,

GEMURA Dilantik, Pemuda Ditantang: Jangan Indonesia Emas Cuma Jadi Slogan!

JAKARTA – Gemerlap pelantikan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Generasi Muda (GEMURA) di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (5/9/2026), membawa satu pertanyaan besar: setelah panggung dibongkar, apa yang benar-benar dilakukan untuk rakyat?

GEMURA mengusung tema “ASTA CITA: Generasi Muda Sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045.”

Tema yang terdengar besar. Tetapi justru karena itulah ekspektasi publik juga besar.

Sebab bagi anak muda Indonesia, persoalan hari ini bukan kekurangan slogan. Mereka membutuhkan lapangan pekerjaan, kesempatan berusaha, pendidikan yang terjangkau, ruang kreativitas, serta kepastian bahwa masa depan mereka tidak hanya menjadi bahan pidato politik.

Sejumlah tokoh dan figur publik tercantum dalam materi kegiatan, di antaranya Syafi’i Effendi, Ahir Faisal, Erick Thohir dan Raffi Ahmad. Sejumlah jajaran GEMURA juga tampil dalam publikasi kegiatan, antara lain Firli Widyawan, Nur Subhan Siti, A. Rahjin Mus’ad, Radep Priantoro dan Bhaskara Lazano.

Namun, sorotan terhadap GEMURA bukan semata siapa yang hadir di panggung. Yang jauh lebih penting adalah apa yang akan dilakukan setelah acara selesai.

Pemuda Jangan Cuma Jadi Penonton

Salah satu perwakilan Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Jakarta Pusat menyampaikan harapan agar GEMURA mampu memaksimalkan potensi generasi muda.

“Harapannya, GEMURA bisa lebih memaksimalkan potensi-potensi para pemuda dan generasi muda. Kita memang harus mempersiapkan bonus demografi dan menjadi generasi emas di 2045,” ujarnya.

Menurutnya, GEMURA memiliki modal penting karena menghimpun pemuda dengan berbagai latar belakang, cara pandang, adat istiadat dan karakter.

Perbedaan tersebut, kata dia, seharusnya tidak menjadi sekat, tetapi kekuatan untuk membangun persatuan.

“GEMURA sudah menyatukan para pemuda dengan latar belakang yang berbeda. Dengan begitu kita bisa bersatu dan menyelesaikan permasalahan yang ada di masa mendatang,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa bonus demografi tidak otomatis berubah menjadi bonus bagi rakyat.

Kalau generasi muda tidak mendapatkan pekerjaan, tidak memiliki akses usaha dan tidak punya ruang untuk berkembang, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban sosial.

UMKM Muda Jangan Cuma Jadi Data

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah kewirausahaan.

Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan, UMKM dan pengusaha muda semestinya menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang mendapatkan perhatian serius.

Perwakilan TIDAR Jakarta Pusat mengakui terdapat sejumlah pengusaha muda di lingkungannya.

“Di antara kami, khususnya di Jakarta Pusat, terdapat beberapa pengusaha muda,” katanya.

Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: seberapa jauh organisasi kepemudaan mampu membantu mereka naik kelas?

Bukan sekadar seminar kewirausahaan. Bukan sekadar foto bersama pelaku UMKM. Anak muda membutuhkan akses permodalan, pendampingan, legalitas usaha, pemasaran, teknologi dan jaringan pasar.

Jika GEMURA mampu masuk ke wilayah tersebut, kehadirannya akan terasa langsung oleh masyarakat.

Kawal Pemerintah, Bukan Sekadar Tepuk Tangan

GEMURA juga diharapkan ikut mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Namun mengawal pemerintah bukan berarti hanya memberikan tepuk tangan.

Pemuda harus berani mendukung kebijakan yang benar, sekaligus kritis ketika ada kebijakan yang merugikan rakyat.

Inilah tantangan organisasi kepemudaan di tengah demokrasi.

Generasi muda harus menjadi kekuatan kontrol sosial, bukan sekadar pelengkap seremoni.

Setelah Pelantikan, Kerja Nyata Ditunggu

Pelantikan dan Rakernas GEMURA pada akhirnya bukan garis akhir, melainkan garis start.

Setelah baliho diturunkan, kursi dikosongkan dan acara selesai, publik akan menunggu hasilnya.

Apa program konkret untuk anak muda?

Apa langkah untuk UMKM?

Apa kontribusi bagi masyarakat?

Apa terobosan menghadapi pengangguran dan kesenjangan kesempatan?

Dan apakah GEMURA mampu menjangkau anak muda di luar lingkaran organisasi dan elite?

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan kerja.

Sebab Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari panggung megah dan slogan yang indah.

Indonesia Emas akan ditentukan oleh bagaimana jutaan anak muda hari ini memperoleh kesempatan untuk belajar, bekerja, berusaha dan berkarya.

Karena itu, GEMURA kini memikul harapan besar.

Jangan sampai “Generasi Muda sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa” hanya menjadi tulisan besar di backdrop acara. Fondasi bangsa harus dibangun dari bawah—dari rakyat, dari desa, dari UMKM, dari sekolah, dari kampus, dan dari anak muda yang setiap hari berjuang mencari masa depan.

Pelantikan boleh meriah. Rakernas boleh penuh gagasan.

Tetapi setelah semuanya usai, rakyat menunggu satu hal: kerja nyata.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan GEMURA bukan terletak pada meriahnya pelantikan atau banyaknya tokoh yang hadir, melainkan pada seberapa nyata organisasi ini hadir di tengah persoalan rakyat.

Panggung boleh berganti, kepengurusan boleh dilantik, dan slogan Indonesia Emas boleh terus digaungkan. Tetapi rakyat akan menilai dari satu hal: apakah GEMURA benar-benar bekerja untuk rakyat atau hanya ramai ketika seremoni.

Kini saatnya generasi muda membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pewaris masa depan, tetapi pelaku perubahan hari ini.

Suwidodo/Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 4994
  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 4994