JAKARTA — Di tengah dunia yang berubah cepat, ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), krisis energi, ancaman lingkungan, hingga ketimpangan akses teknologi menjadi tantangan nyata, sebuah pesan kuat menggema dari lantai 10 Kampus ITB Jakarta: Indonesia tidak boleh tertinggal, Kampus ITB jl. Rasuna said Kuningan Jakarta pada hari Rabu (13/5/2026) pukul 16.00 wib,
Bukan sekadar forum biasa, ITB Women in STEAM menjadi panggung lahirnya optimisme baru tentang masa depan bangsa. Di ruangan itu, para perempuan pemimpin, akademisi, teknokrat, profesional, dan pengambil keputusan berkumpul dengan satu semangat yang sama: bagaimana Indonesia tetap berdiri tegak, berdaulat, dan tidak menjadi penonton di negeri sendiri.

Di hadapan para peserta, hadir sosok-sosok perempuan yang selama ini bekerja dalam senyap, tetapi sesungguhnya sedang ikut menentukan arah bangsa.
Sherly Tjoanda, perempuan pemimpin dari timur Indonesia, membawa suara tentang harapan daerah, tentang pembangunan yang tidak boleh meninggalkan rakyat di pelosok, tentang anak-anak Indonesia yang harus mendapat kesempatan yang sama.
Di sektor energi dan kebijakan strategis, Yani Panigoro mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan keberanian untuk membangun riset sendiri, bukan terus bergantung pada bangsa lain.
Sementara itu, Dea Indriani Astuti menyampaikan kegelisahan yang mungkin selama ini dirasakan banyak akademisi: terlalu banyak hasil penelitian berhenti di rak perpustakaan, padahal rakyat membutuhkan jawaban nyata.
“Riset jangan berhenti di laporan ilmiah,” menjadi pesan yang terasa begitu dalam.
Karena di balik setiap penelitian, ada harapan pasien yang membutuhkan obat, ada petani yang ingin panennya lebih baik, ada masyarakat yang berharap hidupnya berubah.
Namun salah satu momen paling menggugah datang ketika dunia teknologi dibicarakan.

Ervia Tissyaraksita Devi, Vice President Integrated Portfolio Management Direktorat Strategic Business Development & Portfolio PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, berbicara dengan nada yang tak sekadar teknis, tetapi menyentuh kesadaran kebangsaan.
Ia menggambarkan bagaimana Indonesia sebenarnya sudah memiliki infrastruktur digital besar: kabel fiber optik yang membentang di darat dan bawah laut, panjangnya lebih dari empat kali keliling bumi, puluhan pusat data, tower komunikasi, hingga satelit Merah Putih.
Namun di balik kebanggaan itu, terselip kegelisahan.
“Sayang kalau kita sudah punya semuanya, tetapi yang menguasai justru pihak asing,” ujarnya.
Kalimat itu menggantung di ruangan.
Sebab pertanyaannya sederhana namun menghantam kesadaran: ; Apakah Indonesia hanya akan menjadi pasar?
Apakah anak-anak negeri ini hanya akan menjadi pengguna teknologi asing, sementara kecerdasan, data, dan masa depan bangsa dikelola orang lain?
Ervia mengingatkan bahwa masa depan sedang bergerak menuju AI, IoT, Cloud Computing, dan deep technology. Bila Indonesia gagal masuk dalam arus besar itu, maka ketertinggalan bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan.
Bayangkan, di era ketika dunia berbicara tentang teknologi supercanggih, masih ada anak Indonesia di pelosok yang kesulitan mendapat sinyal.
Masih ada sekolah yang tertinggal.
Masih ada daerah yang seolah jauh dari denyut pembangunan digital.
Padahal, seperti dikatakan para pembicara, di balik satu garis sinyal di ponsel, ada infrastruktur panjang, kabel bawah laut, tower, data center, dan perjuangan besar agar negeri ini tetap terhubung.

Rosa Permata Sari berbicara tentang pentingnya perempuan mengambil ruang dalam sektor energi strategis.
Viviani Suhar mengingatkan bahwa pembangunan membutuhkan integritas dan tata kelola yang baik.
