, , ,

Pelatihan LKLB Angkatan ke-83

Pelatihan LKLB Angkatan ke-83: Guru Katolik Didorong Tanamkan Iman Inklusif dan Semangat Toleransi

JAKARTA, Indonesiasatu928.com — Peran guru agama dinilai semakin penting dalam membentuk generasi muda yang teguh dalam iman sekaligus terbuka terhadap perbedaan. Melalui Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) angkatan ke-83, sebanyak 167 guru agama Katolik dari berbagai provinsi di Indonesia dibekali pemahaman untuk membangun dialog, memperkuat toleransi, dan menumbuhkan kerja sama lintas agama.

Foto bersama para narasumber dan peserta Pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) angkatan ke-83 yang diikuti 167 guru agama Katolik dari berbagai provinsi di Indonesia

Pelatihan yang berlangsung pada 12–14 Oktober 2026 ini diselenggarakan Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAR) Atma Reksa Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), bekerja sama dengan Institut Leimena. Program LKLB sendiri telah berjalan sejak 2021 dan menjangkau lebih dari 12.000 guru dari 38 provinsi di Indonesia.

Uskup Agung Ende, Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, yang juga menjadi anggota Dikasteri untuk Evangelisasi di Vatikan, menegaskan bahwa pendidikan iman tidak boleh berhenti pada penguatan keyakinan pribadi. Guru juga memiliki tanggung jawab menanamkan penghormatan terhadap sesama yang berbeda agama dan kepercayaan.

“Para guru mempunyai peran besar untuk menanamkan dalam diri orang-orang muda kita kedalaman keyakinan imannya sendiri, serentak keterbukaan untuk menghargai orang lain dengan keyakinan yang berbeda,” kata Mgr. Paulus dalam ceramah kunci bertajuk Guru dan Keterbukaan Lintas Agama: Perspektif Katolik.

Momentum Memperkuat Dialog Antaragama

Mgr. Paulus menjelaskan, pelaksanaan pelatihan pada Oktober memiliki relevansi tersendiri karena berdekatan dengan peringatan 40 tahun pertemuan para pemimpin lintas agama di Assisi, Italia, yang diprakarsai Paus Yohanes Paulus II pada 27 Oktober 1986 sebagai upaya bersama mendoakan perdamaian dunia.

Pada tahun ini, kegiatan doa bersama di Assisi dijadwalkan dihadiri Paus Leo XIV. Selain itu, bulan Oktober juga menjadi momentum untuk merefleksikan Nostra Aetate, deklarasi Konsili Vatikan II tentang hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama lain, yang disahkan pada 28 Oktober 1965.

Menurut Mgr. Paulus, kedua momentum tersebut mengingatkan bahwa agama tidak seharusnya dipandang sebagai sumber konflik semata. Sebaliknya, agama dapat menjadi kekuatan moral untuk membangun perdamaian dan memperkuat persaudaraan manusia.

“Kita hanya bisa memastikan masa depan saling menghormati dan kerja sama antaragama jika kita bisa mendidik generasi muda kita dengan semangat ini. Dialog tidak cukup dibicarakan, tetapi harus disediakan peluang dan kesempatannya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan adanya tantangan berupa heterophobia, yakni ketakutan atau penolakan terhadap pihak yang berbeda, serta autophobia, yang dalam konteks paparannya berkaitan dengan ketakutan atau penolakan terhadap identitas diri sendiri.

Tantangan lainnya adalah sikap diam atau ketidakpedulian masyarakat ketika terjadi tindakan diskriminatif, seperti perusakan rumah ibadah maupun pembubaran kegiatan ibadah. Sikap membiarkan tindakan tersebut berisiko membuat pelaku merasa memperoleh pembenaran.

Agama Harus Membela Martabat Manusia

Mgr. Paulus mendorong berkembangnya konsep agama yang bersifat resurektif, yakni agama yang menjadi sumber inspirasi untuk memperjuangkan peningkatan kualitas hidup manusia sekaligus menjaga kelestarian alam.

Menurutnya, menghidupi ajaran agama bukan hanya berkaitan dengan menjaga kemurnian ritus dan menegakkan ajaran, melainkan juga memperjuangkan martabat manusia yang tertekan oleh persoalan ekonomi, paksaan sosial, maupun kepentingan politik.

