JAKARTA — Wartawan memiliki peran strategis bukan hanya sebagai pencari dan penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian penting dalam membangun kepercayaan publik, menjaga kemerdekaan pers, memperkuat persaudaraan, dan merawat kerukunan umat beragama di tengah keberagaman Indonesia, House Filadelfia Balleza Permata Hijau, Senin (10/8/2026) pukul 16.15 wib.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Character Building PEWARNA yang diselenggarakan pada Senin, 10 Agustus 2026, di GSPDI Bellezza Permata Hijau, Jakarta Selatan. Salah satu materi utama disampaikan Dr. John N. Palinggi, M.M., M.B.A., Sekretaris Jenderal BISMA, dengan tema “Peran Wartawan dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama.”

Kemerdekaan Pers Harus Disertai Tanggung Jawab
Dalam paparannya, John N. Palinggi mengingatkan pentingnya wartawan memahami Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kemerdekaan pers merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi, sedangkan pers mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
Wartawan juga mendapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan profesinya untuk mencari dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Di sisi lain, wartawan memiliki kewajiban untuk bekerja berdasarkan hukum, kode etik, akurasi, keberimbangan, serta kepentingan publik.
Dewan Pers, menurut materi yang disampaikan, mempunyai peran penting dalam mengembangkan dan melindungi kemerdekaan pers serta membantu penyelesaian berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan pers.
Termasuk di dalamnya pemahaman mengenai hak tolak, yaitu hak wartawan untuk menjaga kerahasiaan identitas narasumber dalam kondisi yang sesuai dengan ketentuan hukum.
Namun, kemerdekaan pers bukanlah kebebasan tanpa batas. Semakin besar kebebasan yang dimiliki wartawan, semakin besar pula tanggung jawab moral dan profesional yang harus dijalankan.
Character Building Dimulai dari Diri Sendiri
Menurut John, memahami peraturan merupakan bagian dari membangun karakter. Namun, seorang profesional tidak cukup hanya mengetahui aturan. Ia harus memiliki kemampuan untuk melakukan introspeksi dan mengevaluasi dirinya sendiri.
Jangan sampai seseorang selalu menyalahkan orang lain ketika menghadapi persoalan tanpa bertanya apakah dirinya juga memiliki tanggung jawab terhadap persoalan tersebut.
Bagi wartawan, introspeksi dapat dilakukan dengan bertanya: apakah informasi yang disampaikan benar, apakah narasumber diperlakukan secara adil, apakah pemberitaan berimbang, dan apakah keputusan jurnalistik yang dibuat sudah sesuai dengan hukum dan etika.
Dengan demikian, hukum memberikan batas, kode etik memberikan pedoman, sedangkan karakter memberikan kekuatan moral dalam menjalankan profesi.

