, ,

Pemuda Bulan Bintang Dilantik, Didorong Jadi Motor Kaderisasi dan Akselerasi Indonesia Timur Menuju Indonesia Emas 2045

JAKARTA — Pemuda Bulan Bintang periode 2025–2030 resmi dilantik dalam sebuah acara yang berlangsung di Rumah Sarwono, Pejaten Timur Pasar Minggu Jl. Raya Pasar Minggu, Jakarta selatan, Rabu (2/9/2026).

Prosesi pelantikan dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sos.Sc., Ph.D.

Dalam kesempatan tersebut, Pj. Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang, Yuzri Kamal Fadlullah, S.G., M.H., turut hadir dan mengambil bagian penting dalam pelantikan kepengurusan Pemuda Bulan Bintang periode 2025–2030.

Keterangan Foto: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra bersama jajaran pimpinan dan pengurus Pemuda Bulan Bintang usai menghadiri pelantikan Pengurus IPP Pemuda Pelajar periode 2025–2030 di Jakarta. Pose bersama menjadi simbol komitmen memperkuat kaderisasi, regenerasi kepemimpinan, serta peran generasi muda PBB menghadapi tantangan politik menuju Pemilu 2029.

Pelantikan ini menjadi momentum penting bagi organisasi kepemudaan di lingkungan Partai Bulan Bintang untuk memperkuat konsolidasi, kaderisasi, serta meningkatkan kontribusi generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sejumlah tokoh dan berbagai pihak turut menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas pelantikan Pemuda Bulan Bintang periode 2025–2030.

Ucapan selamat antara lain datang dari Habibie Mahabbah, S.I.P., M.M., Ketua Umum DPP Pemuda LIRA, serta dari PT Aji Bakuh Anugrah.

Ucapan selamat dan sukses juga disampaikan oleh Fahira Idris, S.E., M.H., anggota DPD RI dari daerah pemilihan Provinsi DKI Jakarta, yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu.

Selanjutnya, ucapan selamat datang dari Muhammad Hafidz, S.I.Kom., S.H., M.M., M.H. (MufidZ Law Firm), serta Yohanes Rettob, Bupati Mimika.

Berbagai ucapan tersebut menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap hadirnya kepengurusan baru Pemuda Bulan Bintang periode 2025–2030. Diharapkan kepengurusan yang baru dilantik mampu menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab serta melahirkan kader-kader muda yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian bagi bangsa dan negara.

Pelantikan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk membangun sinergi antara generasi muda, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen bangsa dalam menghadapi tantangan ke depan.

Pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Bulan Bintang periode 2025–2030 menjadi momentum penting untuk memperkuat regenerasi kepemimpinan, kaderisasi politik, sekaligus memperluas kontribusi generasi muda dalam pembangunan nasional.

Tidak sekadar pergantian kepengurusan, pelantikan tersebut membawa agenda yang lebih besar. Pemuda Bulan Bintang didorong menjadi organisasi kepemudaan yang mampu melahirkan aktivis, pemikir, pemimpin, sekaligus generasi muda yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial untuk menyampaikan gagasan kepada publik.

Momentum tersebut semakin strategis karena Pemuda Bulan Bintang sebelumnya tercatat sebagai Organisasi Kepemudaan (OKP) Terbaik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) 2024.

Predikat tersebut menjadi modal sekaligus tantangan agar kepengurusan baru tidak berhenti pada capaian administratif dan seremonial, tetapi mampu menghasilkan program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Salah satu agenda besar yang diusung adalah akselerasi Indonesia bagian Timur untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Yusril Ihza Mahendra Dorong Pemuda Bulan Bintang Jadi Aktivis, Pemikir, dan Kuasai Media Sosial

Regenerasi kepemimpinan menjadi salah satu pekerjaan rumah Partai Bulan Bintang (PBB) menjelang Pemilu 2029. Generasi muda partai didorong tidak hanya aktif menggerakkan organisasi dan massa, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual, memahami persoalan bangsa, menawarkan solusi, serta menguasai media sosial.

Dorongan tersebut disampaikan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dalam sambutannya pada pelantikan Pengurus IPP Pemuda Pelajar periode 2025–2030.

Yusril menilai organisasi kepemudaan harus menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan calon pemimpin. Karena itu, aktivisme tidak boleh berhenti pada kegiatan organisasi dan mobilisasi massa.

Menurutnya, pemimpin harus mempunyai kemampuan membaca persoalan dan menentukan jalan keluar.

«“Pemimpin bukan hanya menggerakkan massa, tapi kemampuan memahami masalah-masalah yang dihadapi dan kemudian menunjukkan jalan keluar. Itulah pemimpin,” ujar Yusril.»

Aktivis Harus Memiliki Kemampuan Berpikir

Yusril mengingatkan bahwa sejarah pergerakan Indonesia memperlihatkan organisasi pemuda memiliki peran penting dalam melahirkan pemimpin bangsa.

Ia mencontohkan Jong Islamieten Bond yang berdiri pada 1924 dan menjadi salah satu wadah perjumpaan anak muda, pelajar, dan mahasiswa pada masa pergerakan.

Dari sejarah tersebut, Yusril menilai organisasi pemuda seharusnya tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi tempat mengasah gagasan dan membentuk karakter kepemimpinan.

Seorang pemimpin, kata dia, harus mampu memadukan kemampuan sebagai praktisi sekaligus pemikir.

Pemimpin harus mampu bergerak di lapangan, tetapi pada saat yang sama memahami akar persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Pemimpin itu sering kali lahir mendahului zamannya. Dia sudah berpikir jauh ke depan ketika pada saat itu orang belum memikirkannya,” katanya.

Kepemimpinan Tidak Lahir dari Jabatan

Yusril menegaskan bahwa kepemimpinan tidak dapat dibentuk hanya melalui pemberian jabatan.

Kualitas seorang pemimpin akan terlihat dari proses, pengalaman, kemampuan belajar, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuannya membaca perubahan.

Pendidikan formal, menurut Yusril, bukan satu-satunya ukuran kapasitas seseorang.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya ketika mendampingi Presiden Soeharto. Menurut Yusril, Bapak Soeharto (Mantan Presiden RI) memang tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, tetapi mempunyai kemampuan belajar secara otodidak dan menyerap pengetahuan dari pengalaman.

Yusril juga mengaku pernah membantu menulis pidato Soeharto selama bertahun-tahun, termasuk pidato terakhir ketika Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi Yusril bahwa seorang pemimpin harus mempunyai kemauan untuk terus belajar dan memahami perubahan keadaan.

Generasi Muda Harus Menjawab Zamannya

Yusril meminta generasi senior tidak memaksakan cara berpikir masa lalu kepada generasi muda.

Menurutnya, setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan kemampuan dan pendekatan yang berbeda pula.

«“Generasi muda ini diciptakan Allah untuk zamannya, bukan untuk zaman kita,” ujarnya.»

Generasi senior, kata Yusril, dapat memberikan pengalaman dan pelajaran sejarah. Namun, generasi muda harus diberi ruang untuk menemukan jawaban terhadap persoalan pada zamannya sendiri.

Ia juga mendorong kader muda mempelajari sejarah, termasuk sejarah yang terdapat dalam Al-Qur’an, untuk memahami bagaimana sebuah bangsa dapat mengalami kejayaan maupun kemunduran.

Media Sosial Jadi Medan Baru Politik

Perubahan teknologi komunikasi menjadi perhatian lain Yusril.

Ia membandingkan kondisi ketika dirinya mulai aktif dengan keadaan saat ini. Pada masa itu, media sosial belum ada, media daring belum berkembang seperti sekarang, dan telepon seluler belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kini, arus informasi bergerak sangat cepat.

Sebuah pernyataan politik dapat menyebar luas dalam hitungan menit. Pada saat yang sama, informasi dapat dipotong, disalahartikan, bahkan disebarkan tanpa konteks.

Karena itu, kader PBB harus mampu berkomunikasi di ruang digital.