Ajeng Budiarti Sastrawati Yuliatmojo menekankan pentingnya gotong royong lintas profesi.
Sementara para pemimpin akademik dan profesional lain berbicara tentang satu hal yang sama: Indonesia harus percaya pada kemampuannya sendiri.
Bahwa bangsa besar tidak dibangun oleh rasa takut.
Bangsa besar dibangun oleh keberanian bermimpi, keberanian meneliti, keberanian gagal, lalu mencoba lagi.
Tetapi bagi banyak yang hadir, itu terasa seperti pengingat bahwa bangsa ini masih punya harapan.
Bahwa ketika perempuan-perempuan hebat berbicara tentang energi, teknologi, pendidikan, dan masa depan, sesungguhnya mereka sedang berbicara tentang anak-anak Indonesia yang belum lahir, tentang negeri yang ingin diwariskan, tentang mimpi besar agar Merah Putih tetap berdiri sejajar di tengah bangsa-bangsa dunia.
Karena sesungguhnya pertanyaan terbesar hari ini bukan apakah Indonesia bisa maju.
Tetapi apakah kita cukup berani untuk memperjuangkannya.
Dari Kebijakan ke Dampak: Pemimpin Perempuan, Akademisi, dan Industri Perkuat Riset serta Kedaulatan Teknologi Indonesia
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas profesional dinilai menjadi kunci penting dalam menjawab tantangan masa depan Indonesia, mulai dari ketahanan energi, ketahanan air, kesehatan, pangan, stabilitas lingkungan, hingga kedaulatan teknologi informasi.
Pesan tersebut mengemuka dalam forum bertajuk “From Policy to Impact: Bridging Government, Academia, and Women Leaders” yang menghadirkan para pemimpin perempuan dari berbagai sektor strategis untuk membahas bagaimana kebijakan dapat diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi masyarakat.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber perempuan dari sektor pemerintahan, industri energi, akademik, teknologi, hingga organisasi profesi, yakni Sherly Tjoanda selaku Gubernur Provinsi Maluku Utara, Yani Panigoro, Dea Indriani Astuti, Rosa Permata Sari, Viviani Suhar, serta Ervia Tissyaraksita Devi selaku Vice President Integrated Portfolio Management, Direktorat Strategic Business Development & Portfolio PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
Ketahanan Air, Energi, dan Lingkungan Jadi Tantangan Besar
Diskusi menyoroti bahwa tantangan Indonesia ke depan tidak hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana memastikan keberlanjutan pembangunan melalui penguatan ketahanan energi, ketahanan air, pangan, kesehatan, dan stabilitas lingkungan.
Konsep green ecosystem atau ekosistem hijau dinilai harus menjadi arah pembangunan nasional agar industrialisasi tidak mengorbankan keseimbangan lingkungan.
Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa penguatan riset harus diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat dan pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Riset Tak Boleh Berhenti di Laporan Ilmiah
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya ITB, Prof. Dr. Dea Indriani Astuti, S.Si., menjelaskan bahwa riset di perguruan tinggi harus dibangun berdasarkan kepakaran peneliti sekaligus kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, skema riset nasional umumnya bersifat global, seperti kesehatan, ketahanan pangan, energi, dan lingkungan. Namun implementasinya harus dikembalikan kepada kompetensi masing-masing peneliti.
“Yang kita kerjakan tidak boleh berhenti di laporan ilmiah, tetapi harus dapat diteruskan oleh mitra industri agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Prof. Dea.
Ia menjelaskan bahwa dalam bidang teknologi farmasi, riset diarahkan pada pengembangan formulasi yang siap ditransfer menjadi produk industri, sehingga dapat diproduksi secara massal dan digunakan masyarakat luas.
Karena itu, hilirisasi riset melalui kemitraan dengan industri menjadi langkah penting agar inovasi kampus tidak berhenti sebagai dokumen akademik.
Pendanaan Riset Semakin Kompetitif
Selain tantangan implementasi, para narasumber juga menyoroti persoalan pendanaan riset nasional yang semakin kompetitif.
Jumlah peneliti yang terus bertambah setiap tahun, sementara alokasi pendanaan terbatas, dinilai membuat persaingan semakin ketat.
