, ,

PEWARNA Indonesia Gelar Refleksi Awal Tahun 2026: Mengubah Sunyi Menjadi Syukur

JAKARTA — Pewarta Warga Indonesia (PEWARNA Indonesia) Pusat menggelar Refleksi Awal Tahun 2026 pada Senin (19/1/2026) di Gedung Pertemuan GPDI Pasar Rebo, Jakarta Timur. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menjadi momentum awal tahun untuk meneguhkan komitmen jurnalisme yang berlandaskan nilai kemanusiaan, peduli kasih, dan kesetaraan.

Acara dihadiri Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono, jajaran pengurus pusat, anggota PEWARNA dari berbagai daerah, tokoh masyarakat, serta warga sekitar, termasuk para lansia. Kehadiran pimpinan pusat menegaskan keseriusan organisasi dalam menguatkan peran jurnalisme yang berpihak pada kepentingan publik dan pengabdian sosial berkelanjutan.

Refleksi dipandu Pdt. Ruyandi Hutasoit, yang mengajak peserta memaknai rasa syukur di tengah kesunyian dan keterbatasan hidup. Ia menekankan bahwa iman justru diuji dan dimurnikan dalam situasi sulit, bukan semata dalam kelimpahan.

Suasana semakin mengharukan saat Ibu Rumondang (60+), salah satu peserta lansia, membagikan kesaksian hidupnya. Ia menuturkan bagaimana doa ayahnya yang dipanjatkan secara konsisten tiga kali sehari—pagi, siang, dan sore—menjadi kekuatan yang menuntunnya melewati masa-masa sulit.

“Doa orang benar besar kuasanya. Saya hidup hari ini karena doa. Ketika berada di lembah kehidupan, saya tidak pernah ditinggalkan Tuhan,” ujar Ibu Rumondang dengan penuh haru.

Kesaksian tersebut menjadi pengingat bahwa warisan terbesar bagi generasi berikutnya bukanlah harta atau jabatan, melainkan nilai, doa, dan keteladanan hidup yang ditanamkan secara berkelanjutan.

Dalam refleksi kebangsaan, PEWARNA Indonesia menegaskan pentingnya kesetaraan martabat manusia dalam masyarakat majemuk. Indonesia, yang terdiri atas beragam suku, agama, ras, dan golongan, hanya dapat hidup damai apabila peduli kasih dan keadilan sosial diwujudkan secara nyata.

“Kesetaraan bukan sekadar konsep, melainkan tanggung jawab moral bersama. Tanpa peduli kasih, keadilan kehilangan rohnya, dan tanpa keadilan, persatuan menjadi rapuh,” menjadi salah satu pesan utama refleksi.

Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono menyampaikan bahwa Refleksi Awal Tahun 2026 merupakan bagian dari upaya menghadirkan jurnalisme yang informatif sekaligus transformatif.

“PEWARNA Indonesia ingin terus berdiri bersama masyarakat, menyuarakan nilai kemanusiaan, serta memperkuat persaudaraan kebangsaan,” ujarnya.

Melalui tema “Mengubah Sunyi Menjadi Syukur”, PEWARNA Indonesia mengajak seluruh elemen bangsa memulai tahun 2026 dengan kesadaran baru bahwa damai sejahtera dibangun dari kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen pada kesetaraan dan keadilan sosial.

Kegiatan ditutup dengan ajakan bersama untuk terus merawat keberagaman dan memperkuat solidaritas sosial demi terwujudnya Indonesia yang damai, adil, setara, dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s