, ,

Karhutla Mulai Muncul, BNPB Ingatkan Ancaman Bencana Ganda Jelang Kemarau 2026

JAKARTA – indonesiasatu928, Memasuki akhir dasarian pertama Maret 2026, ancaman bencana di Indonesia mulai menunjukkan pola bencana ganda. Di satu sisi, cuaca ekstrem masih memicu kerusakan di sejumlah wilayah. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai bermunculan seiring tanda-tanda datangnya musim kemarau lebih awal.

Tim dari BPBD Kabupaten Nunukan berjibaku memadamkan api yang membakar lahan di Desa Binusa, Kecamatan Nunukan pada Rabu (9/3).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian karhutla pada periode 9–10 Maret 2026 di beberapa daerah, yang sebagian besar dipicu aktivitas manusia.

Di Kabupaten Aceh Barat, dua hektar lahan terbakar di Gampong Alue Raya dan Gampong Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga, pada Senin (9/3) sekitar pukul 09.45 WIB. Kebakaran pertama kali diketahui dari laporan warga yang melihat kepulan asap dari area lahan.

Tim BPBD Aceh Barat bersama unsur TNI, Polri, dan masyarakat langsung bergerak ke lokasi melakukan pemadaman dan penyekatan api agar tidak meluas. Hingga Selasa (10/3) pagi, proses pemadaman masih terus dilakukan.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Gampong Glee Taron, Kecamatan Darul Imarah. Sekitar lima hektar perkebunan sawit dilaporkan terbakar pada Senin (9/3) pukul 06.05 WIB.

Satu unit armada pemadam dari Pos Peukan Bada dikerahkan BPBD Aceh Besar untuk mengatasi kebakaran tersebut. Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 09.50 WIB setelah petugas berjibaku hampir empat jam di lapangan.

Personil BPBD Luwu Timur melakukan asesmen pada rumah warga Desa Burau Pantai yang terdampak angin kencang pada Selasa (8/3)

Sementara itu, di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kebakaran lahan menghanguskan sekitar 9,5 hektar lahan milik warga di Desa Binusa, Kecamatan Nunukan. Kebakaran yang terjadi pada Senin petang (9/3) diduga dipicu pembakaran sampah oleh warga yang kemudian merambat ke lahan di sekitarnya.

Petugas BPBD Nunukan bergerak cepat setelah menerima laporan masyarakat. Api akhirnya berhasil dipadamkan pada pukul 23.00 WITA.

Cuaca Ekstrem Masih Terjadi

Di tengah munculnya karhutla, bencana hidrometeorologi basah masih terjadi di sejumlah daerah.

Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, hujan deras disertai angin kencang menerjang Desa Burau Pantai, Kecamatan Burau pada Minggu (8/3).

Sebanyak 19 kepala keluarga terdampak, dengan 16 rumah mengalami kerusakan. Rinciannya, tiga rumah rusak berat, enam rusak sedang, dan tujuh rusak ringan.

BPBD Luwu Timur telah melakukan asesmen lapangan serta pendataan bersama aparat desa dan kecamatan guna menyiapkan langkah penanganan lanjutan.

Kemarau Diprediksi Datang Lebih Awal

Situasi ini terjadi di tengah prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal, yakni mulai April 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.

Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat antara lain Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Kondisi ini membuat Indonesia berada pada fase transisi musim, yang sering memicu fenomena cuaca ekstrem sekaligus meningkatkan risiko kebakaran lahan.

BNPB mengingatkan bahwa sebagian besar kasus karhutla masih dipicu aktivitas manusia, seperti membuka lahan dengan cara membakar atau membakar sampah.

BNPB Ingatkan Kesiapsiagaan

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, angin kencang, hujan ekstrem, dan puting beliung yang masih mungkin terjadi dalam masa peralihan musim.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta tidak lengah terhadap ancaman karhutla dengan tidak membakar sampah, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta memastikan bara api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.

BNPB juga mengingatkan warga untuk menyiapkan tas siaga bencana, serta memantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan BMKG sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

(Donny G/Suwidodo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s