayaan, jabatan, atau popularitas. Tetap tenang dan jernih melihat segala sesuatu.
Ojo Kagetan
Jangan mudah kaget atau panik.
Dalam situasi sulit atau perubahan mendadak, tetap stabil, tidak reaktif berlebihan.
Ojo Dumeh
Jangan mentang-mentang.
Tidak sombong karena kekuasaan, kepandaian, atau keberhasilan. Tetap rendah hati.
Penutupnya:
“Sing eling, awas lan waspodo”
Selalu ingat (eling), berhati-hati (awas), dan waspada (waspodo).
Ini inti dari pengendalian diri: sadar diri, sadar situasi, dan sadar batas.
Kalau diringkas, falsafah ini mengajarkan:
Hidup yang matang adalah hidup yang tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan, tidak sombong saat di atas, dan tidak goyah saat di bawah.


Tinggalkan Balasan