Persatuan Adalah Kekuatan: Saatnya Aceh Bersatu Melawan Narkoba

Oleh: Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si. Kepala BNN Provinsi Aceh

BANDA ACEH — Kemerdekaan Indonesia yang kita peringati setiap tahun bukan sekadar seremoni. Di balik merah putih yang berkibar, terdapat pengorbanan para pendahulu yang mempertaruhkan darah, air mata, bahkan nyawa demi sebuah bangsa yang merdeka.

Kini, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, bentuk perjuangan kita memang berbeda. Kita tidak lagi berhadapan dengan penjajah yang datang membawa senjata. Namun, bangsa ini menghadapi ancaman lain yang tidak kalah berbahaya karena bekerja secara senyap, merusak manusia dari dalam, menghancurkan keluarga, dan menggerogoti masa depan generasi muda.

Salah satu ancaman itu adalah narkotika.

Karena itu, menjaga kemerdekaan hari ini tidak cukup hanya dengan mempertahankan kedaulatan wilayah. Kita juga harus menjaga manusia Indonesia agar tidak kehilangan masa depannya akibat narkotika.

Aceh: Antara Potensi dan Kerentanan

Aceh adalah wilayah yang memiliki posisi geografis strategis. Letaknya membuka peluang besar bagi perdagangan, investasi, konektivitas, serta hubungan ekonomi dengan berbagai wilayah di dalam maupun luar negeri. Namun, setiap peluang selalu memiliki tantangan.

Garis pantai yang panjang dan posisi Aceh yang berhadapan langsung dengan jalur pelayaran internasional juga dapat dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan narkotika sebagai jalur masuk dan distribusi barang terlarang.

Karena itu, ancaman narkotika di Aceh tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa.

Ini adalah persoalan keamanan, kesehatan masyarakat, ketahanan keluarga, ekonomi, pendidikan, moral, sekaligus masa depan bangsa.

Sejumlah pengungkapan kasus sepanjang 2026 memperlihatkan bahwa jaringan narkotika masih berupaya menjadikan Aceh sebagai bagian dari mata rantai peredaran gelap narkotika.

Pada Januari 2026, misalnya, tim gabungan BNN RI dan Bea Cukai menggagalkan penyelundupan 100 kilogram sabu di Peureulak Timur, Aceh Timur. Pengembangan kasus tersebut kemudian mengarah pada temuan tambahan 60 kilogram sabu yang berkaitan dengan jaringan yang sama.

Kasus-kasus lain juga menunjukkan bahwa ancaman narkotika tidak berhenti pada satu wilayah. Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, BNN Provinsi Aceh bersama Polres Nagan Raya bahkan harus masuk ke kawasan pegunungan untuk memusnahkan sekitar 30.000 batang tanaman ganja siap panen dari dua titik lahan dengan luas kurang lebih 12 hektare di Kabupaten Nagan Raya.

Operasi pada 15–16 Agustus 2026 tersebut dipimpin langsung Kepala BNN Provinsi Aceh dengan melibatkan personel gabungan. Lokasi berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut.

Fakta tersebut menunjukkan satu hal penting: perang melawan narkotika tidak mengenal kata selesai.

Ketika satu jaringan berhasil diputus, jaringan lain dapat muncul. Ketika satu jalur ditutup, jalur lain dicari. Ketika satu bandar ditangkap, mereka dapat mencoba merekrut orang baru.

Karena itu, pemberantasan narkotika tidak boleh hanya mengandalkan operasi penindakan. Kita membutuhkan gerakan masyarakat.

Jangan Jadikan Anak Aceh sebagai Kurir

Salah satu persoalan paling menyedihkan dalam perang melawan narkotika adalah ketika anak-anak bangsa sendiri direkrut menjadi bagian dari jaringan kejahatan.

Mereka bisa dijadikan kurir, pengedar, bahkan dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai pekerjaan jaringan narkotika.

Iming-iming uang dalam jumlah besar sering kali menjadi pintu masuk.

Bagi sebagian orang, narkotika mungkin terlihat sebagai jalan cepat mendapatkan uang. Tetapi keuntungan yang diterima hanya sementara. Dampaknya dapat berlangsung panjang dan menghancurkan kehidupan banyak orang. Karena itu saya ingin menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Aceh:

– Jangan pernah menjadikan diri kita sebagai alat untuk menghancurkan bangsa sendiri.