Keberagaman Justru Menjadi Kekuatan
Dalam menjelaskan pentingnya keberagaman, John menggunakan analogi sebuah habitat.
Habitat yang hanya dihuni satu macam spesies akan lebih rentan apabila menghadapi serangan. Sebaliknya, habitat yang memiliki banyak spesies mempunyai daya lenting dan kemampuan bertahan yang lebih tinggi.
Analogi tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat.
Keberagaman bukan kelemahan. Jika dikelola dengan baik, keberagaman justru menjadi kekuatan dan meningkatkan daya tahan sebuah komunitas.
Pengalaman bekerja selama puluhan tahun dalam lingkungan yang beragam juga menjadi contoh bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi seseorang untuk bekerja sama.
Ia menyampaikan sebuah ungkapan sederhana:
“Kucing hitam, kucing putih tidak penting. Yang penting bisa menangkap tikus.”
Pesannya jelas: seseorang jangan dinilai hanya berdasarkan warna kulit, etnis, agama, atau kelompoknya. Yang lebih penting adalah integritas, kemampuan, kontribusi, dan perbuatannya.
Wartawan Harus Melihat Manusia sebagai Manusia
Prinsip tersebut sangat relevan dengan dunia jurnalistik.
Ketika melihat seseorang, wartawan jangan terlebih dahulu memberikan label berdasarkan agama atau kelompoknya. Yang harus dilihat adalah bahwa ia merupakan manusia dan bagian dari kehidupan masyarakat.
Identitas agama atau kelompok tentu dapat diberitakan apabila relevan dengan fakta peristiwa. Namun, identitas tersebut jangan dijadikan alat untuk membangun stigma, prasangka, atau permusuhan.
Wartawan harus mampu menghadirkan manusia secara utuh dan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai salah satu dasar pemberitaan.
Nilai Agama sebagai Landasan Kerukunan
Dalam paparannya, John juga menjelaskan bahwa berbagai agama memiliki nilai-nilai yang mendorong manusia untuk membangun hubungan baik dengan Tuhan dan sesama.
Dalam Islam dikenal konsep hablum minallah dan hablum minannas, serta semangat rahmatan lil ‘alamin. Dalam Kekristenan terdapat ajaran kasih kepada Tuhan dan sesama. Sementara dalam Hindu, Buddha, dan Konghucu juga terdapat nilai-nilai tentang persaudaraan, cinta kasih, keharmonisan, dan hubungan baik antarmanusia.
Nilai-nilai tersebut dapat menjadi titik temu dalam membangun kehidupan bersama.
Karena itu, perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Menghormati Kitab Suci dan Keyakinan
John juga mengingatkan pentingnya menghormati kitab suci dan keyakinan masing-masing umat beragama.
Setiap pemeluk agama memiliki keyakinan yang dianggap suci dan sakral. Karena itu, membangun kerukunan bukan dengan menyerang atau merendahkan kitab suci agama lain, melainkan dengan mengedepankan penghormatan, kasih, komunikasi, dan perbuatan baik.
Sikap tersebut merupakan semangat inklusif: mampu hidup, bekerja, dan membangun hubungan dengan siapa pun tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai tembok pemisah.
Menjadi Garam dan Terang
Dalam konteks nilai Kekristenan, John mengingatkan peserta mengenai panggilan untuk menjadi garam dan terang.
Garam memberi rasa dan terang memberikan penerangan. Demikian pula wartawan diharapkan memberikan manfaat melalui karya jurnalistik.
Berita seharusnya menerangi, bukan membakar. Kritik seharusnya memperbaiki, bukan menghancurkan.
Karena itu, wartawan harus berhati-hati menggunakan kebebasan pers agar pemberitaan tidak menjadi sumber kebencian atau perpecahan.
Menghormati Orang Tua dan Belajar Bersyukur
Pembentukan karakter juga dikaitkan dengan penghormatan kepada orang tua.
Kasih dan penghormatan kepada ayah dan ibu sebaiknya diberikan ketika mereka masih hidup, bukan baru dirasakan setelah mereka meninggal. Nilai tersebut mengajarkan manusia untuk tidak menunda perbuatan baik.
Selain itu, manusia juga diajak untuk belajar bersyukur dalam segala keadaan. Jangan hanya mendekat kepada Tuhan ketika memperoleh keberhasilan, rezeki, jabatan, atau kehidupan yang menyenangkan.
Ketika menghadapi kesulitan pun iman, pengharapan, dan tanggung jawab harus tetap dijaga.
Keberhasilan tidak boleh membuat manusia sombong, dan kesulitan tidak boleh membuat manusia meninggalkan Tuhan.
Teladan Kehidupan Bersama di Tengah Perbedaan
Dalam materi mengenai kerukunan, John juga menyinggung sejarah kehidupan masyarakat di Yathrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah, yang dihuni berbagai kelompok.
Pesan yang ditarik adalah pentingnya membangun kehidupan bersama dengan memberikan ruang bagi setiap kelompok untuk menjalankan keyakinannya, sekaligus bekerja sama dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.
Perbedaan agama tidak harus menghalangi kerja sama dalam bidang ekonomi, sosial, kemanusiaan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang memiliki keragaman agama dan budaya.
Dukungan Harus Nyata dan Administrasi Harus Transparan
Dalam bagian lain, narasumber juga membahas pentingnya dukungan yang nyata dalam proses kelembagaan atau pengorganisasian.
Dukungan harus memenuhi persyaratan yang berlaku dan dapat melibatkan berbagai unsur masyarakat. Keberagaman kelompok justru dapat menjadi kekuatan apabila dilakukan secara sah dan transparan.
Dukungan dari pimpinan atau ketua organisasi juga harus nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pengumpulan dukungan, identitas seperti KTP harus digunakan secara sah, berdasarkan persetujuan pemilik, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Data pendukung perlu diverifikasi, dicatat, dan ditandatangani secara benar.
Tidak boleh ada pemalsuan KTP, tanda tangan, identitas, maupun data dukungan.
Administrasi yang tertib merupakan bagian dari integritas karena setiap proses harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Integritas Dibangun Selama Puluhan Tahun
Pesan mengenai integritas juga diperkuat dengan refleksi perjalanan panjang dalam dunia bisnis, pekerjaan, dan pelayanan sosial.
Reputasi tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari konsistensi, kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga kepercayaan selama bertahun-tahun.
Seseorang tidak harus selalu tampil di depan publik untuk membuktikan dirinya. Ada orang yang bekerja dalam diam, melayani, membangun hubungan, dan memberikan kontribusi selama puluhan tahun.
Pada akhirnya, karya akan berbicara sendiri.
Keberagaman yang ditemui dalam perjalanan tersebut juga menjadi pelajaran bahwa manusia tidak perlu dipisahkan berdasarkan identitas. Yang penting adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawab dan memberikan manfaat bagi sesama.
Wartawan sebagai Perekat Kerukunan
Seminar Character Building PEWARNA pada akhirnya memberikan pesan bahwa wartawan mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga ruang publik.
Wartawan harus menjadi jembatan, bukan tembok; menjadi terang, bukan kegelapan; menjadi garam yang memberi rasa, bukan kepahitan yang memecah persaudaraan.
Kemerdekaan pers harus dijaga dengan integritas. Kebebasan harus disertai tanggung jawab. Perbedaan harus dirawat dengan saling menghormati.
Indonesia tidak menjadi kuat karena semua orang sama. Indonesia menjadi kuat karena masyarakat yang berbeda mampu hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja untuk kepentingan kemanusiaan.
Karena itu, wartawan yang berintegritas bukan hanya memberitakan apa yang terjadi. Ia juga ikut menentukan bagaimana masyarakat memahami realitas.
Dari Character Building PEWARNA lahir pesan penting: wartawan harus benar dalam memberitakan, bijak dalam berbicara, taat pada hukum, menghormati keyakinan, berani melakukan introspeksi, dan konsisten melakukan kebaikan.
Dengan karakter tersebut, jurnalistik tidak berhenti sebagai pekerjaan, tetapi menjadi panggilan untuk menghadirkan kebenaran, membangun persaudaraan, menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan Indonesia.
Red




Tinggalkan Balasan