,

Konvensi Injil STT se-Indonesia: Menegaskan Supremasi Injil sebagai Fondasi Teologis Dunia Akademik

JAKARTA – indonesiasatu928,Injil Sekolah-Sekolah Tinggi Teologi Indonesia (KISSTTI) yang diselenggarakan oleh Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia menegaskan kembali bahwa Injil harus menjadi pusat teologi, fondasi akademik, dan orientasi pelayanan gereja di Indonesia.

Konvensi yang digelar di Aula John Calvin, Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Internasional ini secara resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Jeane Marie Tulung, Jumat (6/3/2026).

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Jeane Marie Tulung (tengah), berfoto bersama para pimpinan sekolah tinggi teologi, teolog, dan panitia dalam pembukaan Konvensi Injil Sekolah-Sekolah Tinggi Teologi Indonesia (KISSTTI)

Dalam perspektif teologis, konvensi ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali supremasi Injil sebagai pusat wahyu Allah dalam sejarah keselamatan. Dalam sambutannya, Jeane Tulung menekankan bahwa pendidikan teologi tidak boleh terjebak dalam sekadar aktivitas akademik, tetapi harus tetap berakar pada kebenaran Injil.

“Pendidikan teologi harus menjaga kesetiaan pada Injil Kristus, karena dari situlah gereja memperoleh identitas, arah misi, dan otoritas pelayanannya,” ujarnya.

Supremasi Injil sebagai Dasar Teologi

Dalam kerangka teologi Injili, supremasi Injil menunjuk pada pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah pusat pewahyuan Allah dan inti dari seluruh berita keselamatan. Injil bukan sekadar doktrin, melainkan kabar keselamatan yang membentuk iman, etika, dan misi gereja.

Keynote speaker konvensi, teolog dan penginjil Stephen Tong, menegaskan bahwa krisis terbesar gereja modern adalah ketika Injil tidak lagi menjadi pusat kehidupan gereja dan pendidikan teologi.

Menurut pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia tersebut, gereja dapat kehilangan arah ketika Injil digeser oleh kepentingan pragmatis, ritualisme, atau sekadar pendekatan sosial.

“Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Jika Injil tidak lagi menjadi pusat, maka gereja akan kehilangan jantung teologinya,” tegasnya.

Teologi Akademik yang Berakar pada Injil

Salah satu agenda penting konvensi adalah peluncuran buku “Supremasi Injil dalam Dunia Akademik.” Buku ini menegaskan bahwa Injil harus menjadi fondasi epistemologis dalam pendidikan teologi, yaitu sebagai dasar cara berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu teologi.

Buku tersebut merupakan karya kolaboratif para akademisi teologi Indonesia, antara lain Stevri Indra P. N. Lumintang, Benyamin F. Intan, Samuel B. Sijabat, Sonny Zaluchu, dan Arnold Tindas, dengan editor Antonius Natan.

Para penulis menegaskan bahwa teologi akademik yang setia pada Injil harus mampu mengintegrasikan keseriusan ilmiah dengan kesetiaan iman. Dengan demikian, penelitian teologi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga membentuk gereja yang hidup dalam kebenaran Injil.

Menjawab Tantangan Sekularisasi

Dalam sesi ilmiah, para akademisi juga menyoroti tantangan sekularisasi dalam dunia akademik teologi. Salah satunya disampaikan oleh Sonny Zaluchu yang menekankan pentingnya metodologi penelitian teologi berbasis Injil agar karya akademik tetap berakar pada Alkitab.

Sementara itu, Arnold Tindas menegaskan bahwa konvensi Injil menjadi ruang kolaboratif nasional untuk membangun diskursus teologi injili yang kokoh sekaligus relevan dalam konteks Indonesia yang majemuk.

Komitmen Menjaga Kemurnian Injil

Pada penghujung kegiatan, konvensi membacakan Pernyataan Konvensi Injil I BMPTKKI yang memuat 12 butir komitmen teologis untuk menjaga kemurnian Injil dalam kehidupan gereja dan pendidikan teologi di Indonesia.

Dokumen tersebut dirumuskan oleh tim yang dipimpin Welly Pandensolang bersama sekretaris Steven Palilingan dan sejumlah akademisi lainnya.

Konvensi kemudian ditutup dengan ibadah syukur yang dilayani tim dari STT Reformed Indonesia dengan pemberitaan firman Tuhan oleh Yuzo Adhinarta.

Melalui konvensi ini, BMPTKKI menegaskan bahwa pendidikan teologi di Indonesia dipanggil untuk tetap setia pada Injil, membangun gereja yang kokoh secara teologis, serta menghadirkan kesaksian Kristus bagi bangsa dan dunia.

(Suwidodo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s