Yani Panigoro menilai pemerintah perlu menerapkan kebijakan pendanaan yang lebih berkeadilan dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan perguruan tinggi di Indonesia.
Menurutnya, perguruan tinggi yang baru berkembang membutuhkan pendampingan berbeda dibanding kampus yang telah maju dan memiliki kapasitas riset tinggi.
Karena itu, kampus juga didorong untuk tidak hanya mengandalkan dana pemerintah, tetapi aktif mencari peluang pembiayaan dari sektor swasta maupun lembaga internasional.
“Perguruan tinggi yang sudah unggul harus berani bersaing mendapatkan dana riset dari pihak luar, karena kompetisinya lebih sehat dan fair,” ujar Yani Panigoro.
Indonesia Harus Berdaulat di Bidang Teknologi Informasi
Dalam sesi transformasi digital, Ervia Tissyaraksita Devi menegaskan bahwa Indonesia harus mulai membangun kedaulatan teknologi informasi, terutama di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Cloud Computing.
Menurut Ervia, kebutuhan aplikasi digital di Indonesia berkembang sangat cepat sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi keharusan.
“Karena banyak sekali aplikasi yang harus dibangun, akhirnya kita memutuskan untuk berpartner. Fokus ke depan adalah teknologi informasi, IoT, AI, dan cloud computing karena itu yang sedang sangat dibutuhkan,” ujar Ervia.
Ia mengingatkan bahwa jika Indonesia tidak segera memperkuat kapasitas digital nasional, maka dominasi teknologi dapat kembali dikuasai pihak asing.
“Kalau kita tidak masuk ke sana, khawatirnya orang luar yang akan menguasai apa yang ada di Indonesia,” tegasnya.
Dari UMKM hingga Infrastruktur Digital Nasional
Ervia menjelaskan bahwa berbagai inovasi digital sebelumnya telah dikembangkan untuk mendukung UMKM, pendidikan, kesehatan, hingga perdagangan, termasuk platform digital pendidikan seperti Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Namun ke depan, fokus akan diperkuat pada pembangunan digital infrastructure atau infrastruktur digital nasional.
Infrastruktur tersebut juga diperkuat oleh sekitar 82 data center, jaringan tower telekomunikasi, dan satelit nasional yang menopang konektivitas Indonesia.
“Sayang kalau kita sudah punya semuanya, tetapi justru pihak asing yang menguasai. Karena itu kita harus memiliki sovereignty atau kedaulatan teknologi informasi,” ujarnya.
IA ITB Dinilai Mampu Menjadi Penggerak
Forum juga menegaskan besarnya potensi komunitas alumni ITB dalam mendorong transformasi nasional.
Dengan jaringan alumni yang luas di berbagai sektor strategis, IA ITB dinilai memiliki kapasitas untuk menjembatani kebutuhan pemerintah, dunia industri, dan riset.
Para pembicara sepakat bahwa pengembangan teknologi dan riset bukan hanya persoalan bisnis, melainkan bagian dari pengabdian kepada bangsa.
Indonesia, sebagai negara besar, dinilai membutuhkan pemerataan akses teknologi hingga ke wilayah terpencil.
“Masa hari ini masih ada daerah yang sulit sinyal? Padahal di balik itu ada infrastruktur panjang yang harus dibangun agar semuanya terkoneksi,” ungkap Ervia.
Forum tersebut menjadi penegasan bahwa masa depan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan bangsa membangun riset, inovasi, kepemimpinan perempuan, dan kedaulatan teknologi nasional.
“Riset yang berhasil bukan hanya yang dipublikasikan, tetapi yang benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” menjadi semangat utama yang mengemuka dalam forum tersebut.
Dengan kolaborasi yang terbangun, ITB dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara diharapkan mampu menghadirkan program-program strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat, sekaligus memperkuat pembangunan berbasis sains, teknologi, seni, dan humaniora di daerah.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi harapan baru bahwa kemajuan tidak hanya dinikmati kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah yang menyimpan potensi besar seperti Maluku Utara. Sebab masa depan Indonesia akan lahir dari keberanian membangun bersama, berbagi ilmu, dan menghadirkan perubahan nyata bagi rakyat.
(Suwidodo)



Tinggalkan Balasan