TANGERANG SELATAN, Indonesiasatu928.com — Hamba Tuhan, Pdt. Filipus Fidel Ramond,S.S.,M.Th., menyampaikan khotbah yang kuat dan reflektif tentang makna urapan Tuhan, proses pembentukan karakter, serta bahaya kejatuhan rohani dalam kehidupan orang percaya. Ibadah yang berlangsung dengan penuh kesungguhan ini mengajak jemaat untuk tidak hanya mengejar kuasa, tetapi juga menjaga hati dan hidup dalam ketaatan, Sabtu (2/5/2026) pukul 11.00 wib.
Dalam penyampaiannya, Pdt. Filipus mengangkat kisah Simson yang perkasa dalam Kitab Hakim-Hakim dalam Alkitab sebagai gambaran nyata tentang seseorang yang diurapi Tuhan secara luar biasa. Simson dikenal memiliki kekuatan yang melampaui batas manusia, bahkan mampu mengalahkan musuh dalam jumlah besar hanya dengan alat sederhana. Namun di balik itu, terdapat sisi kelemahan karakter yang tidak dijaga dengan baik.

“Urapan Tuhan itu nyata dan dahsyat, tetapi bukan berarti seseorang kebal terhadap kejatuhan. Ketika ada celah, di situlah serangan terjadi,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang salah memahami sumber kekuatan Simson. Bukan pada rambutnya, melainkan pada hubungan dan ketaatannya kepada Tuhan. Rambut hanyalah tanda nazar, simbol komitmen. Ketika komitmen itu dilanggar—khususnya saat Simson jatuh dalam dosa dan membuka dirinya kepada Delila—di situlah urapan mulai menjauh.
Akibatnya sangat jelas. Simson yang dahulu kuat, akhirnya menjadi lemah, ditangkap, dipermainkan, bahkan dipermalukan di depan banyak orang. Ia dijadikan tontonan dan bahan ejekan. Ini menjadi gambaran bagaimana hidup seseorang bisa berubah drastis ketika kehilangan hadirat Tuhan.
Pdt. Filipus menegaskan bahwa setiap orang memiliki titik lemah, dan di situlah musuh sering menyerang. “Jaga baik-baik titik lemah kita. Jangan beri akses sedikit pun. Karena ketika celah itu terbuka, dampaknya bisa besar,” ujarnya.
Dalam konteks kehidupan modern, ia juga menyinggung fenomena keterbukaan di era digital. Banyak orang yang akhirnya dipermalukan karena kesalahan yang terbongkar dan tersebar luas. Hal ini, menurutnya, sering kali berakar dari kelalaian menjaga hidup dan menganggap enteng dosa.
Namun di tengah peringatan tersebut, ia mengingatkan kasih Tuhan yang besar melalui Yesus Kristus. Yesus rela dipermalukan, disalibkan, dan menanggung kehinaan, supaya manusia tidak hidup dalam aib. “Tuhan sudah membayar semuanya di kayu salib. Jangan kita sia-siakan dengan hidup sembarangan,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kehidupan orang percaya adalah proses. Perubahan tidak terjadi dalam sekejap. Karakter yang sudah terbentuk sejak kecil—baik dari keluarga maupun lingkungan—tidak mudah diubah. Misalnya, seseorang yang terbiasa hidup dalam kemarahan atau kekerasan membutuhkan waktu panjang untuk menjadi lemah lembut.
“Bisa bertahun-tahun ikut Tuhan, tetapi masih ada satu karakter yang Tuhan mau ubah. Itu proses. Jangan menyerah, tetapi juga jangan merasa sudah selesai,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya kesombongan rohani. Banyak orang jatuh justru setelah dipakai Tuhan secara luar biasa. Ketika mulai merasa “sakti”, merasa hebat, dan menganggap urapan sebagai milik pribadi, di situlah awal kejatuhan.
“Tidak ada satu persen pun andil kita dalam urapan Tuhan. Semua murni karena kasih karunia-Nya,” tegasnya.
Dalam penutupnya, Pdt. Filipus mengajak jemaat PDK IMANUEL untuk terus mengejar urapan Tuhan dengan sikap hati yang benar—rendah hati, taat, dan mau dibentuk. Ia juga menegaskan bahwa ketika Tuhan mempercayakan pelayanan—baik mendoakan orang sakit, melepaskan yang terikat, atau mengalami mujizat—semuanya harus dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan.
“Kalau Tuhan pakai kita, itu bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan baik. Tetap rendah hati, tetap berjaga, dan tetap hidup benar,” pungkasnya.
Ibadah ini menjadi pengingat kuat bahwa urapan Tuhan bukan sekadar kuasa untuk melakukan hal besar, tetapi juga tanggung jawab untuk hidup dalam kebenaran. Tanpa karakter yang dibentuk, urapan bisa hilang. Namun dengan kerendahan hati dan ketaatan, hidup orang percaya dapat terus dipakai Tuhan secara luar biasa.
Sebagai penutup, kami mengundang jemaat atau jiwa jiwa yang dekat lokasi PDK ini yang rindu bertumbuh saling mendoakan dalam iman untuk hadir dalam persekutuan doa yang dikoordinir oleh PDK Imanuel di kediaman Ibu Nining Soeratto, Perum Small-Villa No. 10, Jl. Elang Raya RT. 04/003, Rawa Lama, Ciputat, Tangerang Selatan.
Kiranya setiap kesempatan yang ada tidak disia-siakan, tetapi menjadi momen untuk semakin dekat dengan Tuhan, dipulihkan, dan dikuatkan. Melalui persekutuan, firman, dan doa, iman kita akan terus bertumbuh, tidak goyah, dan semakin dewasa.
Mari datang dengan hati yang rindu akan Tuhan, supaya hidup kita terus diubahkan dan dipakai menjadi saluran berkat. Tuhan memberkati. Amin.
(Suwidodo)



Tinggalkan Balasan