JAKARTA – Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) Pimpinan Pusat Partai Gerindra menggelar Ibadah Bulanan GEKIRA dan Jumat Berbagi Kasih. Kegiatan berlangsung di Kantor Sekretariat PP GEKIRA, Jalan Cempaka Putih Timur No. 5–7, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Mengusung tema “Jadilah Berkat Bagi Sesama” yang diambil dari Amsal 11:25, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi jajaran GEKIRA untuk memperkuat kehidupan rohani sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial.
Dalam ibadah tersebut, Pdt. Petrus Kondorura, ST., M.Th., Direktur Nasional Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), dijadwalkan menyampaikan firman Tuhan.

Selain ibadah, agenda Jumat Berbagi Kasih menjadi bagian penting dari kegiatan. Semangat berbagi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui kepedulian dan aksi nyata kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kantor Sekretariat PP GEKIRA sendiri menjadi pusat kegiatan organisasi yang membawa semangat pelayanan dan kebersamaan. Hal tersebut sejalan dengan slogan GEKIRA, “Bergerak Jadi Berkat.”
Melalui kegiatan rutin ini, GEKIRA diharapkan semakin mampu membangun kebersamaan, memperkuat nilai-nilai kasih, serta mengambil bagian dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Jadilah berkat bagi sesama” tidak sekadar menjadi tema ibadah, tetapi juga menjadi pesan agar setiap langkah pelayanan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Pesan Firman: “Jadilah Berkat bagi Sesama”
Dalam ibadah bulanan GEKIRA dan Jumat Berbagi Kasih, pesan firman Tuhan menekankan pentingnya setiap orang menjadi berkat bagi sesama melalui kehidupan dan karunia yang dimilikinya.
Dalam penyampaiannya, Pdt. Petrus Kondorura menjelaskan bahwa Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) bukan merupakan gereja maupun bagian dari satu denominasi gereja tertentu, melainkan lembaga pelayanan yang memiliki keterkaitan dengan berbagai gereja.

“LPMI bukan gereja. LPMI adalah lembaga yang berkaitan dengan semua gereja. Kami bukan dari satu denominasi gereja, tetapi kami berkaitan dengan gereja-gereja,” ujarnya dalam khotbah.
Mengawali firman, jemaat diajak membaca Amsal 11:24-25 secara bersama-sama. Firman tersebut mengajarkan tentang prinsip memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.
> “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”
Menurut Pdt. Petrus, tema “Jadilah Berkat bagi Sesama” tidak semata-mata berbicara mengenai memberikan uang atau materi. Lebih dari itu, menjadi berkat berarti memberikan seluruh kehidupan, waktu, tenaga, perhatian, kemampuan dan karunia yang telah Tuhan berikan.
“Ketika kita melihat konteks ini, firman Tuhan berbicara tentang bagaimana kita memberi. Memberi tidak hanya berbicara tentang uang kita, tetapi bagaimana kita memberi seluruh hidup kita dan bagaimana kita menjadi berkat bagi banyak orang,” tuturnya.

