JAKARTA,INDONESIASATU928.COM — Di tengah situasi bangsa yang menghadapi tekanan ekonomi, kegelisahan sosial, dan dinamika kebangsaan yang kompleks, Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna Indonesia) menggelar ibadah doa bertajuk “Indonesia Menyembah” di kawasan Kolam Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Sekitar seratus pendoa dari berbagai komunitas Kristen hadir mengikuti rangkaian doa, pujian, dan penyembahan yang berlangsung khusyuk sejak sore hari. Lengkingan suara sofar, pujian rohani, serta doa syafaat bagi bangsa mewarnai kegiatan yang dipusatkan di jantung ibu kota tersebut.

Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus pernyataan iman terhadap kondisi Indonesia yang sedang menghadapi berbagai tantangan.
“Pewarna menggelar event doa Indonesia Menyembah sebagai wujud keprihatinan sekaligus pernyataan iman atas situasi bangsa akhir-akhir ini. Mengapa Monas? Karena selain lokasi bersejarah, kawasan Medan Merdeka Jakarta merupakan episentrum pemerintahan saat ini,” ujar Yusuf Mujiono.
Menurut Yusuf, doa bersama di kawasan Monas menjadi simbol harapan agar Indonesia memperoleh pemulihan di tengah berbagai tantangan nasional maupun global.
“Kami percaya, doa dan pujian penyembahan sore ini menjadi upaya pemulihan bagi negeri kita,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ketua I Pewarna Indonesia, Pendeta Antonius Natan, menyampaikan pesan firman Tuhan bertajuk “Tetap Percaya, Tetap Benar, dan Tetap Menjadi Terang di Masa Sukar.”
Berdasarkan Habakuk 3:17–19 dan Matius 6:25–34, Antonius mengingatkan umat agar tetap memiliki pengharapan meski kondisi ekonomi sedang tidak mudah.
Ia menyinggung kondisi bangsa yang ditandai pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berdampak pada kehidupan masyarakat.
“Di tengah rupiah yang melemah, harga pangan yang naik, dan PHK yang menyakitkan, banyak orang bertanya, bagaimana hidup saya bulan depan? Pertanyaan itu wajar. Tuhan tidak memarahi orang yang merasa takut. Tetapi Tuhan mengundang kita untuk tidak tinggal dalam ketakutan,” ujarnya.
Menurut Antonius, krisis ekonomi tidak boleh menjadi alasan kehilangan iman. Justru dalam keadaan sulit, umat diajak tetap mempercayai pemeliharaan Tuhan sebagaimana teladan nabi Habakuk yang tetap bersukacita meski menghadapi kekurangan.
Selain itu, Antonius juga menyoroti pentingnya menjaga integritas moral di tengah tekanan sosial dan politik.
“Krisis ekonomi sering membuka krisis moral. Ketika harga naik, orang mudah marah. Ketika pekerjaan hilang, keluarga mudah retak. Ketika politik memanas, masyarakat mudah terbelah,” katanya.
Ia menegaskan bangsa tidak hanya bisa runtuh karena persoalan ekonomi, tetapi juga karena lemahnya moralitas, ketidakadilan, korupsi, dan kebencian sosial.
Karena itu, Antonius mengajak gereja tidak sekadar menanti pemulihan ekonomi, tetapi juga menghadirkan nilai kasih, kejujuran, kepedulian, serta menjadi terang bagi masyarakat.
“Doa bagi pemerintah bukan tanda setuju terhadap semua kebijakan. Doa bagi pemerintah adalah ketaatan kepada Firman Tuhan. Kita berdoa agar pemimpin diberi hikmat, takut akan Tuhan, keadilan, keberanian melawan korupsi, dan kepekaan kepada rakyat kecil,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menaikkan doa syafaat bagi Indonesia, meliputi doa untuk presiden dan para pemimpin bangsa, persatuan nasional, kesejahteraan rakyat, pemulihan ekonomi, perlindungan keluarga, generasi muda, hingga kesatuan gereja di Indonesia.
Momentum doa berlangsung semakin khusyuk ketika peserta bersama-sama mendeklarasikan doa pemulihan bangsa dan melantunkan lagu penyembahan yang terinspirasi dari II Tawarikh 7:14, tentang kerendahan hati umat untuk berdoa dan mencari wajah Tuhan bagi pemulihan negeri.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Rumondang Sitompul dari Bethesda House of Prayer, worship leader Elly Wati Simatupang, serta sejumlah pengurus Pewarna Indonesia seperti Albert Muntu, Agustinus Rahardjo, Denny Zakirsyah, Sugiyanto, Grollus Daniel, dan Donny Leonardo.
Menjelang senja, ibadah doa ditutup dengan seruan bersama agar gereja tetap menjalankan panggilannya di tengah masa sukar: tetap percaya, tetap hidup benar, dan tetap menjadi terang bagi Indonesia.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa—mulai dari tekanan ekonomi, dinamika sosial-politik, hingga ujian terhadap persatuan—Indonesia Menyembah di Monas menjadi pengingat bahwa harapan tidak boleh padam. Doa yang dinaikkan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ungkapan iman dan kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
Ketika senja perlahan menyelimuti kawasan Monas, para peserta meninggalkan lokasi dengan satu keyakinan yang sama: bangsa ini mungkin sedang menghadapi masa sulit, tetapi Indonesia tidak berjalan sendirian. Selama masih ada doa, kasih, kepedulian, dan semangat untuk hidup benar, harapan akan pemulihan tetap menyala. Sebab di tengah gelapnya zaman, gereja dipanggil untuk tetap percaya, tetap berdiri dalam kebenaran, dan tetap menjadi terang bagi bangsa.
Menutup kegiatan Indonesia Menyembah di Monas, panitia berharap semangat doa bagi bangsa tidak berhenti pada satu momentum semata. Kebersamaan dalam memohon pemulihan Indonesia diharapkan dapat menginspirasi berbagai elemen masyarakat dan seluruh komunitas kepercayaan di Indonesia untuk terus menghadirkan kegiatan serupa sesuai keyakinan masing-masing, demi persatuan, kedamaian, dan kesejahteraan bangsa.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi negeri, semangat kebangsaan perlu terus dirawat melalui nilai-nilai spiritual, gotong royong, dan kepedulian bersama. Sebab Indonesia berdiri di atas fondasi Pancasila, khususnya sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” yang menegaskan bahwa kehidupan berbangsa tidak dapat dipisahkan dari nilai keimanan, penghormatan antarumat beragama, dan tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan.
Harapannya, doa-doa yang dipanjatkan dari berbagai penjuru negeri menjadi kekuatan batin bagi Indonesia untuk tetap teguh menghadapi tantangan zaman, serta melahirkan bangsa yang semakin adil, damai, sejahtera, dan berkeadaban.
Pro Ecclesia et Patria — Demi Gereja dan Tanah Air.
(Suwidodo)



Tinggalkan Balasan