, , , ,

Merawat Nalar Sehat, Merajut Peradaban Damai Dialog Kebangsaan STT IKAT Jakarta di Dies Natalis ke-40

JAKARTA,  — “Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kita kekurangan orang yang mau berpikir waras dan jernih.” Kalimat itu meluncur dari mulut Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, S.E., M.Tru., M.Si., saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Dialog Kebangsaan yang digelar Sekolah Tinggi Teologi (STT) IKAT Jakarta, di Auditorium STT IKAT Jl. Rempoa Bintaro Jakarta hari Kamis (25/9/2025) pukul 09.00-12.00 wib

Acara yang merupakan rangkaian Dies Natalis ke-40 STT IKAT itu mengambil tema “Merawat Nalar Sehat Bangsa demi Peradaban Damai.” Seminar berlangsung di Aula STT IKAT, Rempoa, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dengan moderator Dr. Ashiong Munthe, M.Pd., dan disiarkan secara daring melalui Zoom Meeting agar publik dari berbagai daerah dapat mengikuti.

Momentum Kebangsaan

Dalam sambutannya, pimpinan STT IKAT Pdt. Dr. Jimmy Lumintang, M.Th., MBA. menegaskan bahwa perayaan Dies Natalis kali ini tidak sekadar menandai usia lembaga pendidikan teologi, melainkan juga menjadi momentum kebangsaan. Menurutnya, tantangan bangsa saat ini bukan hanya ekonomi atau politik, tetapi juga soal menjaga kesehatan berpikir dalam kehidupan sosial yang semakin sarat polarisasi.

“Peradaban damai hanya bisa dibangun jika kita terbiasa berpikir sehat, kritis, dan rasional, tanpa kehilangan akar iman dan budaya. Dialog lintas iman seperti inilah yang menjadi kontribusi STT IKAT bagi bangsa,” ujarnya.

Pesan Arya Wedakarna

Senator DPD RI asal Bali yang juga dikenal sebagai tokoh muda Hindu itu menyoroti pentingnya generasi muda menjaga kewarasan berpikir di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan pergeseran budaya politik.

“Indonesia adalah bangsa besar yang berdiri di atas fondasi kebhinekaan. Jika generasi mudanya terjebak pada emosi, kebencian, dan polarisasi, kita akan mudah pecah. Karena itu, kita perlu merawat nalar sehat—rasionalitas yang berpadu dengan kebijaksanaan budaya. Itulah jalan menuju peradaban damai,” kata Wedakarna.

Ia juga mengingatkan bahwa keberagaman Indonesia bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang harus dijaga melalui sikap inklusif, keterbukaan, dan semangat persatuan. “Dialog kebangsaan seperti ini harus terus diperbanyak. Tidak hanya di kampus teologi, tetapi juga di semua ruang publik yang mencintai Indonesia,” tambahnya.

Pandangan Wartawan Nasrani

Ketua Umum Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia), Yusuf Mujiono, yang turut hadir, menilai kegiatan ini penting sebagai ruang merawat nalar sehat di tengah derasnya arus informasi.

“Wartawan sering berada di garis depan arus informasi. Kami melihat bahwa bangsa ini sangat membutuhkan jembatan komunikasi yang sehat, yang tidak memecah-belah, tetapi justru merajut persaudaraan. Dialog kebangsaan yang digagas STT IKAT ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana ruang akademik dapat berkontribusi bagi demokrasi yang lebih dewasa,” ujar Yusuf.

Menurutnya, media massa dan kalangan akademisi perlu bergandengan tangan dalam menjaga akal sehat publik. “Tanpa nalar sehat, berita bisa menjadi fitnah, dan percakapan publik bisa berubah menjadi konflik. Di sinilah peran kita bersama untuk mengawal peradaban damai,” tegasnya.

Diskusi Dinamis

Seminar berlangsung dinamis dengan tanya jawab interaktif. Para mahasiswa, dosen, serta audiens dari berbagai daerah yang mengikuti secara daring menyampaikan pandangan mereka mengenai kebangsaan, pendidikan, dan tantangan merawat demokrasi yang sehat.

Dr. Ashiong Munthe, M.Pd., yang memandu jalannya diskusi, menilai kegiatan ini berhasil mempertemukan perspektif akademisi, pemimpin agama, wartawan, dan tokoh publik dalam satu ruang percakapan yang konstruktif. “Ini cara kita belajar saling mendengar, agar nalar sehat tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi gerakan sosial,” ujarnya.

Jejaring untuk Indonesia Damai

Di penghujung acara, panitia menegaskan bahwa Dies Natalis ke-40 STT IKAT ingin meninggalkan jejak lebih dari sekadar perayaan. Kegiatan ini diharapkan memperkuat jejaring antar-kampus, antar-tokoh agama, wartawan, dan antar-generasi dalam membangun kesadaran kebangsaan.

STT IKAT, sebagai lembaga pendidikan teologi, menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan dialog lintas iman, ilmu, dan budaya. Tujuannya sederhana tetapi mendasar: agar Indonesia tetap tumbuh sebagai bangsa yang berpikir sehat dan melangkah menuju peradaban damai.

 

Reporter: Suwidodo 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *