Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI)
PGI • KWI • PGPI • PGLII • PBI • BK • GMAHK • GOI
Mengakhiri Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua: Mengedepankan Martabat Manusia, Dialog, dan Keadilan, Bukan Militerisasi
Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Tanah Papua. Konflik berkepanjangan telah menimbulkan korban jiwa dari berbagai pihak, termasuk Orang Asli Papua, warga sipil non-Papua, aparat keamanan, serta kelompok lain yang terdampak. Perempuan, anak-anak, masyarakat adat, tenaga kesehatan, guru, petani, dan para pengungsi menjadi kelompok yang paling rentan.
Peristiwa kekerasan yang terus berulang menunjukkan bahwa persoalan Papua bukan sekadar insiden, melainkan krisis kemanusiaan yang memerlukan penyelesaian menyeluruh, adil, dan bermartabat.
Sebagai umat Kristiani yang dipanggil menjadi pembawa damai (Matius 5:9), FUKRI menegaskan bahwa keamanan sejati tidak lahir dari kekuatan senjata, melainkan dari keadilan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, perlindungan martabat setiap orang, dan dialog yang tulus.

Sikap ini juga berlandaskan konstitusi Indonesia. Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, sementara Pasal 28A dan Pasal 28I UUD 1945 menjamin hak hidup sebagai hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
FUKRI Menyatakan Sikap
- Menyampaikan keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan di Papua yang belum berakhir.
- Menyerukan kepada seluruh pihak yang bersenjata, baik aparat negara maupun kelompok bersenjata non-negara, agar menghentikan segala bentuk kekerasan dan mengutamakan keselamatan warga sipil.
- Mendesak Pemerintah Republik Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pendekatan keamanan di Papua, karena pendekatan militeristik belum mampu menghadirkan perdamaian yang berkeadilan dan justru memperpanjang penderitaan masyarakat.
- Mendesak pemerintah memprioritaskan penanganan pengungsi internal (Internally Displaced Persons/IDPs), terutama perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan lanjut usia yang masih mengalami keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
- Menegaskan bahwa dialog kemanusiaan merupakan jalan paling bermartabat untuk menyelesaikan persoalan Papua. Dialog yang inklusif harus melibatkan gereja, masyarakat adat, tokoh perempuan, kaum muda, akademisi, dan masyarakat sipil.
- Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan agar menjadikan penyelamatan kehidupan manusia sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan di Papua.
- Mengajak seluruh gereja di Indonesia memperkuat pelayanan kemanusiaan melalui pelayanan kesehatan, pendampingan pastoral, trauma healing, pendidikan perdamaian, rekonsiliasi, pemberdayaan masyarakat, dan pendampingan bagi para pengungsi.
- Mendesak pemerintah memberikan ruang seluas-luasnya kepada gereja untuk menjalankan pelayanan kemanusiaan tanpa stigma maupun kecurigaan.
Penegasan Moral
FUKRI menegaskan bahwa Gereja tidak berpihak kepada kekerasan dalam bentuk apa pun. Gereja berpihak kepada kehidupan, kepada mereka yang terluka, kepada para pengungsi, kepada perempuan dan anak-anak, kepada masyarakat adat, serta kepada setiap keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka kasihi.
Sebagaimana firman Tuhan dalam Mikha 6:8:
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Penutup
Forum Umat Kristiani Indonesia mengajak seluruh gereja di Indonesia untuk terus mendoakan Tanah Papua dan bangsa Indonesia, agar Tuhan membuka jalan menuju perdamaian yang adil, memulihkan mereka yang terluka, menghibur keluarga yang berduka, melindungi setiap warga yang hidup dalam ketakutan, serta mengaruniakan hikmat kepada para pemimpin bangsa untuk mengedepankan kemanusiaan, keadilan, dan dialog demi terwujudnya Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, bermartabat, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat
Red




Tinggalkan Balasan