, ,

DOA, BUDAYA, DAN INTEGRITAS: JALAN BARU PERS NASRANI

Catatan atas API & DOA PEWARNA — Jelajah Budaya Jawa Bali

Oleh: Dr. Antonius Natan, Committee Chairperson

Saya tidak sedang menulis laporan kegiatan. Saya sedang menyampaikan sebuah pandangan.

Pandangan ini berangkat dari satu kegelisahan sederhana: terlalu banyak penghargaan berhenti di atas panggung. Ada foto bersama, tepuk tangan, piagam, lalu semuanya selesai. Setelah itu, teladan yang seharusnya dirawat perlahan kembali menjadi kenangan.

Karena itu, penghargaan semestinya tidak hanya menjadi seremoni. Ia harus menjadi cara untuk menghadirkan teladan kepada publik.

Di Gedung Nusantara, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, PEWARNA Indonesia menyiapkan Apresiasi PEWARNA Indonesia (API) 2026, yang menjadi bagian dari rangkaian API & DOA PEWARNA — Jelajah Budaya Jawa Bali: Menyusuri Warisan & Menyemai Harapan.

Subtema yang diusung adalah “Merawat Keberagaman, Menegakkan Integritas, dan Menyemai Harapan Kebangsaan.”

Tema tersebut mungkin terdengar familiar. Namun justru karena nilai-nilai itu terus dibutuhkan, ia tidak boleh berhenti sebagai slogan.

Keterangan foto: Ketua Umum PEWARNA Indonesia bersama jKetua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dalam sebuah pertemuan yang memperkuat sinergi, komunikasi, dan kerja sama dalam merawat keberagaman serta membangun kehidupan kebangsaan yang damai.

Penghargaan Harus Menjadi Pendidikan Publik

API 2026 ingin menempatkan penghargaan dalam perspektif yang lebih luas.

Tokoh dan lembaga yang diapresiasi bukan semata-mata karena popularitas, jabatan, atau kedekatan dengan organisasi. Yang lebih penting adalah rekam kerja dan kontribusi nyata bagi masyarakat, kehidupan berbangsa, pelayanan keagamaan, kebudayaan, maupun kemanusiaan.

Di sinilah penghargaan memperoleh makna yang lebih besar.

Sebuah penghargaan dapat menjadi pendidikan publik ketika masyarakat diperkenalkan kepada orang-orang yang bekerja dengan ketulusan, konsistensi, dan integritas.

Generasi muda membutuhkan contoh konkret. Mereka tidak cukup hanya mendengar tentang kejujuran, keberagaman, pelayanan, dan tanggung jawab. Mereka perlu melihat bahwa nilai-nilai tersebut benar-benar dijalankan.

API 2026 menyiapkan 12 kategori nominasi yang mencakup berbagai bidang, mulai dari keberagaman, kerukunan, penegakan hukum, kebudayaan, pendidikan, media, hingga tokoh muda yang memberikan inspirasi.

Cakupan tersebut menunjukkan bahwa apresiasi tidak harus berhenti pada lingkungan internal PEWARNA. Justru keterbukaan terhadap berbagai unsur masyarakat menjadi penting agar penghargaan tidak berubah menjadi ruang eksklusif.

Kebaikan tidak mengenal sekat organisasi. Teladan tidak mengenal batas identitas.

Pers dan Integritas

Pers memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan berita.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menempatkan pers nasional sebagai sarana informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Pada saat yang sama, pers dituntut menghormati norma agama, kesusilaan, serta asas praduga tidak bersalah.

Kode Etik Jurnalistik juga menempatkan akurasi, independensi, keberimbangan, dan tanggung jawab sebagai bagian penting dalam kerja jurnalistik.

Karena itu, bagi wartawan Nasrani, integritas seharusnya tidak hanya menjadi tuntutan profesi, tetapi juga bagian dari panggilan moral.

Di ujung pena seorang wartawan bukan hanya terdapat informasi. Di sana ada nama baik, kehormatan, masa depan, bahkan kehidupan seseorang.

Karena itu, sebelum sebuah berita ditulis, ada pertanyaan sederhana yang harus terus dihidupkan:

Apakah informasi ini benar? Apakah sumbernya jelas? Apakah sudah diverifikasi? Apakah pemberitaan ini memberikan manfaat bagi publik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar pers tidak berubah menjadi ruang penghakiman.

Doa Tidak Menggantikan Verifikasi

Di sinilah kata DOA memperoleh makna yang penting.