«“Tidak mungkin partai politik atau pemuda tanpa memainkan peranan dalam dunia media sosial. Tidak mungkin tanpa media daring,” tegas Yusril.»

Menurut dia, media sosial tidak boleh dipandang hanya sebagai sarana hiburan. Bagi partai politik, ruang digital telah menjadi bagian dari komunikasi politik dan pertarungan gagasan.

Kader harus mampu membuat konten, menyampaikan gagasan, melakukan klarifikasi, serta membangun narasi yang dapat menjangkau masyarakat.

Ahmad Bintang: Anak Muda Jangan Takut Salah

Pesan mengenai keberanian mengambil peran juga disampaikan Ahmad Bintang, S.H., Ketua Umum Pemuda Bulan Bintang.

Ahmad mendorong generasi muda agar berani mengambil inisiatif dan tidak hanya menjadi pengikut.

Ia menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi menurutnya penting bagi pembentukan karakter anak muda.

«“Anak muda lebih baik minta maaf daripada izin,” ujar Ahmad.»

Menurutnya, ungkapan tersebut bukan berarti anak muda boleh bertindak tanpa aturan. Pesan itu dimaksudkan agar generasi muda tidak takut mengambil kesempatan, mencoba hal baru, dan belajar dari kesalahan.

Namun, keberanian tetap harus diikuti tanggung jawab.

Ahmad berharap Pemuda Bulan Bintang dapat menjadi wadah lahirnya pemimpin muda dari berbagai latar belakang, termasuk aktivis, profesional, pengusaha, dan politisi.

«“Anak muda jangan hanya menjadi pengikut. Kita harus berani masuk ke ruang kepemimpinan dan memberikan dampak yang lebih efektif bagi Indonesia,” tegasnya.»

Yuri Kemal: Pemuda Harus Diberi Ruang

Sementara itu, Yuri Kemal Fadlullah, S.H., M.H., Penjabat Ketua Umum PBB, menegaskan pentingnya memberikan ruang yang lebih besar kepada generasi muda.

Menurut Yuri, Pemuda Bulan Bintang merupakan bagian dari keluarga besar PBB dan harus menjadi salah satu motor kaderisasi serta regenerasi partai.

Ia menilai karakter dan pola komunikasi generasi muda berbeda dengan generasi senior. Karena itu, partai harus mampu menyesuaikan pendekatan dan membuka ruang partisipasi yang lebih luas.

«“Bagaimana kita sebagai partai politik menarik pemuda dan kalangan muda kepada partai kita? Kita harus menjadi pribadi yang demokratis dan memberikan ruang kepada mereka untuk menjadi bagian dari kita,” kata Yuri.»

Yuri mengapresiasi keberanian dan inisiatif anak muda. Namun, ia mengingatkan agar setiap gerakan tetap memperhatikan koordinasi organisasi.

«“Anak muda kadang-kadang lebih suka minta maaf daripada minta izin. Inisiatifnya saya hargai, tetapi tetap harus ada koordinasi,” ujarnya.»

Menurut Yuri, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi. Persoalannya adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola agar tidak berkembang menjadi konflik internal.

Karena itu, kader muda perlu membangun kemampuan komunikasi, kedewasaan dalam berorganisasi, serta pemahaman terhadap tanggung jawab yang melekat pada setiap posisi.

Pemilu 2029 Harus Disiapkan Sejak Sekarang

Agenda regenerasi tersebut tidak dapat dipisahkan dari persiapan menghadapi Pemilu 2029.

Yusril mendorong PBB mulai mempersiapkan kader-kader yang akan tampil dalam kontestasi politik mendatang. Persiapan tersebut mencakup kaderisasi, penguatan struktur organisasi, pembangunan jaringan, hingga penyiapan calon anggota legislatif dari kalangan muda dan perempuan.

Menurutnya, kaderisasi tidak dapat dilakukan secara instan menjelang pemilu.

Kader yang memiliki kapasitas, integritas, pengalaman organisasi, dan penerimaan masyarakat harus dipersiapkan jauh sebelum masa kampanye.

