Komitmen Menjaga Keutuhan Bangsa, Ulama Dirikan Rumah Santri dan Alumni Pesantren se-Nusantara

Oleh: ABD. AZIZ

Pada suatu malam menjelang Subuh, telepon seluler berdering memecah keheningan. Di ujung sambungan, suara hangat Lora Imam Buchori Cholil—cicit ulama besar Syaikhona Cholil Bangkalan—mengajak berdiskusi tentang sebuah gagasan besar. Gagasan yang bukan sekadar ide, melainkan panggilan sejarah: menyatukan santri dan alumni pesantren dalam satu wadah kebangsaan.

Dalam perbincangan itu, tersampaikan visi dari Kiai Muhammad Ali Cholil tentang pentingnya mendirikan sebuah lembaga yang mampu merangkul santri dan alumni pesantren se-Indonesia. Sebuah rumah bersama yang tidak hanya menjadi simbol persatuan, tetapi juga kekuatan strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dari kiri ke kanan: Abd. Aziz, Kiai Muhammad Ali Cholil, dan Kiai Imam Buchori Cholil.

Sebagai bagian dari komunitas pesantren, gagasan tersebut terasa sederhana namun fundamental: santri harus bersatu. Persatuan itu bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan nyata dalam merawat harmoni sosial, menjaga nilai kemanusiaan, dan memperkuat moralitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.

Beberapa pekan kemudian, diskusi lanjutan digelar. Fokusnya semakin konkret: bagaimana mewujudkan rumah besar santri dan alumni pesantren sebagai instrumen preventif terhadap berbagai persoalan kebangsaan. Gesekan antar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang kerap terjadi menjadi perhatian utama. Jika potensi konflik dapat diantisipasi sejak dini, maka ruang-ruang kemanusiaan dapat tetap terjaga.

Dari sinilah lahir gagasan Ikatan Himpunan Santri dan Alumni se-Nusantara (IHSAN)—sebuah organisasi yang bertumpu pada nilai etika, moralitas, dan semangat kebangsaan. IHSAN diharapkan menjadi simpul pemersatu, sekaligus motor penggerak dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat kohesi nasional.

Pertemuan penting bersama Kiai Muhammad Ali Cholil, yang juga Rois Syuriah PWNU Kalimantan Timur, berlangsung hangat di Kota Malang. Dalam diskusi tersebut, dibahas penyusunan manifesto gerakan sebagai fondasi ideologis dan operasional. Manifesto ini menjadi penegasan komitmen bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga pilar strategis dalam pembangunan bangsa.

Sejarah telah membuktikan bahwa santri memiliki peran vital dalam menjaga NKRI. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern, santri hadir sebagai penjaga nilai, penggerak sosial, dan penyeimbang moral di tengah perubahan zaman. Semangat Islam rahmatan lil alamin—kasih sayang bagi seluruh alam—menjadi ruh dari gerakan ini.

Dalam implementasinya, IHSAN akan mengedepankan langkah preventif dan proaktif. Pendekatan ini bertujuan meminimalisir potensi konflik melalui strategi yang terencana, terukur, dan terprediksi. Belajar dari berbagai peristiwa konflik sosial di masa lalu, upaya pencegahan menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas bangsa.

Selain itu, IHSAN juga berencana memelopori peringatan Hari Santri Nasional dan doa kebangsaan secara serentak di seluruh Indonesia. Agenda ini bukan hanya seremonial, tetapi menjadi momentum penguatan identitas kebangsaan dan solidaritas umat.

Dukungan terhadap pendirian IHSAN pun terus mengalir dari berbagai ulama dan pengasuh pesantren di seluruh Nusantara. Kesamaan visi dan misi menjadi fondasi kuat bagi terbentuknya gerakan ini. Harapannya, IHSAN dapat menjadi wadah kolektif yang mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur pesantren.

Menjelang akhir pertemuan, pembahasan mengerucut pada langkah teknis: penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), proses legalitas kelembagaan, hingga rencana deklarasi nasional yang akan digelar di Kalimantan. Deklarasi ini diharapkan menjadi tonggak awal gerakan besar santri dalam menjaga keutuhan bangsa.

Gagasan ini bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan moral dan kebangsaan. Sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa santri tetap menjadi garda terdepan dalam merawat Indonesia—dengan nilai, dengan akhlak, dan dengan komitmen kebangsaan yang tak tergoyahkan.

Di tengah riuhnya perbedaan, santri hadir sebagai peneduh. Dalam derasnya arus perubahan, nilai-nilai pesantren menjadi jangkar yang meneguhkan. IHSAN lahir bukan hanya untuk berhimpun, tetapi untuk menghadirkan harapan—bahwa Indonesia akan tetap utuh, hangat, dan beradab dalam bingkai kebersamaan.

(Suwidodo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s