,

Program LKLB Hidupkan Pemikiran Gus Dur dalam Merawat Toleransi dan Kebangsaan

JAKARTA, 11 Juli 2026 – Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dikembangkan Institut Leimena dinilai berhasil menghidupkan semangat dan pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam memperkuat toleransi, moderasi beragama, dan kebangsaan di Indonesia.

Hingga saat ini, Program LKLB telah menjangkau lebih dari 11.000 guru dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui program tersebut, lahir berbagai praktik kolaborasi lintas agama yang memperkuat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

Komitmen tersebut semakin diperkuat melalui penandatanganan kerja sama antara Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) dan Institut Leimena pada Jumat (10/7/2026).

Rektor UIN Gus Dur, Prof. Zaenal Mustakim, menyatakan kerja sama tersebut sejalan dengan semangat kampus yang mengusung nama besar Gus Dur sebagai tokoh pluralisme dan kemanusiaan.

“Sebagai kampus yang menyandang nama besar K.H. Abdurrahman Wahid, komitmen terhadap kebangsaan dan toleransi adalah harga mati. Kerja sama ini menjadi langkah progresif dalam memperluas implementasi moderasi beragama,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

Menurutnya, mahasiswa dan dosen tidak cukup hanya memahami teori moderasi beragama, tetapi juga harus memiliki kemampuan nyata membangun relasi lintas agama dan lintas budaya.

Program LKLB membekali calon guru dengan tiga kompetensi utama, yakni kompetensi pribadi, kompetensi komparatif, dan kompetensi kolaboratif agar mampu hidup dan bekerja sama dalam masyarakat yang beragam.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan kolaborasi dengan UIN Gus Dur menjadi simbol persahabatan lintas agama yang telah dicontohkan para pendiri bangsa.

Ia mengingatkan bahwa perkembangan Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) dan algoritma media sosial telah melahirkan fenomena echo chamber, yang membuat masyarakat semakin mudah terjebak dalam informasi yang seragam dan mempersempit ruang dialog dengan kelompok yang berbeda.

“Guru tidak boleh kalah dengan AI. Guru harus hadir sebagai teladan, membangun karakter, dan mengajarkan peserta didik untuk menghargai keberagaman melalui perjumpaan nyata,” kata Matius.

Sebagai contoh keberhasilan Program LKLB, Matius mengisahkan kolaborasi dua guru dari SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal Ambon melalui program Sekolah Gandong. Kolaborasi tersebut berhasil mempererat hubungan antarsiswa yang berbeda agama setelah konflik sosial yang pernah terjadi di Ambon.

“Ketika mereka bertemu, anak-anak itu kini saling menyapa, ‘Eh, gandong!’ Itulah masa depan Ambon dan Indonesia yang sedang dibangun,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Juni 2026, UIN Gus Dur bersama Institut Leimena telah menyelenggarakan pelatihan Program LKLB yang diikuti 360 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

Dekan FTIK UIN Gus Dur, Prof. Muhlisin, mengatakan pihaknya akan mengintegrasikan Literasi Keagamaan Lintas Budaya ke dalam proses pembelajaran serta kegiatan kemahasiswaan.

“Kami ingin lulusan UIN Gus Dur menjadi guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki resiliensi sosial dan komitmen kuat terhadap kebangsaan di mana pun mereka mengabdi,” tuturnya.

Program LKLB diharapkan terus menjadi ruang pembelajaran dan kolaborasi lintas agama yang memperkuat persatuan, toleransi, serta semangat kebangsaan Indonesia di tengah tantangan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin kompleks.

Suwidodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 3815