Jika Anda sedang dalam perjalanan dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur, silakan mampir di warung-warung bambu pinggir jalan di Cepu atau pasar tradisional Bojonegoro, untuk menikmati secangkir kopi Khotok. Percayalah, ini tidak hanya sekadar kopi, tapi sebuah racikan kopi yang sudah turun-temurun.

Kopi ini unik. Ia disajikan bukan hanya untuk mengusir kantuk, tapi juga untuk menghangatkan tubuh dan jiwa. Terbuat dari campuran kopi hitam murni, santan kental, dan berbagai rempah seperti jahe, merica, dan kadang cengkih atau kayu manis, kopi ini direbus bersama hingga mendidih, bukan diseduh biasa. Itulah asal nama “khotok”, yang berasal dari suara mendidih di dalam ceret saat proses perebusan.
Aroma yang keluar begitu pekat dan menggoda, menghadirkan nuansa nostalgia pedesaan dan perbincangan hangat di warung kopi tradisional. Di pagi yang berkabut atau malam yang dingin, Kopi Khotok menjadi pelipur lara, pengikat cerita di antara petani, sopir truk, dan warga lokal yang menepi sejenak dari kesibukan hidup.

Tak heran, kopi ini dianggap sebagai simbol kehangatan persaudaraan dan kearifan lokal. Rasanya yang kuat, pedas, dan gurih mencerminkan karakter masyarakat Blora dan Bojonegoro yang apa adanya, tangguh, dan bersahaja.
Kopi Khotok sudah mulai dikenal luas, karena banyak warung dan kedai yang mencantumkan dalam menu minuman mereka. Namun demikian, tetap tak ada yang menandingi keaslian rasa saat dinikmati langsung di warung bambu di pinggir jalan Cepu atau pasar tradisional Bojonegoro.

Sruput kopi khotok saben esuk,Aromane nyandhet rasa rindu.
Tresnaku marangmu ora bakal luntur,
Koyo kopi khotok, anget lan jujur.
- Ke pasar Cepu beli ketan,
- Singgah sebentar di warung pojok.
- Kopi Khotok diseruput pelan,
- Rempahnya nendang, rasa nggojlog!
Penulis: Suwidodo





Tinggalkan Balasan