– Jangan biarkan anak-anak muda kita direkrut.

– Jangan biarkan kesulitan ekonomi dimanfaatkan bandar untuk mencari anggota baru.

– Jangan biarkan keluarga kehilangan anaknya karena narkotika.

– Dan jangan biarkan keuntungan sesaat dibayar dengan kehancuran masa depan.

Kita harus menyadari bahwa setiap paket narkotika yang berhasil masuk ke tengah masyarakat bukan hanya sebuah barang bukti. Di belakangnya ada potensi korban, ada keluarga yang dapat hancur, ada anak yang kehilangan masa depan, dan ada masyarakat yang harus menanggung akibatnya.

Maka, setiap narkotika yang berhasil kita cegah sesungguhnya berarti menyelamatkan manusia.

Musuh Kita Bukan Sesama Anak Bangsa

Ada satu hal yang sangat penting dalam perang melawan narkotika: jangan sampai kita terpecah. Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh berbeda organisasi. Kita boleh berbeda profesi. Kita boleh berbeda pandangan.

Namun, ketika berhadapan dengan narkotika, kita harus berdiri di barisan yang sama.

Musuh kita bukan sesama anak bangsa. Musuh kita adalah narkotika dan jaringan kejahatan yang ingin menghancurkan generasi bangsa.

Karena itu, jangan sampai perbedaan kepentingan membuat kita kehilangan fokus. Jaringan narkotika justru akan memanfaatkan setiap kelemahan. Mereka mencari celah sosial, ekonomi, lingkungan, bahkan konflik di tengah masyarakat.

Jika masyarakat terpecah, jaringan kejahatan akan lebih mudah bergerak.

Sebaliknya, jika masyarakat bersatu, ruang gerak mereka akan semakin sempit.

Inilah alasan mengapa pemberantasan narkotika harus menjadi gerakan bersama.

Ulama, Tokoh Masyarakat dan Keluarga Harus Berdiri di Depan

Aceh memiliki kekuatan sosial yang besar.

Ulama memiliki pengaruh moral. Tokoh masyarakat memiliki pengaruh sosial. Guru memiliki pengaruh pendidikan. Orang tua memiliki pengaruh paling dekat terhadap anak. Pemuda memiliki energi perubahan. Media memiliki kekuatan membentuk opini publik.

Semua kekuatan tersebut harus dipersatukan.

Perang melawan narkotika tidak mungkin dimenangkan hanya dengan menangkap bandar dan pengedar.

Penindakan tetap penting, tetapi pencegahan harus diperkuat.

Keluarga harus menjadi benteng pertama.

Sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak-anak.

Lingkungan masyarakat harus berani menolak narkotika.

Ulama dan tokoh agama harus terus menyampaikan bahaya narkotika dari mimbar-mimbar keagamaan.

Pemuda harus diberikan ruang untuk berkarya sehingga tidak mudah direkrut oleh jaringan kejahatan.

Dunia usaha juga dapat berperan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat, karena kerentanan ekonomi sering kali menjadi salah satu pintu masuk yang dimanfaatkan oleh jaringan narkotika.

Dan media harus terus mengedukasi masyarakat dengan informasi yang benar, berimbang, dan membangun kesadaran publik.

Jangan Hanya Bereaksi, Kita Harus Bergerak dari Hulu

Selama ini pemberantasan narkotika sering dipahami sebatas penangkapan.

Padahal perang yang sebenarnya harus dilakukan dari hulu hingga hilir.

Hulu berarti memutus sumber produksi dan jalur penyelundupan.

Tengah berarti memutus jaringan distribusi dan perekrutan.

Hilir berarti menyelamatkan pengguna melalui pencegahan, rehabilitasi, dan pemulihan.

Ketiganya harus berjalan bersamaan.

Pemusnahan ladang ganja di Nagan Raya menjadi salah satu contoh bahwa pemberantasan harus menyasar sumber produksi. BNN menyebut penindakan tersebut sebagai bagian dari upaya memutus mata rantai produksi dan peredaran gelap narkotika.

Namun, setelah ladang dimusnahkan, pekerjaan belum selesai.

Kita juga harus bertanya: mengapa masyarakat menanam ganja? Siapa yang membeli? Siapa yang membiayai? Siapa yang mengendalikan jaringan? Bagaimana masyarakat dapat memperoleh sumber penghasilan alternatif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar pemberantasan narkotika tidak berhenti pada tindakan sesaat, tetapi mampu menyelesaikan persoalan hingga akar.

Aceh Harus Menjadi Benteng, Bukan Pasar

Aceh memiliki sejarah panjang tentang keberanian dan keteguhan masyarakatnya.

Karena itu, Aceh tidak boleh hanya dikenal sebagai wilayah yang rawan dimasuki narkotika.

Aceh harus menjadi benteng.

Benteng yang kuat karena aparatnya bekerja.

Benteng yang kokoh karena pemerintahnya hadir.

Benteng yang tahan karena ulama dan tokoh masyarakat memberikan keteladanan.

Benteng yang hidup karena pemudanya produktif.

Benteng yang kuat karena keluarga-keluarganya peduli.

Dan benteng yang sulit ditembus karena seluruh masyarakatnya bersatu.

Inilah saatnya mengubah cara pandang.

Jangan hanya bertanya berapa kilogram narkotika yang berhasil disita.

Tanyakan juga berapa banyak generasi muda yang berhasil diselamatkan.

Jangan hanya menghitung berapa bandar yang ditangkap. Hitung pula berapa keluarga yang berhasil kita lindungi.

Sebab ukuran keberhasilan perang melawan narkotika pada akhirnya bukan sekadar banyaknya barang bukti yang dimusnahkan, tetapi seberapa banyak manusia yang berhasil diselamatkan.

Persatuan Adalah Kekuatan

Kemerdekaan adalah amanat. Kita tidak boleh membiarkan amanat itu dirusak oleh narkotika.

Saya mengajak seluruh pimpinan daerah, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pendidik, pemuda, dunia usaha, media, aparat penegak hukum, serta seluruh masyarakat Aceh untuk menyatukan langkah.

Mari kita hentikan sikap saling menyalahkan.

Mari kita bangun keberanian untuk melaporkan. Mari kita lindungi anak-anak kita. Mari kita perkuat keluarga. Mari kita ciptakan lapangan kegiatan dan peluang ekonomi bagi generasi muda.

Dan mari kita pastikan bahwa tidak ada ruang yang nyaman bagi jaringan narkotika untuk berkembang di Aceh.

Perjuangan ini bukan milik BNN semata.

Bukan hanya milik polisi. Bukan hanya milik pemerintah. Ini adalah perjuangan kita bersama.

Karena itu, pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, mari kita maknai kemerdekaan dengan cara yang lebih nyata: menjaga manusia Indonesia tetap sehat, menjaga keluarga tetap utuh, dan menjaga generasi muda tetap memiliki masa depan.

Mari kita jaga Aceh. Mari kita selamatkan generasi muda. Mari kita rapatkan barisan. Sebab kita percaya satu hal:

Persatuan adalah kekuatan. Dan Aceh harus bersatu melawan narkoba.

Pada akhirnya, perang melawan narkoba bukan semata-mata tentang seberapa banyak barang bukti yang berhasil disita atau berapa banyak pelaku yang berhasil ditangkap. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa banyak anak bangsa yang berhasil kita selamatkan dari kehancuran.

Aceh memiliki sejarah panjang tentang keberanian dan persatuan. Semangat itu harus kembali kita hidupkan untuk menghadapi ancaman narkotika. Jangan biarkan perbedaan memecah kita, jangan biarkan kemiskinan dimanfaatkan jaringan narkoba, dan jangan biarkan generasi muda menjadi korban sekaligus alat kejahatan.

Mari kita jadikan Aceh bukan sebagai pintu masuk narkoba, tetapi sebagai benteng pemberantasan narkotika. Pemerintah, aparat penegak hukum, ulama, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, keluarga, pemuda, dunia usaha, dan media harus berdiri dalam satu barisan.

Sebab menjaga generasi muda berarti menjaga masa depan Aceh. Menyelamatkan satu anak berarti menyelamatkan satu keluarga. Dan menyelamatkan satu generasi berarti menjaga masa depan bangsa.

Mari rapatkan barisan. Mari kuatkan persatuan. Mari kita jaga Aceh dari narkoba.

Karena persatuan adalah kekuatan, dan Aceh harus bersatu melawan narkoba.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 4994
  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 4994