JAKARTA, 1 Juni 2026 – Momentum peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) yang berdekatan dengan Hari Lahir Pancasila menjadi ruang refleksi penting untuk memperkuat nilai persatuan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog Phenomena Social Obsesi yang disiarkan oleh RPK 96.3 FM – PEWARNA, Senin, 1 Juni 2026 pukul 09.00–10.00 WIB, dengan mengangkat tema:
“Waisak dan Pancasila: Merajut Persatuan dalam Keberagaman Melalui Nilai Kebijaksanaan dan Kemanusiaan”
Dialog yang dipandu oleh Suwidodo selaku host menghadirkan dua narasumber, yakni Bhikkhu Dhammashubo Mahathera dan Dandy Capryanto, H., SH., MH., pengamat hukum dan sosial kemasyarakatan.
Dalam pemaparannya, Bhikkhu Dhammashubo Mahathera menegaskan bahwa moralitas atau etika kehidupan merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban bangsa. Menurutnya, istilah moralitas memiliki kedekatan makna dengan konsep sila, yang dalam tradisi Nusantara dikenal sebagai “Pagar Hati”, yakni kesadaran moral untuk menjaga diri sendiri.
“Pagar hati itu membuat seseorang takut dengan dirinya sendiri. Orang yang mampu mengenal dirinya sendiri akan lebih mudah memahami orang lain. Dari sanalah lahir kebijaksanaan,” ujar Bhikkhu Dhammashubo Mahathera.
Ia menjelaskan bahwa manusia modern saat ini sering mengalami ketimpangan pembangunan diri: sehat secara fisik, cerdas secara intelektual, tetapi lemah secara spiritual dan emosional.
“Raga sudah maju, pikiran sudah pintar, tetapi jiwa sering dilupakan. Banyak orang sehat badannya, pintar pikirannya, tapi tidak sehat jiwanya,” katanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan yang memberi ruang seimbang antara kognitif, afektif, dan normatif, agar pembangunan manusia berlangsung utuh.
Menurut Bhikkhu Dhammashubo, manusia yang kehilangan sila atau moralitas akan kehilangan kemuliaannya sebagai manusia. Nilai gotong royong, saling menghormati, dan semangat tolong-menolong menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa yang harus terus dirawat.
Sementara itu, Dandy Capryanto, H., SH., MH. menegaskan bahwa Pancasila merupakan rumah bersama bangsa Indonesia, yang harus menjadi landasan kehidupan berbangsa di tengah keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial.
Menurutnya, lima sila dalam Pancasila memiliki keterkaitan kuat dengan nilai-nilai kehidupan beragama, termasuk semangat Waisak.
“Ketuhanan Yang Maha Esa menjamin penghormatan terhadap kebebasan beragama. Kemanusiaan yang adil dan beradab mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan Indonesia menyatukan keberagaman, sedangkan sila keempat secara tegas menempatkan hikmat kebijaksanaan sebagai dasar pengambilan keputusan,” ujar Dandy.
Ia menambahkan bahwa Indonesia dibangun bukan atas dasar kekuatan semata, melainkan di atas kebijaksanaan, musyawarah, dan semangat persaudaraan.
“Sangat menarik bahwa sila keempat secara eksplisit menyebut hikmat kebijaksanaan. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia berdiri bukan atas kekuasaan semata, tetapi atas kebijaksanaan,” katanya.
Dalam sesi interaktif, seorang pendengar bernama Andreas Joko dari Bekasi mempertanyakan relevansi Pancasila di tengah masih adanya persoalan pembubaran ibadah dan konflik rumah ibadah di sejumlah wilayah.
Menanggapi hal tersebut, narasumber menilai bahwa persoalan sosial sering kali dipicu lemahnya komunikasi, empati, dan hilangnya sambung rasa antarkelompok masyarakat.
“Kadang-kadang masalah terjadi karena kita tidak cukup melihat ke dalam diri sendiri. Manusia perlu merenung, mengenal dirinya, agar mampu memahami orang lain,” ujar Bhikkhu Dhammashubo.
Dalam refleksi penutup, narasumber menekankan pentingnya menjaga lima kekuatan utama bangsa Indonesia, yakni: kebangsaan Indonesia, tanah air Indonesia, bahasa nasional Bahasa Indonesia, budaya kearifan lokal, dan budaya taat spiritual.
“Kalau lima unsur ini tetap utuh, kita masih punya harapan besar menuju Indonesia yang mulia. Tetapi jika satu atau dua mulai lepas, harapan kemuliaan bangsa bisa semakin menipis,” tegasnya.
Dialog ini menegaskan bahwa semangat Waisak dan Pancasila memiliki titik temu yang kuat dalam membangun kehidupan bangsa yang damai, toleran, dan berkeadaban. Di tengah tantangan intoleransi, polarisasi sosial, dan derasnya arus digitalisasi, kebijaksanaan, kemanusiaan, serta gotong royong dinilai tetap menjadi fondasi utama menjaga persatuan Indonesia.
- Host: Suwidodo
- Program: Phenomena Social Obsesi
- Radio: RPK 96.3 FM – PEWARNA
- Waktu: Senin, 1 Juni 2026 | Pukul 09.00–10.00 WIB
**(RedIS928)


Tinggalkan Balasan