Ia juga mengajak jemaat memahami makna berkat sebagai sesuatu yang menghadirkan kemakmuran, kelimpahan sekaligus penyegaran bagi orang lain.
Dengan demikian, seseorang yang menjadi berkat bukan hanya mereka yang mampu memberikan sesuatu secara materi, tetapi juga mereka yang mampu menghadirkan penguatan, pertolongan, perhatian dan pengharapan bagi orang-orang yang sedang mengalami kekurangan atau kesulitan.
“Orang yang memberi itu adalah orang yang menjadi berkat. Orang yang hidupnya menjadi sumber penyegaran bagi orang-orang yang sedang kekurangan,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan semangat Jumat Berbagi Kasih GEKIRA, bahwa iman dan pelayanan tidak berhenti dalam ruang ibadah, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menjadi berkat berarti hadir bagi sesama, memberi dari apa yang kita miliki, dan menjadikan hidup kita sebagai sumber penguatan serta penyegaran bagi mereka yang membutuhkan.
Pdt. Petrus Kondorura: Pemimpin Harus Menjadi Berkat dan Setia Menjalankan Perannya
Pdt. Petrus Kondorura, ST., M.Th., menyampaikan firman Tuhan yang mengajak umat Kristiani untuk tidak hanya menerima berkat, tetapi juga menghadirkan diri sebagai berkat bagi sesama, bangsa dan negara.
Dalam renungannya, Pdt. Petrus mengangkat firman Tuhan dari Matius 19:16-22, tentang seorang anak muda yang datang kepada Yesus dan bertanya mengenai apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal.
Yesus mengingatkan pemuda tersebut untuk menjalankan perintah Allah. Namun ketika pemuda itu mengatakan bahwa seluruh perintah tersebut telah dilakukannya, Yesus memberikan tantangan yang lebih dalam: menjual segala miliknya, memberikannya kepada orang miskin, kemudian mengikuti Yesus.
Pemuda tersebut akhirnya pergi dengan sedih karena memiliki banyak harta.
Menurut Pdt. Petrus, kisah tersebut menjadi refleksi bahwa kehidupan orang percaya bukan hanya mengenai seberapa banyak yang diterima, tetapi juga seberapa besar seseorang bersedia memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.
“Jangan sampai kita menjadi orang yang kuat dalam iman, tetapi hati kita masih kuat memegang apa yang kita miliki. Jangan sampai kita menjadi orang yang kikir,” pesannya.
Ia menambahkan, banyak orang yang justru semakin diberkati ketika belajar memberi dengan tulus. Karena itu, umat Tuhan diajak tidak hanya berdoa, “Tuhan, berkatilah saya,” tetapi juga memiliki kerinduan, “Tuhan, pakailah hidup saya supaya saya menjadi berkat bagi orang lain.”
Pdt. Petrus kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan Efesus 2:10, bahwa manusia adalah buatan Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya.
Kepemimpinan Adalah Kepercayaan Tuhan
Lebih lanjut, Pdt. Petrus berbicara mengenai makna kepemimpinan. Menurutnya, seseorang yang dipercaya menjadi pemimpin harus benar-benar menghidupi dan menjalankan perannya dengan baik sesuai dengan maksud Tuhan.
Ia menyadari bahwa seseorang mungkin dapat menjalankan sebuah peran selama puluhan tahun, bahkan 50 atau 60 tahun, tetapi pada waktunya akan ada orang lain yang menggantikannya.
“Suatu saat orang lain boleh menggantikan saya. Tetapi jangan berharap bahwa orang yang menggantikan kita akan sama persis dengan kita. Tidak pernah sama,” ungkapnya.
Menurutnya, setiap orang mempunyai karakter, pengalaman, kemampuan dan cara kepemimpinan yang berbeda. Karena itu, yang terpenting bukan mempertahankan jabatan selama-lamanya, melainkan menjalankan kepercayaan yang diberikan Tuhan dengan setia.
“Kepemimpinan bukan tentang mempertahankan jabatan selama-lamanya. Kepemimpinan adalah tentang kesetiaan menjalankan tugas selama Tuhan memberikan kesempatan,” tegasnya.
Ia mengajak para pemimpin dan seluruh umat Tuhan untuk menggunakan setiap kesempatan yang diberikan Tuhan untuk melakukan pekerjaan baik dan membawa manfaat bagi banyak orang.
Doakan Indonesia dan Masyarakat
Pada bagian akhir, Pdt. Petrus mengajak seluruh yang hadir untuk berdoa bagi bangsa dan negara Indonesia. Ia mendoakan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, seluruh jajaran menteri serta para penyelenggara pemerintahan.
Dalam doanya, ia memohon agar Tuhan memberkati setiap langkah pemerintah sehingga pembangunan dan berbagai pergerakan yang dilakukan dapat benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Ia juga mendoakan seluruh masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi tekanan dan berbagai persoalan kehidupan, baik dalam keluarga, ekonomi maupun pekerjaan.
“Tuhan, tolong mereka yang sedang mengalami tekanan dan banyak masalah. Bahkan pakai hidup kami menjadi berkat bagi banyak orang,” doanya.
Tidak hanya bangsa dan negara, Pdt. Petrus juga mendoakan seluruh peserta yang hadir beserta keluarga masing-masing. Ia memohon agar Tuhan memberkati pekerjaan, usaha dan kehidupan mereka.
Bagi mereka yang sedang mengalami sakit, ia memohon kesembuhan. Sementara bagi mereka yang menghadapi persoalan ekonomi dan pekerjaan, ia berdoa agar Tuhan membuka jalan dan memberikan pertolongan.
Doa tersebut ditutup dengan keyakinan bahwa pertolongan Tuhan memampukan setiap orang menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Karena kami percaya di dalam Engkau, Tuhan, kami pasti dapat menangani segala perkara.”
Pesan “Jadilah Berkat bagi Sesama” diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah tema dalam ibadah, tetapi menjadi panggilan untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi berkat melalui talenta, waktu, tenaga, kepedulian, maupun kemampuan yang Tuhan percayakan.
Sebab, ketika kehidupan menjadi sumber penguatan, pertolongan, penyegaran dan pengharapan bagi sesama, di situlah iman menemukan wujud nyatanya. Bukan sekadar menjadi orang yang diberkati, tetapi dipanggil untuk menjadi berkat di tengah keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara.
Suwidodo




Tinggalkan Balasan