Tangani Karhutla di Riau, BNPB Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., MM, pimpin pelaksanaan penanganan karhutla di Riau.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kini kembali marak terjadi di Provinsi Riau, membuat pihak BNPB kembali melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi ini merupakan bentuk mitigasi sekaligus penanganan darurat karhutla di wilayah Provinsi Riau. Demikian Siaran Pers BNPB pada Minggu (20/7/2025).

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), titik panas (hotspot) sebagai indikator Karhutla di Pulau Sumatra meningkat tajam. Berdasarkan pantauan satelit, ditemukan sebanyak 694 titik panas di Sumatra dan 259 titik di antaranya terdeteksi di Provinsi Riau.

Karhutla ini telah menimbulkan terjadinya kabut asap tipis. Kompas.com melaporkan bahwa pada Jumat (18/7/2025), mulai pukul 06.00 hingga pukul 09.00 pagi, kabut asap tipis terlihat menyelimuti permukiman warga di wilayah Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar dan ruas jalan lintas Sumatera Pekanbaru-Bangkinang.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Ph.D, OMC di Riau akan dilakukan selama tujuh hari, mulai dari Senin (21/7) hingga Minggu (27/7). Namun demikian, katanya, operasi yang dilakukan untuk menurunkan hujan buatan ini dapat diperpanjang dengan melihat hasil evaluasi, analisa dan kondisi lain di lapangan.

Muhari menjelaskan, pelaksanaan OMC ini dilakukan dengan menaburkan bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) atau garam dapur ke kumpulan bibit awan hujan. Partikel NaCl ini kemudian akan menempel pada butiran-butiran uap air yang terkandung di dalam bibit awan hujan sehingga berat atau masanya bertambah dan hujan dapat diturunkan di posisi yang dikehendaki berdasar hasil analisis tim di darat. Selain NaCl, bahan semai dapat juga dengan menggunakan Kalsium Oksida (CaO) atau kapur tohor. Kapur ini berfungsi untuk mengurai partikel asap dan gas yang dihasilkan karhutla sehingga proses penguapan dan pembentukan awan hujan dapat segera terjadi. Penyemaian kapur tohor ini biasa juga dilakukan bila asap terlalu banyak menutupi area penguapan. Dalam kondisi yang demikian, maka pesawat menyemai kapur tohor terlebih dahulu. Setelah terbentuk awan hujan, bahan semai garam dapur disebar ke angkasa.

Berbeda dengan OMC yang dilaksanakan oleh BNPB di Jabodetabek beberapa waktu lalu. Jika pada di Jabodetabek OMC dilakukan agar redistribusi curah hujan tidak turun di bagian hulu sungai maupun kawasan terdampak banjir saja, maka yang akan dilaksanakan di Riau ini justru diharapkan bahwa hujan dapat turun di lokasi target yang terdapat titik api.

Untuk melaksanakan OMC, kata Muhari, pihaknya akan mengerahkan sebuah pesawat Cessna dengan nomor registrasi PK SNL (C 208 B) dari Bandara Pondok Cabe, Pamulang, Banten, menuju Riau pada hari Minggu (20/7).  Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., akan memimpin pelaksanaan penanganan karhutla di Riau secara langsung pada Senin (21/7). Sebelumnya, Kepala BNPB telah mengintruksikan kepada seluruh kepala daerah yang terdampak untuk menetapkan status tanggap darurat karhutla, sehingga penanganannya lebih optimal, terpusat dan terorganisir dengan baik.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., MM, pimpin pelaksanaan penanganan karhutla di Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *