, , ,

Guru Jadi Agen Peradaban di Tengah Gempuran AI, Kemendikdasmen Dorong Sekolah Aman dan Nyaman

JAKARTA – Kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah wajah pendidikan. Namun, teknologi tidak boleh membuat sekolah kehilangan sentuhan manusia.

Di tengah kemampuan AI yang semakin luas dalam mengolah pengetahuan dan informasi, guru justru dituntut tampil sebagai agen peradaban—bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi menjadi teladan, pembentuk karakter dan penghubung antarmanusia.

Pesan itu mengemuka dalam Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman”, Jumat (2/10/2026) malam.

 

Kegiatan tersebut digelar Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Institut Leimena dalam rangka menyambut Hari Guru Sedunia 5 Oktober dan Hari Guru Nasional 25 November.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, tugas guru tidak berhenti pada kegiatan belajar-mengajar.

«“Guru punya peran yang lebih tinggi dari sekadar agent of learning, tapi menjadi agent of civilization, menjadi agen dalam membangun peradaban.”»

Menurut Abdul Mu’ti, substansi pendidikan adalah membangun manusia, karakter dan peradaban.

Peserta didik, kata dia, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan. Mereka juga perlu memiliki sikap, kepribadian dan komitmen untuk menghargai serta memuliakan sesama.

AI Makin Canggih, Guru Tetap Dibutuhkan

Perkembangan AI membuat akses terhadap pengetahuan menjadi semakin mudah. Namun, kemampuan mesin tidak otomatis menggantikan hubungan manusia.

Hal itu juga menjadi perhatian Institut Leimena.

Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan, salah satu dimensi pendidikan yang sulit digantikan teknologi adalah hubungan antarmanusia.

Ia merujuk pada pembahasan UNESCO mengenai masa depan pendidikan di tengah perkembangan AI.

Menurut Matius, bertambahnya pengetahuan melalui teknologi tidak otomatis membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih baik.

“Dimensi hubungan antarmanusia ini menjadi semakin penting di tengah kemajuan AI,” katanya.

Matius menegaskan bahwa pendidikan pada akhirnya bukan proses mencetak robot.

«“Karena kita memang bukan mendidik robot, tapi manusia.”»

Guru, menurut dia, memiliki posisi penting dalam membantu murid menghadapi stereotip, prasangka dan ketakutan terhadap orang yang berbeda agama, kepercayaan maupun latar belakang budaya.

Di sinilah interaksi langsung antara guru dan murid menjadi penting: mendengar, memahami, memberi teladan dan membangun empati.

Sekolah Tak Cukup Aman Secara Fisik

Kemendikdasmen saat ini mendorong penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mendefinisikan BSAN sebagai tata nilai, sikap, kebiasaan dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah untuk menjamin kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural serta dan keamanan digital.

Regulasi tersebut ditetapkan 8 Januari 2026 dan mulai berlaku sejak 9 Januari 2026. Aturan ini sekaligus mencabut Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023.

Artinya, konsep sekolah aman tidak lagi semata-mata berkaitan dengan pagar, gedung atau keamanan fisik.

Keamanan psikologis, sosial, spiritual dan digital juga menjadi bagian dari lingkungan pendidikan.

Abdul Mu’ti menekankan penggunaan kata “budaya” memiliki arti penting. Sekolah tidak cukup memiliki aturan tertulis jika nilai-nilai tersebut tidak menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah diharapkan menjadi meeting point sekaligus melting point bagi peserta didik yang datang dari berbagai latar belakang.

Perbedaan agama, budaya dan kondisi sosial tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi ruang pembelajaran untuk membangun toleransi, keterbukaan dan kerja sama.

Guru Dituntut Punya Kepekaan Sosial

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Ditjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Arif Jamali Muis, mengatakan BSAN tidak dapat dibangun hanya melalui aturan.

Budaya tersebut harus dirasakan murid dalam pengalaman sehari-hari.

Karena itu, guru juga perlu memiliki kemampuan memahami kondisi sosial dan emosional peserta didik.

«“Setiap guru perlu memiliki sentuhan ‘BK’ (bimbingan konseling) ketika berinteraksi dengan murid,” kata Arif.»

Menurutnya, guru perlu mengenali potensi murid, membantu mengelola emosi, menumbuhkan daya lenting, membangun komunikasi empatik dan menciptakan situasi belajar yang aman.

Dengan demikian, murid tidak hanya dilihat berdasarkan nilai akademik, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki kebutuhan sosial dan emosional.

UNESCO: Jangan Sampai Guru Digantikan Mesin

Chief of Education UNESCO Jakarta, Santosh Khatri, menegaskan bahwa AI seharusnya digunakan untuk memperkuat kemampuan guru, bukan menggantikannya.

UNESCO sendiri menempatkan guru di pusat perubahan pendidikan akibat AI dan menekankan pentingnya hubungan manusia yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi. UNESCO juga menyebut dunia membutuhkan sekitar 44 juta tambahan guru hingga 2030 untuk mencapai target pendidikan universal.

Khatri menjelaskan, AI dapat membantu mengurangi beban administratif dan mendukung perencanaan pembelajaran.

Namun, guru memiliki kemampuan membaca kondisi murid yang tidak selalu dapat dilakukan mesin.

Bahkan ketika seorang anak tidak mengatakan apa-apa, guru yang mengenal muridnya dapat menangkap perubahan perilaku dan memahami kemungkinan persoalan yang sedang dihadapi.

UNESCO, kata Khatri, telah mengembangkan kerangka kompetensi AI bagi guru yang mencakup pola pikir berpusat pada manusia, penggunaan AI secara etis, dasar dan aplikasi AI, pedagogi AI serta AI untuk pengembangan profesional.

LKLB Sudah Jangkau 12 Ribu Guru

Matius Ho mengatakan Institut Leimena mendukung BSAN karena keberhasilan pendidikan membutuhkan ekosistem yang melibatkan sekolah, keluarga, pemerintah dan masyarakat.

Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) disebut telah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik dari 38 provinsi dalam lima tahun pelaksanaannya.

Pendekatan yang digunakan antara lain perjumpaan dan dialog lintas budaya serta lintas agama.

Pengalaman tersebut dinilai penting karena toleransi tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori.

Peserta didik perlu mengalami perjumpaan langsung dengan mereka yang memiliki latar belakang berbeda.

Sekolah Kristen Gandeng Madrasah

Pengalaman tersebut dibagikan Yonathan Djalimun, Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal Semarang sekaligus alumni Program LKLB.

Menurut Yonathan, sekolah berbasis agama memiliki tantangan tersendiri karena peserta didiknya cenderung berasal dari lingkungan yang relatif homogen.

Karena itu, Sekolah Kristen Tritunggal Semarang mengembangkan kegiatan kokurikuler melalui kolaborasi dengan madrasah.

“Dengan berkolaborasi dengan madrasah melakukan kunjungan antarsiswa,” ujarnya.

Model perjumpaan tersebut membuat peserta didik tidak hanya mengenal keberagaman melalui buku, tetapi mengalami interaksi secara langsung.

BSAN Jangan Berhenti di Atas Kertas

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menegaskan BSAN bukan sekadar program administratif.

Menurutnya, budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan fondasi proses pembelajaran.

Ketika murid merasa dihargai, memiliki hubungan baik dengan guru dan teman, serta berani bertanya dan berpendapat, proses belajar akan berlangsung lebih sehat.

Kemendikdasmen juga menegaskan BSAN dibangun melalui keterlibatan warga sekolah, orang tua, masyarakat dan media.

Dengan kata lain, sekolah aman bukan pekerjaan satu pihak.

Belajar dari Wilayah Bekas Konflik

Webinar internasional tersebut juga menghadirkan Meriam Alug-Macalangcom, mantan konsultan kurikulum di Kementerian Pendidikan, Tinggi, dan Teknis Wilayah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao.

Meriam membagikan pengalaman membangun pendidikan di wilayah yang memiliki sejarah konflik serta tantangan dalam membangun pendidikan yang mendorong perdamaian dan toleransi.

Sementara Dr. H. Muh. Suaib Tahir, Lc., MA, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad, turut memberikan perspektif mengenai pembentukan guru yang toleran di tengah keberagaman.

Diskusi tersebut dimoderatori Lisa Vebrianti Kano.

Tantangan Pendidikan Kini Bukan Sekadar AI

Dari seluruh pembahasan, satu persoalan menjadi jelas: tantangan pendidikan di era AI bukan hanya bagaimana guru menguasai teknologi.

Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan tanpa menghilangkan sisi kemanusiaan pendidikan.

AI dapat membantu mencari informasi, mengolah data, menyusun materi dan meringankan pekerjaan administratif.

Tetapi empati, keteladanan, kepedulian, kemampuan membaca emosi serta membangun hubungan sosial tetap membutuhkan manusia.

Karena itu, guru menghadapi tuntutan ganda: melek teknologi sekaligus semakin manusiawi.

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 sendiri menempatkan keamanan fisik, psikologis, sosiokultural, spiritual dan digital sebagai bagian dari budaya sekolah.

Di tengah gempuran AI, sekolah akhirnya menghadapi pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar “seberapa canggih teknologi yang digunakan?”

Pertanyaannya adalah: manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh pendidikan?

Dan di titik itulah guru tetap memegang peranan penting—bukan sebagai pesaing mesin, melainkan sebagai manusia yang membentuk manusia lainnya.

Para narasumber webinar:

– Abdul Mu’ti — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

– Matius Ho — Direktur Eksekutif Institut Leimena.

– Rusprita Putri Utami, S.E., M.A. — Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI.

– Santosh Khatri — Chief of Education UNESCO Jakarta.

– Arif Jamali Muis, M.Pd. — Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen RI.

– Yonathan Djalimun — Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal Semarang.

– Meriam Alug-Macalangcom — mantan konsultan kurikulum Bangsamoro.

– Dr. H. Muh. Suaib Tahir, Lc., MA — Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad.

– Lisa Vebrianti Kano — moderator.

Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, dunia pendidikan menghadapi tantangan untuk tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran. Teknologi dapat membantu guru, tetapi tidak menggantikan keteladanan, empati dan sentuhan kemanusiaan.

Karena itu, sekolah aman dan nyaman bukan sekadar slogan atau aturan di atas kertas. Ia harus menjadi budaya yang dirasakan setiap hari oleh guru dan peserta didik. Di tengah gempuran teknologi, guru tetap menjadi agen peradaban yang membentuk karakter dan masa depan generasi bangsa.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 6681
  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994