Yesaya 52:7 berkata:

«“Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik.”»

Ayat ini memiliki resonansi yang kuat dengan tugas jurnalistik.

Seorang wartawan membawa kabar kepada publik. Karena itu, kabar yang dibawa seharusnya tidak lahir dari kebencian, prasangka, atau kepentingan sesaat.

Namun doa juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan disiplin jurnalistik.

Doa harus berjalan bersama verifikasi.

Data harus diperiksa. Sumber harus jelas. Konfirmasi harus dilakukan. Informasi yang belum terverifikasi tidak boleh diperlakukan sebagai fakta. Tuduhan harus ditempatkan secara proporsional dan asas praduga tidak bersalah harus dihormati.

Inilah salah satu bentuk nyata integritas.

Jurnalisme damai bukan berarti menutupi persoalan. Jurnalisme damai justru berani menyampaikan fakta, tetapi dengan cara yang membuka ruang penyelesaian dan tidak memperbesar konflik secara tidak perlu.

Jelajah Budaya: Membaca Indonesia dari Warisan Leluhur

Jelajah Budaya Jawa Bali juga membawa pesan yang tidak kalah penting.

Indonesia tidak hanya dibangun melalui gedung-gedung modern dan perkembangan teknologi. Indonesia juga dibentuk oleh sejarah, tradisi, situs budaya, rumah ibadah, karya seni, bahasa, cerita rakyat, dan berbagai warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memberikan kerangka bagi pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Candi, gereja tua, masjid, pura, situs sejarah, maupun tradisi lisan bukan sekadar objek wisata.

Di dalamnya terdapat memori bangsa.

Pers memiliki peran penting dalam memperkenalkan warisan tersebut kepada masyarakat. Pemberitaan mengenai budaya bukan sekadar membuat objek budaya menjadi terkenal, tetapi juga membantu masyarakat memahami sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Jangan sampai peninggalan leluhur hanya menjadi latar belakang foto.

Kita perlu membaca kisah yang tersimpan di baliknya.

Keberagaman sebagai Ruang Pertemuan

API & DOA PEWARNA mempertemukan berbagai unsur: tokoh lintas iman, pejabat publik, pelaku budaya, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, dan insan pers.

Pertemuan semacam ini penting karena Indonesia dibangun dari keberagaman.

Keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi ruang untuk belajar mendengar, memahami, dan bekerja sama.

Di tengah ruang digital yang sering dipenuhi perdebatan keras, informasi yang tidak terverifikasi, dan provokasi, ruang dialog menjadi semakin penting.

Kita membutuhkan ruang yang memungkinkan orang berbeda keyakinan, latar belakang, dan pandangan untuk duduk bersama tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Berbeda bukan berarti bermusuhan. Beriman bukan berarti menutup diri. Dan memiliki prinsip bukan berarti kehilangan kasih.

Dari Seremoni Menuju Gerakan

Pada akhirnya, API & DOA PEWARNA — Jelajah Budaya Jawa Bali tidak seharusnya berhenti pada sebuah malam penghargaan.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah panggung selesai.

Apakah tokoh yang diapresiasi terus menjadi teladan?

Apakah pers semakin disiplin melakukan verifikasi?

Apakah generasi muda semakin mengenal sejarah dan budaya bangsanya?

Apakah dialog lintas iman semakin membuka ruang kerja sama?

Dan apakah doa benar-benar melahirkan tindakan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi ukuran keberlanjutan sebuah gerakan.

Pers Nasrani tidak harus menjadi pers yang eksklusif. Sebaliknya, ia dapat hadir sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan dengan membawa nilai-nilai kekristenan: kebenaran, kasih, keadilan, pengampunan, tanggung jawab, dan pelayanan.

Karena itu, doa, budaya, dan integritas bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri.

Doa membentuk hati.

Budaya mengajarkan kita menghargai perjalanan bangsa.

Integritas menjaga agar pena tetap berada di jalan kebenaran.

Jika ketiganya berjalan bersama, penghargaan tidak lagi sekadar menjadi seremoni.

Ia dapat menjadi awal dari gerakan yang lebih panjang: merawat keberagaman, menjaga integritas, menghidupkan kebudayaan, dan menyemai harapan bagi Indonesia.

Sebab pada akhirnya, pers bukan hanya tentang apa yang kita tulis.

Pers juga tentang nilai apa yang kita wariskan melalui tulisan itu.

Pro Ecclesia et Patria.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 6681
  • Pos tanpa judul 6998
  • Pos tanpa judul 4994