, ,

Mengaktifkan Roh, Menyembuhkan Jiwa Acara Bedah Buku “Rahasia di Balik Penciptaan” bersama dr. Elly Engelbert Lasut, M.E.

Indonesiasatu928.com – Jakarta Timur – Rabu, 2 Juli 2025, – Dalam atmosfer yang penuh keteduhan dan penghayatan spiritual, ratusan peserta dari berbagai kalangan berkumpul dalam acara Bedah Buku “Rahasia di Balik Penciptaan” yang diselenggarakan oleh PEWARNA Indonesia. Dihadiri langsung oleh penulisnya, dr. Elly Engelbert Lasut, M.E., acara ini menjelma menjadi ruang kontemplatif yang memperdalam pemahaman tentang roh, jiwa, dan kasih Tuhan yang menyelamatkan.

Roh Tuhan menyala saat pikiran dan perasaan kontak, salah satu pesan kuat yang menggetarkan hati peserta adalah tentang bagaimana Tuhan bekerja — bukan sekadar lewat kata-kata, tetapi melalui kontak roh. Dalam ibadah, dalam nyanyian, dalam doa dan khotbah, roh Tuhan menjalar dari satu jiwa ke jiwa lain,di selenggarakan di GPdi Ps. Rabo RT.03/RW011, Gedong Kec. Pasar Rebo, Jl. TB. Simatupang No.83, hari Rabo (2/7/2025).

“Ketika pikiran dan perasaan kita selaras dengan Tuhan, kontak roh terjadi. Maka satu jiwa yang menyala bisa menyalakan jiwa-jiwa lain,” ungkap Elly Lasut.

Inilah yang menjelaskan mengapa ibadah bersama sangat penting. Kita datang dengan luka, duka, dan keletihan. Tapi di ruang penyembahan, satu jiwa yang berkobar bisa membawa terang bagi jiwa-jiwa yang nyaris padam.

Doa Bukan Hanya Suara, Tapi Gerakan Jiwa; Doa sejati bukan hanya soal ucapan, tetapi tentang gerakan jiwa yang menghubungkan seluruh eksistensi kepada Tuhan. Ketika seorang pendoa: Mengaktifkan memori kasih Tuhan; Menyelaraskan pikirannya pada kehendak Allah; Membiarkan perasaannya diterangi Roh Kudus; Menyerahkan kehendaknya secara total, maka doa itu menyembuhkan, menguatkan, dan menghidupkan.

Jiwa Diformasi, bukan diberi siap pakai jiwa manusia, seperti dijelaskan dalam buku ini, tidak diciptakan langsung sempurna. Jiwa adalah ruang proses: ia diformasi, dirawat, dan ditempa melalui relasi dan pengalaman hidup.

“Karena jiwa punya kehendak bebas, ia bisa jatuh. Tapi juga bisa bangkit kembali, karena Roh Kudus tidak pernah menyerah menyentuh manusia.”

Ini menjadi refleksi penting bahwa keselamatan bukan perkara instan, tapi perjalanan formasi jiwa menuju keserupaan dengan Kristus.

Pikiran dan Perasaan adalah Kanal Kehadiran Ilahi yaitu Cinta, pengampunan, dan keadilan bukanlah konsep abstrak. Mereka adalah memori ilahi yang pernah ditanam dalam setiap manusia.

Bahkan bagi yang belum mengenal Yesus secara eksplisit: Mereka dapat merasakan cinta sejati; Mengenali kebenaran moral; Melakukan keadilan sosial, “Roh manusia pernah disentuh oleh Roh Allah,” kata Lasut. Inilah alasan kasih itu mempersatukan, karena jejak kasih Tuhan tertanam di hati semua manusia.

Bagaimana Dengan Orang Benar yang Tidak Kenal Yesus?

Pertanyaan paling eksistensial pun diangkat: Bagaimana dengan mereka yang hidup benar, tapi tidak mengenal Yesus?

Jawaban teologisnya penuh pengharapan yaitu Tuhan tidak dibatasi oleh agama, ruang, dan waktu; Tuhan bekerja lebih dulu sebelum gereja, sebelum sistem misi; Tuhan telah menanam “sifat-sifat-Nya” dalam hati setiap manusia, maka keselamatan bukan soal label, tetapi soal relasi. Dan Yesus datang untuk seluruh umat manusia, agar semua yang mau percaya mengalami pemulihan sejati.

