Sinergi Umaro dan Ulama, Polri Didorong Makin Humanis dan Dekat dengan Rakyat
JAKARTA, Indonesiasatu928.com–Sinergi antara umaro (pemimpin pemerintahan), ulama, dan umat dinilai menjadi salah satu kunci memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Pendekatan yang mengedepankan nilai keagamaan, komunikasi, dan pelayanan humanis dinilai dapat mempererat hubungan kepolisian dengan masyarakat.
Hal itu disampaikan Brigjen Pol. (Purn.) Zulkifli AR, yang akrab disapa Ustadz Zulkifli, mantan Widyaiswara Sespim Polri, dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).
Zulkifli menyoroti pentingnya kedekatan pimpinan Polri dengan para habib dan ulama, termasuk Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Menurutnya, hubungan yang baik antara kepolisian dan tokoh agama dapat menjadi jembatan komunikasi untuk membangun kepercayaan publik.
“Keberhasilan membangun hubungan baik antara umaro dan ulama menjadi salah satu peluang strategis bagi Polri. Organisasi harus mampu memanfaatkan kekuatan yang ada untuk meningkatkan posisi kompetitif sekaligus memobilisasi sumber daya dalam menghadapi berbagai tantangan dari luar,” ujar Zulkifli.
Pendekatan Humanis Jadi Kebutuhan
Menurut Zulkifli, tantangan Polri saat ini bukan hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga bagaimana institusi kepolisian mampu menjawab harapan masyarakat terhadap pelayanan yang adil, jujur, dan terbuka.
Ia menilai, kedekatan dengan ulama dan tokoh agama dapat memperluas ruang dialog, memperkuat komunikasi sosial, serta membantu kepolisian memahami persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Ia membutuhkan mitra, dan mitra strategis itu adalah ulama dan umat. Sosok polisi yang humanis, adil, jujur, serta mampu bergandeng tangan dengan masyarakat menjadi harapan bersama dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban,” katanya.
Zulkifli juga menilai pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat. Dalam konsep ini, masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang dilayani, tetapi juga mitra strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Kegiatan Keagamaan Perkuat Komunikasi
Lebih lanjut, ia menyoroti kegiatan jajaran kepolisian di berbagai daerah, seperti subuh keliling, Jumat Barokah, menghadiri kegiatan keagamaan, hingga keterlibatan anggota Polri sebagai khatib salat Jumat.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, menyerap aspirasi warga, dan membangun hubungan yang lebih dekat antara polisi dan masyarakat.
Namun, Zulkifli menegaskan bahwa kedekatan sosial harus berjalan seiring dengan profesionalisme, integritas, serta penegakan hukum yang adil. Kepercayaan publik tidak cukup dibangun melalui kegiatan seremonial, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan dan kualitas pelayanan sehari-hari.
SWOT untuk Membaca Tantangan Polri
Zulkifli turut menyinggung pendekatan analisis SWOT, yakni kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats), sebagai salah satu cara membaca kondisi organisasi dan tantangan yang dihadapi.
Melalui pemetaan tersebut, menurutnya, Polri dapat mengoptimalkan kekuatan internal, mengevaluasi kelemahan, memanfaatkan peluang kerja sama dengan masyarakat, serta mengantisipasi berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi kepercayaan publik.
Ia berharap, sinergi antara Polri, ulama, pemimpin pemerintahan, dan masyarakat terus diperkuat. Tujuannya, mewujudkan kepolisian yang semakin dekat dengan rakyat, sekaligus mampu menjalankan fungsi perlindungan, pengayoman, pelayanan, dan penegakan hukum secara profesional.
Semangat itu selaras dengan ungkapan “Khairunnas anfa’uhum linnas”, yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, kedekatan Polri dengan ulama dan masyarakat perlu tercermin dalam tindakan nyata: pelayanan yang cepat, penegakan hukum yang berkeadilan, serta sikap humanis tanpa mengurangi ketegasan terhadap pelanggaran hukum.
(Suwidodo)





Tinggalkan Balasan