JAKARTA, 4 Oktober 2025 — Forum Masyarakat (Formas) menggelar dialog interaktif bertajuk “MBG Bermanfaat untuk Siapa?” pada Sabtu (4/10/2025) di Rarampa Resto, Jalan Mahakam II No. 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Acara yang berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional lintas bidang.

Dialog menghadirkan Badan Hindayana, Kepala BGN, sebagai narasumber utama, dengan Jan S. Maringka, SH., MH., Presidium PNI, bertindak sebagai moderator sekaligus host acara.
Pemantik pertama, Yohanes Handojo Budhisedjati,S.H.,CCP., Ketua Umum Formas, menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat sipil dalam memahami manfaat MBG bagi publik luas. Diskusi kemudian diperkaya oleh pandangan Prof. Dr. Rer. Soc. R. Agus Sartono, MBA, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM sekaligus mantan Deputi Menko PMK RI, yang menyoroti dimensi kebijakan dan pembangunan berkelanjutan dalam implementasi MBG.
Sementara itu, Yohanes Globa Bebze, pamong pendamping masyarakat dari Papua, turut memberikan perspektif lapangan terkait relevansi MBG dalam pemberdayaan warga.
Forum Formas menegaskan bahwa dialog ini bukan sekadar forum diskusi kebijakan, melainkan ruang refleksi bersama — untuk menilai sejauh mana MBG benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat, serta bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat mendorong pemanfaatan MBG yang lebih tepat sasaran.
Pernyataan Ketua Umum Formas, Yohanes Handojo Budhisedjati
“Tidak bersatu satu dengan yang lain membuat kita semakin banyak menghadapi masalah. Karena itu, marilah kita belajar melihat setiap persoalan dengan kacamata yang positif — bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk mencari kemungkinan solusi terbaik,” ujarnya.
Ia juga menyinggung berbagai isu dan rumor yang beredar di masyarakat — mulai dari kabar tentang permintaan uang, tekanan, hingga gosip dari berbagai daerah seperti Ragunan, Porong, dan Yogyakarta.
“Dalam keadaan seperti ini, kita perlu menjaga hati dan pikiran agar tidak terombang-ambing oleh berita yang belum tentu benar. Dunia ini penuh dengan suara, tapi tidak semua suara membawa terang,” katanya.
Yohanes Handojo mengajak seluruh peserta untuk bersikap tenang dan bijak dalam menghadapi berbagai informasi yang muncul.
“Jangan terburu menolak atau menerima sebelum memahami dengan jelas duduk persoalannya. Mari kita gunakan waktu singkat ini untuk berbicara dari hati ke hati, memanggil nurani, dan menemukan harapan baru. Sebab setiap masalah bisa menjadi kesempatan — bila kita melihatnya dengan iman, kasih, dan akal sehat,” pungkasnya.

Pernyataan Yohanes Globa Bebze dari Papua
Dalam suasana yang hangat dan reflektif, Yohanes Globa Bebze menyampaikan pesan inspiratif:
“Hari ini kita mencoba mengumpulkan orang-orang hebat di Indonesia — mereka yang memiliki keyakinan, tekad, dan hati yang tulus untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Kita tidak sedang berbicara tentang hal-hal besar yang abstrak, tetapi tentang tindakan nyata yang berangkat dari hati dan kasih.”
Ia menyinggung isu “racun” — baik secara harfiah maupun simbolik — yang dapat merusak kehidupan bersama jika diabaikan.
“Kita semua diutus untuk mempersiapkan generasi. Seperti matahari yang terbit setiap pagi dalam diam namun memberi terang, demikian pula kita dipanggil untuk menjadi ‘matahari bagi Indonesia’ — menyinari dari Merauke hingga Jakarta,” ujarnya.
Sebagai seorang Katolik, Yohanes Globa menegaskan dasar moral perjuangan ini bersumber dari firman Tuhan:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Ia juga menautkannya dengan amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 34 ayat (2), yang menegaskan kewajiban negara dalam memajukan kesejahteraan dan memberdayakan masyarakat lemah.
“Berbicara tentang anak, gizi, dan pendidikan bukanlah hal kecil. Itu adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai penerima titipan Tuhan,” tegasnya.
Menutup pesannya, Yohanes Globa mengajak seluruh peserta untuk memandang MBG bukan sekadar program atau proyek, melainkan gerakan moral dan spiritual bagi bangsa.
“Bangsa ini ibarat kapal besar yang sedang berlayar di lautan luas. Kadang ombaknya tinggi, anginnya kencang. Tapi selama ada nakhoda yang setia, awak kapal yang bekerja, dan penumpang yang saling peduli, kapal ini — Indonesia kita — akan tetap berlayar menuju masa depan yang lebih cerah.
Mari kita berlayar bersama: dengan kasih sebagai layar, iman sebagai kompas, dan gotong royong sebagai tenaga penggerak. Tuhan masih bekerja di negeri ini, dan
kita semua adalah alat di tangan-Nya.”
Kami di Forum FORMAS tidak sekadar membahas persoalan, tetapi mencari solusi konkret. Karena itu, fokus kami bukan hanya pada masalah, melainkan pada upaya perbaikan sistem pengawasan pangan secara efektif dan berkelanjutan.
Salah satu solusi utama yang kami usulkan adalah pemanfaatan teknologi pengawasan berbasis digital.
Kami telah menelaah sejumlah SOP, dan ternyata sentuhan teknologi masih sangat minim. Padahal, teknologi saat ini sudah mampu: Melakukan analisis otomatis terhadap proses produksi dan distribusi, memberikan rekomendasi bagi pengambil kebijakan, serta memantau aktivitas secara real-time.
Teknologi yang kami maksud tidak mahal dan tidak rumit — cukup menggunakan kamera yang dapat merekam dan memantau aktivitas di dapur atau lokasi produksi. Sistem tersebut dapat mengidentifikasi: Siapa yang memasak, bahan apa yang digunakan, serta bagaimana proses pengolahan dilakukan.
Semua data itu dapat diproses secara cepat, menjadi dasar evaluasi dan tindak lanjut oleh pihak berwenang. Dengan demikian, pengawasan tidak lagi bergantung hanya pada laporan manual, tetapi berbasis bukti visual dan analitik yang objektif.
Kesimpulannya, pengawasan pangan harus dilakukan secara menyeluruh, baik di tingkat pusat maupun daerah, dengan dukungan teknologi sederhana yang efektif. Hanya dengan cara itulah kita dapat memastikan keamanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.
Salam Indonesia Hebat.
Reporter Suwidodo





Tinggalkan Balasan