Sambeng, Bojonegoro — 3 Agustus 2025, Di tengah arus modernisasi yang makin kencang, masyarakat Desa Sambeng, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro, tetap teguh menjaga tradisi leluhur. Salah satunya adalah manganan , dikenal juga sebagai selamatan desa — sebuah ritual budaya dan spiritual tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan keselamatan seluruh warga.
Tahun ini, manganan digelar pada Sabtu, 2 Agustus 2025, dengan pusat kegiatan di Punden Mbah Pengeran, tempat keramat yang diyakini sebagai situs awal mula desa. Di lokasi yang sarat makna ini, warga berkumpul untuk berdoa bersama dan mempersembahkan hasil bumi serta tumpeng, simbol rasa syukur dan harapan.
Untuk memastikan kelancaran dan ketertiban acara, sebanyak 30 personel satuan keamanan dan ketertiban desa disiagakan penuh. Beberapa nama yang dikenal aktif dan disorot media dalam pengamanan tradisi ini antara lain Andi, Slamet, dan Rusnanto. Mereka bersama rekan-rekannya bahu-membahu menjaga ketertiban sejak prosesi awal di punden hingga puncak acara kenduri desa.
Menurut Slamet Hatiyadi, salah satu tokoh masyarakat dan koordinator keamanan, manganan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bagian dari napas hidup warga desa. “Manganan adalah warisan jiwa. Ia menyatukan warga, mengikat generasi, dan mengajarkan kita untuk tidak melupakan asal-usul. Di Punden Mbah Pengeran ini, kita belajar tentang syukur, hormat, dan harapan,” katanya.
Setelah prosesi doa dan persembahan di punden, warga mengarak sesaji menuju balai desa, tempat digelarnya malem tasyakuran, dilanjutkan esok harinya (Minggu) dengan kenduri bersama. Acara ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni seperti ketoprak, serta berbagai kegiatan budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga para sesepuh.
Menariknya, tradisi ini terus berkembang seiring zaman. Kaum muda Desa Sambeng mulai mengambil peran aktif, baik dalam kepanitiaan maupun penyelenggaraan acara. Mereka menjadikan manganan bukan sekadar seremoni masa lalu, tetapi ruang belajar nilai-nilai kehidupan seperti gotong royong, kebersamaan, dan kesadaran ekologis.
Manganan juga memiliki kesamaan makna dengan tradisi lain di berbagai daerah , dikenal sebagai tasyakuran desa, kenduri desa, atau nyadran. Meski berbeda istilah, semuanya merayakan hal yang sama: rasa syukur dan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Seperti kata para orang tua di Sambeng, “Manganan masih jadi kenangan sepanjang jaman. Di sanalah kita selalu pulang, menyatu, dan merasa lengkap sebagai satu keluarga desa.”
Tumpeng disusun hasil panenan, Dihidangkan untuk satu tujuan.
Syukur dipanjatkan penuh harapan, Agar Sambeng damai dan aman.
Burung prenjak hinggap di dahan, Hujan reda turun gerimis.
Warga Sambeng erat bersatuan, Dalam tradisi yang manis dan harmonis.
Reporter: Suwidodo





Tinggalkan Balasan