, , ,

SELAT HORMUZ MULAI LONGGAR, IRAN PILIH KAPAL “BERSAHABAT” — DUNIA WASPADA KRISIS ENERGI

JAKARTA, IndonesiaSatu928 – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menunjukkan celah pelonggaran. Selat Hormuz, jalur laut paling vital bagi distribusi energi dunia, perlahan kembali dilintasi sejumlah kapal asing setelah sempat ditutup akibat konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Data pelacakan pelayaran menunjukkan sedikitnya tiga kapal tanker milik Oman, satu kapal kontainer Prancis, serta satu kapal pengangkut gas dari Jepang berhasil menyeberangi Selat Hormuz sejak Kamis (2/4/2026).

Namun pembukaan ini bukan berarti selat tersebut benar-benar bebas dilalui. Iran disebut hanya mengizinkan kapal dari negara yang dianggap tidak memiliki hubungan langsung dengan Amerika Serikat atau Israel.

Selat Hormuz sendiri merupakan “urat nadi energi dunia”. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas cair global melintas di jalur sempit ini setiap hari. Ketika jalur ini terganggu, pasar energi dunia langsung bergetar.

Salah satu kapal kontainer milik perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM bahkan dilaporkan mengubah identitas tujuan dalam sistem pelacakan otomatis menjadi “Pemilik Prancis” sebelum memasuki perairan Iran. Langkah itu diyakini sebagai sinyal diplomatik agar kapal tersebut diizinkan melintas.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan pembukaan Selat Hormuz tidak bisa dicapai lewat kekuatan militer.

“Solusinya diplomasi, bukan operasi militer,” tegas Macron dalam pernyataannya.

Sementara itu, pemerintah China juga melaporkan tiga kapal mereka berhasil keluar dari Teluk Persia setelah melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Beijing sekaligus mendesak semua pihak segera menghentikan konflik dan memulihkan stabilitas kawasan Teluk.

Di tengah situasi tegang, sejumlah kapal bahkan dilaporkan mematikan sinyal pelacakan AIS saat menyeberang, menandakan ancaman keamanan di jalur laut tersebut masih sangat tinggi.

Negara Oman kini kembali disebut memainkan peran penting sebagai mediator diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat. Namun Oman juga mengkritik keras serangan udara yang dilakukan saat proses perundingan masih berlangsung.

Selat Hormuz boleh saja mulai dilintasi kembali, tetapi dunia belum bisa bernapas lega. Selama konflik belum mereda, keran energi global tetap berada di ujung jari geopolitik—dan satu percikan konflik saja bisa membuat harga minyak dunia kembali meledak.

(Suwidodo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s