Pemuda Bulan Bintang pun dituntut tidak hanya memperbanyak jumlah anggota, tetapi meningkatkan kualitas kader.

Kader harus memahami persoalan masyarakat, politik, hukum, ekonomi, sosial, teknologi, serta dinamika yang berkembang di daerah masing-masing.

Dengan demikian, ketika memasuki arena politik, kader tidak hanya membawa nama partai, tetapi juga membawa gagasan dan solusi.

PBB Tegaskan Karakter Islam Moderat

Dalam kesempatan tersebut, Yusril juga menegaskan karakter PBB sebagai partai Islam yang moderat dan terbuka.

Ia menyebut PBB bukan partai konservatif maupun fundamentalis. Menurutnya, PBB berpegang pada nilai-nilai Islam sekaligus mengedepankan rasionalitas, keterbukaan, toleransi, dan kemajuan masyarakat.

«“Ini partai orang-orang rasional, orang-orang yang punya komitmen pada nilai-nilai Islam, tapi berpikir secara rasional, terbuka kepada semua pihak, toleran kepada perbedaan,” ujarnya.»

Menurut Yusril, karakter tersebut penting dipahami kader muda agar politik Islam tidak dipersepsikan sebagai politik yang tertutup terhadap kelompok lain.

Kader PBB, kata dia, harus mampu berkomunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat tanpa kehilangan prinsip dan nilai yang diperjuangkan.

Bukan Sekadar Pergantian Pengurus

Pesan yang disampaikan Yusril, Ahmad Bintang, dan Yuri Kemal pada dasarnya bermuara pada persoalan yang sama: regenerasi PBB tidak boleh berhenti pada pergantian pengurus.

Regenerasi harus menghasilkan kader baru yang memiliki kapasitas untuk menghadapi perubahan zaman.

Tantangan politik hari ini berbeda dengan masa lalu. Pertarungan gagasan tidak hanya berlangsung di ruang rapat, forum organisasi, atau kampanye terbuka, tetapi juga berlangsung di ruang digital.

Karena itu, kader masa kini dituntut memiliki kemampuan yang lebih lengkap: mampu berorganisasi, memahami persoalan masyarakat, berpikir kritis, berbicara di ruang publik, menguasai teknologi komunikasi, dan membangun jaringan.

Di titik inilah Pemuda Bulan Bintang memiliki pekerjaan besar.

Organisasi tersebut tidak cukup hanya menjadi pelengkap struktur partai. Ia harus menjadi laboratorium kaderisasi yang melahirkan pemimpin baru.

Jika proses itu berjalan konsisten, Pemuda Bulan Bintang bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap politik, tetapi dapat menjadi sumber regenerasi PBB menghadapi Pemilu 2029 dan kepemimpinan nasional di masa mendatang.

Akselerasi Indonesia Timur Menuju Indonesia Emas 2045

Agenda lain yang menjadi perhatian adalah akselerasi Indonesia bagian Timur untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Gagasan tersebut menempatkan pembangunan Indonesia tidak boleh hanya bertumpu pada kawasan yang selama ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.

Indonesia Timur memiliki potensi besar yang harus dikembangkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi lokal, kewirausahaan, teknologi, serta pemberdayaan generasi muda.

Dalam konteks tersebut, Pemuda Bulan Bintang dapat mengambil peran sebagai penghubung antara potensi anak muda di daerah dengan jaringan nasional.

Anak muda di Indonesia Timur tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima program. Mereka harus menjadi pelaku pembangunan di daerahnya masing-masing.

Kaderisasi kepemudaan karena itu harus menjangkau daerah dan tidak terkonsentrasi di pusat.

Jika Indonesia ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045, pembangunan manusia harus dilakukan secara lebih merata.

Sebab, generasi muda tidak disiapkan untuk mengulang cara-cara generasi sebelumnya. Mereka harus dipersiapkan untuk membaca, menghadapi, dan menjawab zamannya sendiri.

Suwidodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 4994
  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 4994