Kesimpulan Teologis: Roh, Jiwa, dan Tubuh Bersatu dalam Kasih

Buku dan pemaparan Elly Lasut membawa pesan yang utuh: tubuh, jiwa, dan roh dipanggil untuk bersinergi dalam terang kasih Kristus.

Roh menyala karena kerelaan kita untuk membuka diri sehingga Jiwa dilatih untuk memilih dan mencintai kebenaran

Tubuh menjadi saluran kasih dalam tindakan nyata, “Kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan itu, mempersatukan segala yang terpisah, menyembuhkan segala luka, dan mengarahkan jiwa pada tujuan kekal.”

Acara ini lebih dari sekadar peluncuran buku. Ia adalah panggilan untuk pembaruan rohani dan intelektual, sebuah ajakan untuk hidup dalam roh, menjangkau jiwa, dan menghadirkan kasih dalam dunia yang porak poranda oleh kekerasan dan ego.

Paparan Singkat: dr. Elly Engelbert Lasut, ME, Sosok Visioner dari Ujung Utara Indonesia yaitu Dr. dr. Elly Engelbert Lasut, ME, adalah seorang tokoh publik yang namanya mencuat di pentas nasional, baik sebagai pemimpin daerah maupun sebagai intelektual yang aktif dalam berbagai forum pembangunan nasional dan internasional. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Kepulauan Talaud, bahkan disebut-sebut sebagai bupati termuda di Indonesia pada saat itu, karena dipercaya memimpin daerah perbatasan tersebut dalam usia yang masih sangat muda, yakni 33 tahun, bukan 13 tahun.

Sebelum terjun ke dunia politik, Pak Elly, begitu beliau akrab disapa, dikenal sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang memulai kariernya di Kabupaten Kepulauan Talaud sejak tahun 1996 hingga 1999. Beliau menempuh pendidikan lanjutan di Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUP Prof. Dr. Kandou Malalayang, Manado, melalui program beasiswa dari pemerintah, dan menyelesaikannya dalam periode 2000–2003.

Tahun 2003, dr. Elly memulai kiprahnya di dunia politik dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Talaud, kemudian dipercaya sebagai Ketua DPRD, hingga akhirnya terpilih menjadi Bupati. Dalam masa kepemimpinannya, beliau dikenal sebagai pemimpin muda yang energik, inovatif, dan memiliki komitmen tinggi terhadap pembangunan di daerah perbatasan.

Untuk kiprah Internasional dan Karya Tulis, Beliau pernah mewakili Indonesia dalam berbagai pertemuan internasional, termasuk pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) di Jakarta dan berbagai forum pembangunan regional. Pada tahun 2008, ia menjadi pembicara dalam kegiatan IM3 di Kota Batu. Tahun 2016, ia kembali menjadi pembicara dalam forum pembangunan kawasan tertinggal.

Selain aktif dalam pemerintahan, beliau juga dikenal sebagai penulis. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul “Mengikuti Ombak, Menantang Bayu” , sebuah refleksi dan inspirasi dari perjalanan hidup dan pengabdian beliau kepada masyarakat.

Organisasi dan Kepemimpinan, dalam dunia organisasi, dr. Elly pernah menjabat sebagai: Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi; Fungsionaris KNPI; Ketua Himpunan Pengusaha Muda Manado (HIPMI Manado); Ketua HIPMI Sulawesi Utara; Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Kepulauan Talaud.

Ketua DPD Partai Berkarya Sulawesi Utara, Kini, beliau tetap dipercaya memimpin dan terus berkiprah dalam berbagai aktivitas sosial-politik serta pelayanan kepada masyarakat, sambil tetap menunjukkan semangat belajar, berkarya, dan menginspirasi generasi muda Indonesia.

PEWARNA Indonesia melalui acara ini kembali menegaskan jati dirinya: menghadirkan suara kebenaran yang menyala dari hati nurani, bukan sekadar laporan berita.

Reporter: Suwidodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *