Cermin Budi Pekerti. Laku Jawa, “Inggih” lan “Matur Nuwun”

Laku Jawa, “Inggih” lan “Matur Nuwun” Dalam adat Jawa, kesantunan bukan hanya perkara tutur kata, tetapi juga sikap batin. Dua kata sederhana—inggih dan matur nuwun—telah menjadi laku hidup yang diwariskan turun-temurun.

Inggih bukan sekadar tanda setuju, melainkan ungkapan kerendahan hati untuk menghargai pendapat orang lain. Mengucapkan inggih berarti kita siap mendengar, memahami, dan menghormati, meskipun di dalam hati belum tentu sepenuhnya sependapat.

Matur nuwun adalah wujud rasa syukur dan terima kasih, bukan hanya pada pemberian besar, tetapi juga pada hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele. Dalam pandangan leluhur Jawa, orang yang pandai berterima kasih akan mendapat kelapangan hati dan menumbuhkan rasa hormat dari orang lain.

Dua kata ini adalah penanda laku alus—sikap halus—yang mengajarkan kita menahan diri, menundukkan ego, dan membangun harmoni. Sebab, kata yang lembut dapat meredakan marah, dan tutur yang santun dapat membuka pintu rezeki serta persaudaraan.

“Inggih” dan “Matur Nuwun”, Warisan Jawa yang Kian Langka

Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, dua kata sederhana ini kian jarang terdengar. Padahal, inggih dan matur nuwun bukan sekadar basa-basi, melainkan cermin budi pekerti, simbol penghormatan, dan perekat hubungan manusia.

Bagi orang Jawa, inggih tidak hanya berarti “ya”, tetapi tanda kerendahan hati dan kesediaan untuk mendengarkan, meski mungkin tidak sependapat. Demikian pula matur nuwun, yang lahir dari rasa syukur tulus, bukan sekadar formalitas.

Ironisnya, generasi muda kini sering lebih akrab dengan “ok” atau “thanks” daripada bahasa hati leluhur. Tidak salah menggunakan bahasa global, namun jika bahasa warisan pudar, kita kehilangan sebagian identitas dan kearifan lokal.

Menjaga dua kata ini dalam percakapan sehari-hari adalah langkah kecil namun bermakna. Ia menanamkan rasa hormat, mempererat hubungan sosial, dan merawat harmoni. Dalam tutur yang santun, jiwa terlatih untuk rendah hati dan menghargai sesama.

Bagi saya, inggih dan matur nuwun adalah pelita kecil dalam pergaulan—sederhana, namun menghangatkan. Jika ingin rukun, guyub, lan tentreming urip, mari kita hidupkan kembali laku tutur ini, mulai dari diri sendiri, mulai hari ini.

Inggih bukan sekadar tanda setuju, melainkan ungkapan kerendahan hati untuk menghargai pendapat orang lain. Mengucapkan inggih berarti kita siap mendengar, memahami, dan menghormati, meskipun di dalam hati belum tentu sepenuhnya sependapat.

Seperti tertulis dalam Serat Wulangreh karya Sri Pakubuwana IV: “Wong utama iku yen rame kudu sepi, yen sepi kudu rame, tansah eling lan waspada.”

Orang yang berbudi utama selalu menjaga keselarasan, tahu kapan berbicara, kapan diam, dan selalu berhati-hati.

Matur nuwun adalah wujud rasa syukur dan terima kasih, bukan hanya pada pemberian besar, tetapi juga pada hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele. Pepatah Jawa berkata:“Sing sapa bisa ngatur roso, bakal tentrem uripe.”

Siapa yang mampu mengatur rasa, akan tenteram hidupnya.

Dua kata ini adalah penanda laku alus—sikap halus—yang mengajarkan kita menahan diri, menundukkan ego, dan membangun harmoni. Sebab, kata yang lembut dapat meredakan marah, dan tutur yang santun dapat membuka pintu rezeki serta persaudaraan.

Dalam Serat Wedhatama, Ranggawarsita mengingatkan: “Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas.”

Ilmu akan bermakna jika dijalani dengan perbuatan, dan pangkalnya adalah ketulusan.

Menjaga dua kata ini dalam percakapan sehari-hari adalah langkah kecil namun bermakna. Ia menanamkan rasa hormat, mempererat hubungan sosial, dan merawat harmoni. Dalam tutur yang santun, jiwa terlatih untuk rendah hati dan menghargai sesama.

 

Karya: Suwidodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *