Refleksi Bhikkhu Dhammashubo Mahathera
Saudara-saudaraku, …Jangan biarkan kemerdekaan hanya menjadi sebuah tanggal di kalender. Kemerdekaan harus menjadi api yang menyala di dalam jiwa!
Para pendahulu kita tidak menyerahkan hidupnya untuk melahirkan generasi yang takut bersuara, takut berkata benar, dan diam ketika melihat ketidakadilan.
Hari ini, musuh kita mungkin bukan lagi penjajah bersenjata. Musuh itu bisa bersemayam di dalam diri kita sendiri: keserakahan, kebencian, kesombongan, ketakutan, dan ketidakpedulian.
Bangkitlah!
Jangan biarkan hati kita mati sebelum tubuh kita mati. Jangan biarkan nurani kita dibungkam oleh kepentingan. Jangan menjual kebenaran demi kenyamanan.
- Merdeka berarti berani berdiri ketika yang lain memilih diam.
- Merdeka berarti berani berkata benar ketika kebohongan menjadi kebiasaan.
- Merdeka berarti berani melawan ketidakadilan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Tetapi ingat, jangan biarkan emosi menguasai jiwa. Amarah yang tidak dikendalikan hanya melahirkan penderitaan baru. Jadikan kesadaran sebagai kekuatan, kebijaksanaan sebagai senjata, dan welas asih sebagai jalan.

Karena perjuangan terbesar bukan menaklukkan orang lain. Perjuangan terbesar adalah menaklukkan diri sendiri.
- Jika jiwa kita merdeka, kita tidak mudah diperbudak oleh keserakahan.
- Jika pikiran kita jernih, kita tidak mudah dihasut oleh kebencian.
- Jika hati kita penuh welas asih, kita tidak akan tega menghancurkan sesama.
Maka hari ini, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah Indonesia benar-benar merdeka jika nurani kita masih terjajah?
- Bangkitkan jiwa.
- Bangkitkan kesadaran.
- Bangkitkan keberanian.
Merdeka bukan sekadar hidup tanpa penjajah.
Merdeka adalah hidup dengan kebenaran, kebijaksanaan, dan martabat.
Semoga dari kemerdekaan lahir manusia-manusia yang berani, sadar, bijaksana, dan welas asih.
Jangan hanya kibarkan Merah Putih di langit. Kibarkan semangat kemerdekaan di dalam jiwa kita!
“Bangkitkan kesadaran, kobarkan keberanian, tegakkan kebenaran. Merdeka atau mati dalam perjuangan menaklukkan diri sendiri.”
Dari: Bhikkhu Dhammashubo Mahathera
Suwidodo




Tinggalkan Balasan