, , ,

Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara Tegaskan Riset Harus Berdampak, Gubernur Sherly Tjoanda Dorong Kolaborasi Bangun Maluku Utara

JAKARTA —indonesiasatu928,  Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Tatacipta Dirgantara Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan pentingnya penguatan riset dan inovasi sebagai fondasi utama daya saing Indonesia di masa depan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium maupun publikasi ilmiah, tetapi diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional.

Pernyataan tersebut mengemuka dalam rangkaian forum ITB Women in STEAM, yang mempertemukan pemimpin perempuan, akademisi, pemerintah, serta pelaku industri dalam membahas masa depan Indonesia berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, energi, dan penguatan sumber daya manusia.

Menurut Prof. Tatacipta Dirgantara, tantangan Indonesia ke depan tidak cukup dijawab hanya dengan kebijakan administratif atau eksploitasi sumber daya alam. Bangsa ini membutuhkan penguatan riset, teknologi, dan inovasi agar mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah, tetapi hadir menjadi solusi nyata untuk masyarakat,” tegasnya.

Ia menilai pengembangan teknologi tinggi (deep technology) harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen inovasi yang memiliki daya saing global.

ITB dan Maluku Utara: Kolaborasi untuk Masa Depan Kawasan Timur Indonesia

Dalam forum yang sama, kerja sama antara ITB dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dinilai menjadi harapan baru untuk mempercepat pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, dalam pidatonya menegaskan bahwa Maluku Utara saat ini menjadi salah satu wilayah strategis Indonesia Timur yang berkembang pesat sebagai pusat hilirisasi industri nasional, khususnya sektor nikel.

Sherly menjelaskan bahwa Maluku Utara kini menjadi salah satu pusat hilirisasi nikel terbesar di dunia, dengan dua kawasan utama yang menjadi tumpuan industri, yakni Pulau Obi di Kabupaten Halmahera Selatan dan kawasan industri Teluk Weda di Pulau Halmahera.

Kawasan tersebut berkembang menjadi salah satu pusat tambang dan smelter nikel terbesar dunia dengan produksi mencapai ratusan ribu ton per tahun.

Berbagai fasilitas pengolahan bijih nikel (smelter) telah beroperasi dan menghasilkan produk strategis seperti Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel untuk kebutuhan industri global.

Pengembangan industri tersebut melibatkan konsorsium perusahaan internasional, termasuk Tsingshan Holding Group dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melalui PT Weda Bay Nickel.

Meski demikian, Sherly menegaskan bahwa pertumbuhan industri besar harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga mendorong penguatan ketahanan pangan daerah, termasuk pengembangan budidaya ayam petelur, peternakan unggas, serta industri perikanan laut yang dinilai memiliki potensi besar untuk menopang ekonomi masyarakat.

“Pembangunan harus dirasakan masyarakat. Kita tidak ingin hanya industri besar yang tumbuh, tetapi masyarakat lokal juga harus memperoleh manfaat ekonomi nyata,” menjadi pesan yang mengemuka dalam penyampaian Sherly.

Riset untuk Rakyat, Teknologi untuk Daerah

Kolaborasi antara ITB dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dipandang sebagai langkah strategis untuk menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Maluku Utara, ditambah dukungan keilmuan dari perguruan tinggi unggulan seperti ITB, masyarakat berharap pembangunan tidak hanya dinikmati sektor industri besar, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata di bidang pendidikan, teknologi tepat guna, pertanian, perikanan, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut diharapkan menjadi model pembangunan baru berbasis ilmu pengetahuan, di mana kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga mitra strategis pemerintah daerah dalam menjawab tantangan pembangunan.

Di tengah persaingan global dan perubahan teknologi yang bergerak cepat, pesan yang mengemuka dari forum tersebut terasa jelas: Indonesia tidak cukup hanya kaya sumber daya alam, tetapi harus mampu mengubah kekayaan itu menjadi kemajuan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan keberpihakan pada rakyat.

(Suwidodo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 3815