JAKARTA, – Di balik kecanggihan teknologi dan derasnya arus informasi, muncul ancaman serius: generasi digital dinilai makin pintar, tapi lemah karakter. Isu panas ini dibedah dalam siaran RPK FM 96.3 jl. Dewi Sartika Gedung Sinar Kasih Lt.2 , Jl. Dewi Sartika No. 136 D , Cawang Jakarta Timur 13630 Indonesia, bertajuk “Pendidikan dan Krisis Karakter Generasi Digital”, Senin (13/4/2026).
Dipandu Suwidodo, diskusi menghadirkan Dr. Denny Zakirsyah dan Johan Sopaheluwakan.
Faktanya, di era serba digital ini, generasi muda makin akrab dengan gadget, tapi justru dinilai makin jauh dari nilai-nilai dasar seperti disiplin, etika, dan tanggung jawab.
“Jangan bangga dulu dengan nilai akademik tinggi. Kalau karakter runtuh, itu bom waktu,” tegas Dr. Denny.
Ia menyoroti sistem pendidikan yang dinilai terlalu fokus pada angka dan prestasi, tetapi abai terhadap pembentukan mental dan moral. Akibatnya, muncul generasi yang serba instan, mudah menyerah, dan miskin ketahanan diri.
Tak kalah keras, Johan Sopaheluwakan menilai lingkungan digital saat ini juga memperparah kondisi. Media sosial, kata dia, kerap menjadi ruang bebas tanpa kontrol yang justru mendorong perilaku negatif.
“Kalau tidak dibekali karakter, teknologi bisa jadi senjata makan tuan. Hoaks, ujaran kebencian, bahkan degradasi moral makin terbuka,” ujarnya.
Sorotan juga mengarah pada kesejahteraan guru yang dinilai masih jauh dari ideal. Padahal, guru adalah garda terdepan pembentuk karakter.
“Bagaimana guru mau fokus membentuk karakter kalau hidupnya sendiri masih berjuang?” sindirnya.
Diskusi ini menegaskan, krisis karakter bukan sekadar isu pendidikan, tapi sudah masuk kategori darurat sosial. Jika tidak segera dibenahi, Indonesia berpotensi menghadapi generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi kehilangan arah dan nilai.
Solusinya? Tidak cukup hanya di sekolah. Perlu gerak bersama—keluarga, masyarakat, hingga pemerintah—untuk mengembalikan pendidikan pada esensinya: membentuk manusia yang utuh.
Redaksi





Tinggalkan Balasan