,

Tuhan sebagai Energi Ilahi Kekal Refleksi dr. Elly Engelbert Lasut, M.E. 

Indonesiasatu928.com – Jakarta, 2 Juli 2025 – Gedung Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pasar Rebo, Jakarta Timur, dipenuhi ratusan peserta dari berbagai kalangan dalam acara Bedah Buku “Rahasia di Balik Penciptaan”, karya dr. Elly Engelbert Lasut, M.E. Acara yang diselenggarakan oleh PEWARNA Indonesia (Perkumpulan Wartawan Nasrani Indonesia) sejak pukul 09.00 WIB hingga sore hari ini menghadirkan dialog spiritual dan intelektual yang mendalam, Kota Jakarta Timur, Rabo (2/7/2025).

Berlokasi tepat di seberang RSUD Pasar Rebo, di Jl. TB Simatupang No. 83, Kota Jakarta Timur GPdI menjadi ruang perjumpaan bagi para tokoh gereja, akademisi, jurnalis, mahasiswa teologi, dan umat lintas denominasi yang hadir menyimak pemikiran visioner dari Elly Lasut. Dalam peluncuran bukunya yang berjudul “God is Energy – Rahasia di Balik Penciptaan”, Elly mengajak para peserta melihat ulang relasi antara iman dan sains secara lebih mendalam dan menyatu, “Apa jadinya jika iman bertemu sains dan spiritualitas justru menafsir ulang ilmu pengetahuan, bukan menolaknya?” tanya Elly dalam pengantarnya yang langsung menggugah perhatian audiens.

Dalam paparan utamanyaTuhan sebagai Energi Ilahi, Elly menyoroti pendekatan baru dalam memahami Tuhan, bukan sebagai pribadi antropomorfis semata, tetapi sebagai energi ilahi kekal yang melampaui ruang, waktu, dan segala dimensi material.

“Pada mulanya adalah Firman—dan Firman adalah getar energi,” ungkapnya tegas. Ia mengutip teori Stephen Hawking yang menyebut bahwa alam semesta bisa tercipta sendiri karena hukum fisika. Namun Elly menafsirkan lain: “Energi yang dimaksud Hawking adalah Tuhan itu sendiri.”

Membangun argumennya berdasarkan prinsip kekekalan energi dalam fisika, Elly menyampaikan bahwa hukum alam justru mengonfirmasi eksistensi Tuhan sebagai sumber segala sesuatu,“Tuhan tidak musnah oleh teori sains. Ia hadir sebagai energi kekal, menjadi dasar bagi keberadaan dan kehidupan,” tambahnya.

Refleksi Ilmu dan Iman dalam Satu Tarikan Napas, Elly menekankan pentingnya mendamaikan ilmu pengetahuan dan iman. Baginya, pemisahan antara spiritualitas dan rasionalitas justru membatasi pengenalan manusia akan Tuhan. Ia mengajak peserta melihat semesta sebagai ekspresi kehendak ilahi yang bekerja melalui gelombang, partikel, dan kehidupan itu sendiri. “Tuhan adalah sumber hidup yang membuat kita hidup, bergerak, dan ada, bukan hanya di altar gereja, tapi juga di laboratorium, galaksi, dan di sel tubuh kita,” katanya.

Gagasan ini dinilai berani dan menyegarkan. Banyak peserta mengaku bahwa pendekatan Elly membuka cakrawala baru dalam memahami spiritualitas di era modern. Kehadiran tokoh lintas iman dan berbagai denominasi dalam acara ini turut memperkuat atmosfer keterbukaan dan pencarian makna bersama.

Menutup dialog, bukan polemik dalam bedah buku, pemaparannya, Elly menekankan bahwa buku ini bukan untuk memicu kontroversi, melainkan membuka ruang refleksi yang mendalam. “Saya ingin kita bertanya lebih dalam: siapa Tuhan itu? Dan bagaimana penciptaan harus kita pahami? Tuhan bukan sosok jauh di awan, tapi Energi yang selalu dekat, bekerja dalam segala sesuatu,” tegasnya.

Acara ini menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan diskursus iman dan sains di Indonesia. Buku “God is Energy” bukan sekadar menambah koleksi literatur rohani, tetapi menjadi tawaran pemikiran segar yang menggabungkan spiritualitas, filsafat, dan fisika dalam satu kesatuan kontemplatif.

 

Penulis: Oloan M Manik

Foto: PEWARNA Indonesia/Alek Setiawan

Editor: Pinancius Limbong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *