, , ,

MBG Prasmanan Diklaim Kurangi Food Waste, BGN Diminta Pastikan Porsi dan Keamanan Pangan

MBG Prasmanan Diklaim Kurangi Food Waste, BGN Diminta Pastikan Porsi dan Keamanan Pangan

JAKARTA — Uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diterapkan Badan Gizi Nasional (BGN) di lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Model baru ini diklaim mampu menekan makanan terbuang (food waste) karena siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan. Bahkan, siswa yang masih lapar bisa menambah makanan selama persediaan masih tersedia.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, laporan awal pelaksanaan uji coba menunjukkan tingkat makanan yang habis dikonsumsi siswa cukup baik.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Sudaryono dalam siaran pers, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, sejak 5 Oktober 2026, uji coba sistem prasmanan telah dilakukan di lebih dari 60 dapur. Makanan dari SPPG dibawa ke sekolah dalam kondisi hangat dan kemudian disajikan langsung di kelas.

“Di tanggal 5 ini kami sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,” ujarnya.

Jangan Hanya Bicara Sisa Makanan

Meski sistem prasmanan berpotensi mengurangi makanan terbuang, penerapannya tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang habis.

Ada sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian BGN, mulai dari kecukupan porsi, pemerataan makanan antar-siswa, kebersihan alat saji, keamanan pangan hingga pengawasan saat siswa mengambil makanan sendiri.

Sebab, makanan yang cepat habis belum otomatis menunjukkan bahwa kebutuhan gizi seluruh siswa telah terpenuhi. Sebaliknya, makanan yang tersisa juga belum tentu semata-mata karena porsi terlalu banyak.

Karena itu, evaluasi sistem prasmanan idealnya tidak hanya menggunakan indikator food waste, tetapi juga melihat apakah setiap siswa mendapatkan makanan dengan jumlah dan komposisi gizi yang sesuai.

Makanan Hangat Jadi Nilai Tambah

Salah satu poin yang ditekankan BGN adalah makanan dibawa dari dapur SPPG ke sekolah dalam kondisi hangat.

Skema tersebut diharapkan dapat memperpendek jeda antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi siswa. Dengan demikian, kualitas makanan diharapkan tetap terjaga ketika sampai di meja makan siswa.

Namun, sistem distribusi makanan hangat juga membutuhkan pengawasan ketat. Waktu tempuh dari SPPG ke sekolah, kondisi wadah, kebersihan selama distribusi hingga proses penyajian harus dipastikan memenuhi standar keamanan pangan.

Pasalnya, program MBG menyasar anak-anak sekolah dalam jumlah besar. Kesalahan kecil dalam pengelolaan makanan berpotensi berdampak luas.

BGN Perlu Buka Data Evaluasi

Uji coba lebih dari 60 dapur SPPG dapat menjadi kesempatan bagi BGN untuk membuktikan apakah sistem prasmanan benar-benar lebih efektif dibandingkan pola penyajian sebelumnya.

Karena itu, hasil evaluasi sebaiknya dibuka secara transparan kepada publik, termasuk data jumlah makanan yang terbuang, tingkat penambahan porsi oleh siswa, kecukupan makanan, serta temuan terkait keamanan dan kebersihan pangan.

Publik tentu berharap inovasi dalam program MBG bukan sekadar membuat makanan terlihat lebih menarik atau mengurangi sisa makanan, tetapi benar-benar memastikan tujuan utama program tercapai: anak-anak mendapatkan makanan bergizi, aman, cukup dan layak dikonsumsi.

Uji coba prasmanan pun kini bukan hanya soal apakah makanan habis di piring, tetapi apakah setiap rupiah anggaran negara benar-benar berubah menjadi manfaat gizi bagi anak-anak Indonesia.

Uji coba lebih dari 60 dapur SPPG dapat menjadi kesempatan bagi BGN untuk membuktikan apakah sistem prasmanan benar-benar lebih efektif dibandingkan pola penyajian sebelumnya.

Karena itu, hasil evaluasi sebaiknya dibuka secara transparan kepada publik, termasuk data jumlah makanan yang terbuang, tingkat penambahan porsi oleh siswa, kecukupan makanan, serta temuan terkait keamanan dan kebersihan pangan.

Publik tentu berharap inovasi dalam program MBG bukan sekadar membuat makanan terlihat lebih menarik atau mengurangi sisa makanan, tetapi benar-benar memastikan tujuan utama program tercapai: anak-anak mendapatkan makanan bergizi, aman, cukup dan layak dikonsumsi.

Uji coba prasmanan pun kini bukan hanya soal apakah makanan habis di piring, tetapi apakah setiap rupiah anggaran negara benar-benar berubah menjadi manfaat gizi bagi anak-anak Indonesia.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 6681
  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994