Belakangan ini, kita melihat fenomena yang semakin nyata: rumah sakit di berbagai kota di Indonesia tampak semakin ramai. Ruang tunggu penuh, antrean panjang, jadwal dokter padat, bahkan tempat tidur rawat inap sering kali terbatas. Seolah-olah masyarakat Indonesia kini lebih sering berobat dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Program JKN–BPJS Kesehatan membuka akses layanan medis yang lebih luas. Banyak orang yang dulu enggan atau tidak mampu berobat, kini berani memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Namun di sisi lain, gaya hidup modern juga membawa dampak. Pola makan tinggi gula dan lemak, kurang olahraga, stres akibat tekanan ekonomi dan pekerjaan, serta polusi lingkungan turut memicu berbagai penyakit, terutama penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Penyakit yang dahulu dianggap “penyakit orang tua” kini mulai menyerang usia produktif.
Fenomena ini menjadi cermin bahwa kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit, tetapi juga urusan pola hidup, pendidikan, lingkungan, dan kebijakan publik. Rumah sakit adalah tempat mengobati, tetapi pencegahan seharusnya dimulai dari rumah, sekolah, tempat kerja, dan ruang-ruang sosial kita.
Jika masyarakat semakin sadar berobat, itu pertanda baik. Tetapi akan lebih baik lagi jika masyarakat semakin sadar menjaga kesehatan sebelum sakit datang.
Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki banyak rumah sakit, melainkan bangsa yang rakyatnya hidup sehat, seimbang, dan peduli terhadap tubuh yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Ketika drainase buruk dan sampah menumpuk, demam berdarah mudah menyebar.
Ironisnya,kita sering lebih cepat membangun rumah sakit daripada membangun kesadaran menjaga lingkungan. Kita bersedia membayar biaya pengobatan, tetapi enggan membayar harga kedisiplinan untuk hidup bersih. Padahal memperbaiki lingkungan jauh lebih efektif dan berjangka panjang dibanding hanya mengobati penyakit yang sudah terjadi.
Menurut Teori Blum (1974) tentang determinan derajat kesehatan, ada empat faktor utama yang memengaruhi kesehatan masyarakat:
1. Lingkungan
2. Perilaku
3. Pelayanan kesehatan
4. Keturunan
Dan memang, dalam banyak kajian, faktor lingkungan disebut sebagai faktor terbesar yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat, bahkan bisa mencapai sekitar 40% atau lebih, tergantung konteks wilayah.
1. Mengapa Lingkungan Sangat Menentukan?
Lingkungan di sini bukan hanya alam, tetapi meliputi:
Lingkungan fisik (air bersih, sanitasi, udara, perumahan); Lingkungan sosial (kemiskinan, kepadatan penduduk, pola hidup); Lingkungan ekonomi; Lingkungan budaya.
Jika air tercemar → diare meningkat.
Jika udara buruk → ISPA dan penyakit paru meningkat.
Jika permukiman padat tanpa sanitasi → DBD mudah menyebar.
lArtinya, rumah sakit sering kali hanya menangani akibat, bukan akar persoalan.
2. Bagaimana Kesadaran Lingkungan di Indonesia Saat Ini?
Kalau kita jujur melihat realitas:
Sampah masih dibuang sembarangan.
Sungai menjadi tempat limbah rumah tangga.
Polusi kendaraan di kota besar tinggi.
Ruang terbuka hijau semakin berkurang.
Drainase buruk menyebabkan banjir dan penyakit pascabanjir.
Di sisi lain, memang ada peningkatan kesadaran:
- Gerakan bank sampah
- Komunitas peduli lingkungan (HAKLI)
- Program sanitasi dan air bersih
- Edukasi kesehatan berbasis masyarakat
Namun kesadaran itu belum merata dan belum menjadi budaya kolektif.
3. Paradoks yang Terjadi
Kita rajin berobat ke rumah sakit, tetapi belum cukup rajin menjaga lingkungan.
Kita membayar biaya pengobatan, tetapi enggan membayar “biaya disiplin” menjaga kebersihan.
Padahal menurut teori Blum, memperbaiki lingkungan jauh lebih efektif dan murah daripada membangun rumah sakit baru.
4. Refleksi Sosial
Jika kita hubungkan dengan fenomena rumah sakit yang semakin ramai, maka bisa jadi:
Bukan hanya karena akses layanan meningkat,
Tetapi karena kualitas lingkungan belum membaik secara signifikan.
Kesehatan bukan hanya soal dokter dan obat,
tetapi soal air yang kita minum, udara yang kita hirup, dan kebersihan yang kita jaga setiap hari.
5. Reflektif Singkat
Derajat kesehatan bangsa tidak terutama ditentukan oleh megahnya rumah sakit,
melainkan oleh bersihnya sungai, sehatnya udara,
tertibnya tata kota, dan sadarnya masyarakat menjaga lingkungannya.
Karena penyakit sering lahir dari lingkungan yang kita abaikan.
“Rumah sakit mengobati sakit, tetapi lingkungan yang bersih mencegahnya.”
“Jika udara kotor kita hirup setiap hari, jangan heran bila obat menjadi sahabat setia.”
“Menjaga lingkungan hari ini adalah menyelamatkan kesehatan esok hari.”
Sudah saatnya kita berhenti hanya menyalahkan sistem kesehatan ketika sakit datang. Perbaikan derajat kesehatan harus dimulai dari pembenahan lingkungan dan perubahan perilaku. Tanpa itu, rumah sakit akan terus penuh, dan penyakit akan terus berulang.
Red




Tinggalkan Balasan