JAKARTA, – Dinamika pasar modal Indonesia di tengah perubahan ekonomi global serta maraknya fenomena influencer investasi menjadi topik utama dalam diskusi publik nasional yang diselenggarakan oleh INAnews TV dan INAnews.co.id di Hotel 88 Fatmawati, Rabu (1/4/2026).

Forum yang dihadiri oleh kalangan akademisi, praktisi pasar modal, investor ritel, regulator, serta jurnalis ini mencoba memetakan tantangan sekaligus peluang yang dihadapi pasar modal Indonesia di tengah meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan investasi.
Diskusi dipandu oleh jurnalis ekonomi senior Lona Olavia, yang juga dikenal sebagai duta literasi keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam pengantarnya, Lona menekankan pentingnya meningkatkan literasi keuangan masyarakat agar pertumbuhan jumlah investor ritel dapat diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai risiko investasi.

Menurut Lona, dalam beberapa tahun terakhir pasar modal Indonesia mengalami peningkatan partisipasi yang signifikan dari investor ritel, khususnya dari kalangan generasi muda. Namun, peningkatan tersebut juga diiringi dengan tantangan baru, terutama terkait pengaruh media sosial terhadap perilaku investasi masyarakat.
“Di era digital saat ini, informasi mengenai investasi sangat mudah diakses. Namun, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar analisis yang kuat. Karena itu literasi keuangan menjadi sangat penting agar investor dapat mengambil keputusan secara rasional,” ujarnya.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki latar belakang berbeda, mulai dari praktisi pasar modal hingga ekonom. Ketua Umum Perkumpulan Profesi Pasar Modal Indonesia (PROPAMI) Aji Martono menyoroti pentingnya menjaga integritas industri pasar modal di tengah perubahan pola investasi masyarakat.
Menurut Aji, keberadaan influencer investasi di media sosial pada dasarnya tidak selalu berdampak negatif. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan bahkan manipulasi pasar.
“Influencer dapat berperan dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap investasi. Tetapi jika tidak disertai tanggung jawab dan transparansi, hal ini bisa memicu praktik yang merugikan investor,” kata Aji.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menyoroti faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas pasar modal Indonesia. Menurut Esther, volatilitas di pasar keuangan global masih menjadi tantangan besar bagi negara-negara berkembang.
Ketidakpastian ekonomi global, termasuk konflik geopolitik dan fluktuasi harga energi, dapat memicu perubahan arus modal internasional yang berdampak langsung terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Pasar modal Indonesia tidak berdiri sendiri. Setiap dinamika global, baik dari sisi geopolitik maupun ekonomi, dapat memengaruhi sentimen investor dan pergerakan pasar,” jelasnya.
Selain itu, praktisi hukum pasar modal Rahmat Aminuddin menekankan pentingnya memperkuat regulasi untuk mencegah praktik manipulasi pasar yang semakin kompleks di era digital.
Menurut Rahmat, beberapa kasus manipulasi saham yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa praktik tersebut sering melibatkan berbagai pihak dan memanfaatkan platform digital untuk mempengaruhi keputusan investor.
“Regulasi perlu terus diperkuat agar dapat menjawab tantangan baru, termasuk aktivitas promosi investasi di media sosial yang berpotensi menyesatkan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengawasan terhadap praktik seperti pump and dump menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pasar modal.
Diskusi tersebut juga menekankan bahwa pertumbuhan jumlah investor ritel harus diimbangi dengan penguatan edukasi dan literasi keuangan. Tanpa pemahaman yang memadai, investor pemula berpotensi menjadi korban dari praktik manipulasi pasar atau informasi investasi yang menyesatkan.
Selain itu, diskusi menyoroti pentingnya sosialisasi dan kode etik bagi pelaku industri agar menumbuhkan kepercayaan investor. Dengan edukasi yang berkelanjutan, masyarakat semakin sadar akan hak-hak mereka, prosedur pelaporan, serta risiko yang mungkin muncul dalam berinvestasi.
Ketua Umum PROPAMI, Ns. Aji Martono, menekankan bahwa peran regulator, edukasi, dan transparansi adalah kunci agar praktik investasi tetap sehat dan dapat diakses masyarakat luas. Investor ritel diingatkan untuk tidak terbuai janji cuan cepat dan selalu mengedepankan self-control serta proses pembelajaran dalam berinvestasi.
Sementara itu, praktisi hukum pasar modal, Rahmat Aminuddin, menambahkan bahwa pengawasan terhadap praktik manipulasi pasar di era digital semakin penting, mengingat maraknya promosi investasi melalui media sosial yang bisa menyesatkan investor.
Karena itu, kolaborasi antara regulator, pelaku industri, akademisi, serta media dinilai menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem investasi yang sehat dan transparan.
Melalui forum diskusi ini, para peserta berharap muncul rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia, sekaligus meningkatkan perlindungan bagi investor ritel di tengah dinamika ekonomi global dan pesatnya perkembangan teknologi digital.
Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang dialog bagi berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas dan integritas pasar modal nasional di masa depan.
Semoga diskusi publik ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa literasi keuangan, ketahanan energi, dan tanggung jawab sosial adalah fondasi penting bagi masa depan bangsa. Kolaborasi antara pemerintah, regulator, pelaku industri, akademisi, media, dan masyarakat harus terus diperkuat agar Indonesia memiliki ekosistem ekonomi yang sehat, transparan, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, tantangan ekonomi global, stabilitas pasar modal, hingga ketahanan energi bangsa hanya bisa kita hadapi dengan satu hal: kesadaran bersama. Pemerintah sudah membuat kebijakan, regulator memperkuat pengawasan, dan para ahli memberikan pandangan. Kini saatnya masyarakat mengambil peran dengan meningkatkan literasi, mengendalikan diri dalam berinvestasi, serta mendukung kebijakan yang bertujuan menjaga kepentingan bangsa. Jika kita berjalan bersama, Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kuat.
(Suwidodo)





Tinggalkan Balasan