“Ia tidak sekadar berjuang menegakkan ajaran agama dan menjaga kemurnian ritus, tapi terutama menegakkan manusia yang bungkuk karena tertindih tekanan ekonomi, paksaan sosial, dan kamuflase politik, serta memurnikan keluhuran martabat manusia,” katanya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan semestinya hadir dalam tindakan nyata, terutama dalam membela mereka yang mengalami ketidakadilan dan mendorong kehidupan masyarakat yang lebih manusiawi.

Dialog Lintas Agama untuk Membangun Perdamaian

Cendekiawan Muslim sekaligus mantan Menteri Luar Negeri RI, Alwi Shihab, turut menyoroti pentingnya keterbukaan dalam hubungan antaragama. Ia menjelaskan bahwa melalui Nostra Aetate, Gereja Katolik membuka ruang dialog, membangun saling pengertian, dan memandang agama-agama lain secara positif.

Alwi juga menyinggung berbagai inisiatif dialog lintas agama dalam konteks Islam, termasuk surat terbuka A Common Word Between Us and You yang diluncurkan pada 13 Oktober 2007 oleh 138 tokoh Muslim terkemuka dari berbagai negara.

Inisiatif tersebut menjadi salah satu upaya membangun titik temu antara umat Islam dan umat Kristen dalam menjunjung nilai-nilai bersama, termasuk kasih kepada Tuhan dan sesama manusia.

Ia juga mengingatkan pertemuan Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed Al-Tayeb, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2019. Pertemuan tersebut menghasilkan dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama.

Dalam konteks pendidikan, Alwi menjelaskan bahwa LKLB membekali guru dengan tiga kompetensi utama, yakni kompetensi pribadi, komparatif, dan kolaboratif.

Kompetensi pribadi membantu pendidik mendalami ajaran agamanya sendiri. Kompetensi komparatif mendorong pemahaman terhadap persamaan dan perbedaan dengan pemeluk agama lain. Sementara kompetensi kolaboratif menekankan kemampuan membangun kerja sama untuk kesejahteraan bersama.

Pendidikan Menjadi Kunci Merawat Keberagaman

Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, mengatakan guru dan pendidik memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati, sikap kritis, serta kemampuan membangun relasi yang sehat di tengah keberagaman.

“Melalui LKLB, kita diajak memahami bahwa mengenal agama dan budaya lain tidak berarti mengurangi kesetiaan kita terhadap iman sendiri. Justru dengan memahami orang lain secara lebih baik, kita dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka, mengurangi perselisihan, dan menemukan ruang untuk bekerja sama demi kebaikan bersama,” kata Daniel.

Ia menegaskan bahwa kemampuan berdialog dan menghormati keberagaman harus ditumbuhkan melalui proses pendidikan yang berkelanjutan, bukan sekadar disampaikan sebagai teori di ruang kelas.

Sejak 2021, menurut Daniel, program LKLB telah diikuti lebih dari 12.000 guru dari 38 provinsi di Indonesia melalui kemitraan dengan 40 lembaga pendidikan dan keagamaan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Nikolaus Nama Payon, mengingatkan bahwa Ende memiliki arti penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Kota tersebut menjadi tempat pengasingan Bung Karno, yang kemudian melakukan perenungan mengenai masa depan bangsa dan dasar filosofis Indonesia merdeka.

Menurut Nikolaus, sejarah tersebut mengajarkan bahwa persatuan nasional tidak dibangun dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan menemukan nilai-nilai bersama yang memungkinkan seluruh masyarakat hidup berdampingan secara bermartabat.

“Persatuan bangsa tidak dibangun dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan menemukan nilai-nilai bersama yang memungkinkan setiap orang hidup berdampingan secara bermartabat,” ujarnya.

Menanamkan Iman, Menguatkan Persaudaraan

Pelatihan LKLB angkatan ke-83 menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia yang majemuk. Keteguhan iman dan keterbukaan terhadap sesama bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan beriringan.

Melalui guru yang memiliki literasi keagamaan lintas budaya, nilai toleransi diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh dalam perilaku, proses pembelajaran, dan kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan agama tidak hanya terlihat dari seberapa dalam generasi muda memahami keyakinannya sendiri, tetapi juga dari kemampuannya menghormati sesama, menolak diskriminasi, dan bekerja bersama demi perdamaian serta kemanusiaan.

Suwidodo/Indonesiasatu928.com — Kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab dalam pemberitaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 6681
  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994