, , , ,

Dr. Ir. Tigor Pangaribuan, MBA: Membangun Tata Kelola dan Budaya Gizi Nasional yang Berkelanjutan

JAKARTA — Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, nama Dr. Ir. Tigor Pangaribuan, MBA, menjadi salah satu figur kunci di balik pembenahan sistem dan tata kelola Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan pengalaman lebih dari dua dekade dalam bidang manajemen sumber daya manusia, transformasi organisasi, dan tata kelola kelembagaan, Dr. Tigor kini dipercaya sebagai Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN.

Visinya sederhana namun strategis: membangun sistem gizi nasional yang efektif, transparan, dan adaptif terhadap tantangan zaman.

“Pembangunan gizi nasional tidak cukup hanya berbicara soal makanan bergizi, tetapi juga sistem yang memastikan rantai nilai pangan berjalan aman, bersih, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Dari Agronomi ke Manajemen Sistem

Perjalanan karier Dr. Tigor dimulai dari dunia akademik. Lulusan Agronomi Institut Pertanian Bogor (IPB) ini melanjutkan pendidikan Magister Manajemen (MBA) di Monash University, Australia, dan meraih gelar Doktoral dari European Institute of Management & Technology (EIMT), Swiss.

Pengalaman lintas sektor, mulai dari industri energi, semen, hingga lembaga kemanusiaan internasional — memperkaya perspektifnya tentang pentingnya tata kelola dan sumber daya manusia dalam keberhasilan organisasi.

Ia pernah menjabat sebagai Direktur SDM, CSR & Pengadaan PT Timah Tbk, SVP Human Capital di MIND ID, serta Senior Manager HR di World Vision International.

“Manusia adalah inti dari sistem. Tidak ada tata kelola yang kuat tanpa SDM yang berintegritas dan berdaya adaptif,” tegasnya.

Menjaga Standar Gizi Lewat Sistem dan Teknologi

Sebagai Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Dr. Tigor berfokus pada penguatan standar keamanan pangan nasional, terutama dalam program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menekankan pentingnya penerapan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) di seluruh lini produksi dan distribusi makanan bergizi.

Tantangan terbesar, menurutnya, justru muncul di daerah-daerah terpencil.

Di Kalimantan Barat, misalnya, tim MBG menghadapi keterbatasan bahan makanan berkualitas dan sumber air bersih yang sebagian besar merupakan air payau.

“Kita tidak boleh menyerah pada kondisi geografis. Dengan inovasi dan teknologi sederhana, air payau bisa diolah menjadi layak konsumsi. Prinsipnya adalah disiplin pada SOP dan komitmen terhadap keselamatan pangan,” ungkapnya.

Pemimpin dengan Orientasi Pelayanan

Meski kariernya banyak dihabiskan di dunia korporasi dan pemerintahan, Dr. Tigor dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan berorientasi pelayanan.

Rekan-rekannya menggambarkan ia sebagai pemimpin yang menekankan integritas, akuntabilitas, dan kerja kolaboratif.

Dalam berbagai kesempatan, ia juga terlibat aktif dalam forum lintas sektor — termasuk Sosialisasi Program MBG dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diadakan oleh Yayasan Indonesia Berdoa Sinergi di Graha Bethel Indonesia (GBI) Jakarta, 29 September 2025.

Dalam forum tersebut, ia mendorong peran aktif masyarakat dan gereja untuk ikut mengelola dapur sehat MBG secara profesional dan transparan.

“Keterlibatan warga atau masyarakat sipil dalam MBG bukan hanya partisipasi sosial, tetapi juga praktik iman yang nyata — menjadi bagian dari solusi bangsa,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.

Jejak Kepemimpinan dan Pengakuan Internasional

Kinerja Dr. Tigor mendapat berbagai pengakuan profesional.

Ia meraih Award of Excellence in HR dari Monash Business School (1995), menjadi Certified Human Resources Strategist (Washington DC, 2010), dan mengikuti Executive Strategic Management & Leadership Course di Universitas Pertahanan RI (2024).

Pada 2019, ia juga dipercaya menjadi Koordinator Program Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) SDM Indonesia ke-11.

Dengan latar belakang yang kokoh di bidang manajemen dan kepemimpinan strategis, Dr. Tigor kini menjadi salah satu tokoh yang berperan penting dalam membangun fondasi kelembagaan gizi nasional yang kuat dan berdaya saing.

“Transformasi tata kelola bukan sekadar soal sistem, tetapi perubahan budaya. Kita ingin membangun bangsa yang sehat, bukan hanya karena makanannya bergizi, tapi juga karena sistemnya bekerja dengan baik,” pungkasnya.

Dr. Ir. Tigor Pangaribuan, MBA, Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), menjadi salah satu narasumber utama dalam diskusi Formas, Ia menekankan pentingnya aspek transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas dalam pelaksanaan MBG yang akan menggunakan anggaran sebesar Rp335 triliun dari APBN tahun depan. Forum Masyarakat (Formas) dalam diskusi publik bertajuk “MBG: Makan Bergizi Gratis untuk Siapa?” pada Sabtu (4/10) di Rarampa Resto, Jalan Mahakam II No. 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Acara yang berlangsung pukul 13.00–14.00 WIB ini menghadirkan suasana hangat dan dinamis, dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, serta perwakilan organisasi sosial

Dengan berakhirnya diskusi di Rarampa Resto, Sabtu siang itu, para peserta sepakat bahwa Program MBG membutuhkan tata kelola yang bersih dan kolaborasi nyata agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Menutup diskusi, Dr. Ir. Tigor Pangaribuan, MBA, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya soal pendanaan atau distribusi, tetapi juga integritas dan profesionalisme pelaksana di lapangan.

“Tantangannya di program MBG ini adalah bagaimana memastikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk semua pegawai di Badan Gizi Nasional — baik pejabat maupun nonpejabat — bekerja dengan integritas, mengikuti SOP dengan benar, dan menjalankan tugas secara profesional,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program MBG memerlukan kerja lintas kementerian dan lembaga, dengan semangat sinergi yang tinggi agar kebijakan gizi nasional tidak berjalan secara sektoral, melainkan terpadu dan berkelanjutan.

“Kita harus mampu bekerja lintas kementerian, karena persoalan gizi bukan hanya urusan kesehatan, tapi juga pendidikan, sosial, pertanian, dan ekonomi rakyat,” ujarnya.

Dengan semangat kolaboratif dan tata kelola yang kuat, program MBG diharapkan menjadi model baru pelayanan publik berbasis integritas dan kepedulian, yang benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi anak-anak dan keluarga Indonesia di seluruh pelosok negeri.

 

Reporter Suwidodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *