, ,

Pdt. Gomar Gultom: Integritas Jurnalis Diuji Ketika Kebenaran Berhadapan dengan Kepentingan

JAKARTA, — Integritas menjadi fondasi penting bagi jurnalis dalam menjalankan tugasnya di tengah kuatnya pengaruh media, kepentingan politik, modal, algoritma media sosial, dan tuntutan viralitas.

Hal itu disampaikan Pdt. Gomar Gultom, M.Th., dalam Seminar Capacity Building PEWARNA Indonesia PD DKI Jakarta,  Filadelfia Permata Hijau Jakarta, GSPDI Balleza Philadelphia Permata Hijau, Senin (10/8/2026) pukul 18.30 wib.

Dalam paparannya, Gomar menekankan bahwa media memiliki kekuatan besar untuk membentuk persepsi dan opini publik. Media tidak hanya menentukan informasi apa yang disampaikan, tetapi juga dapat menentukan isu mana yang dianggap penting oleh masyarakat.

Integritas itu sebetulnya adalah sebuah istilah untuk mengatakan satunya kata dan perbuatan,” demikian inti pesan Gomar dalam pemaparannya.

Pdt. Gomar Gultom, M.Th. saat menyampaikan materi tentang integritas, independensi, dan tanggung jawab sosial jurnalis dalam Seminar Capacity Building PEWARNA Indonesia PD DKI Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut dia, integritas tidak lahir karena seseorang diawasi atau takut terhadap sanksi. Integritas muncul ketika seseorang tetap melakukan hal yang benar meskipun tidak ada orang lain yang melihat.

Media dan kepentingan

Gomar mengingatkan bahwa kekuatan media harus diimbangi tanggung jawab. Media, kata dia, dapat menjadi salah satu pilar demokrasi karena mampu mengartikulasikan suara masyarakat sekaligus mengawasi kekuasaan.

Namun, independensi media menghadapi tantangan ketika kepentingan bisnis, pemilik modal, dan politik beririsan dengan pemberitaan.

Dalam kondisi tersebut, jurnalis dituntut mampu menjaga  profesional.

“Berpihak kepada kebenaran tidak sama dengan berpihak kepada kelompok sendiri,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam pembahasan.

Jurnalis tetap dapat memberikan kritik terhadap pemerintah maupun kelompok tertentu. Namun, kritik harus berdasarkan fakta, verifikasi, etika, dan kepentingan publik, bukan didorong kebencian.

Menurut Gomar, media memiliki kekuatan besar dalam membentuk perhatian dan opini publik. Media bukan sekadar menyampaikan apa yang terjadi, tetapi melalui pemilihan isu, judul, narasumber, gambar, dan sudut pandang dapat memengaruhi cara masyarakat memahami sebuah persoalan.

Karena itu, semakin besar kekuatan media, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dimiliki seorang jurnalis.

“Integritas itu sebetulnya adalah sebuah istilah untuk mengatakan satunya kata dan perbuatan,” demikian inti pemikiran yang disampaikan dalam pemaparannya.

Ia menggambarkan integritas melalui contoh sederhana. Seseorang berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah bukan semata-mata karena ada polisi atau takut mendapatkan sanksi, tetapi karena menyadari bahwa berhenti merupakan tindakan yang benar.

Dengan demikian, integritas bukan lahir karena pengawasan, tekanan, ataupun hukuman. Integritas muncul dari kesadaran untuk melakukan sesuatu yang benar meskipun tidak ada orang yang melihat.

Media Jangan Menjadi Kendaraan Politik

Dalam konteks media, Gomar menyoroti tantangan independensi ketika kepentingan bisnis, modal, dan politik dapat beririsan dengan ruang pemberitaan.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menciptakan sentralisasi informasi dan membuat ruang publik dipenuhi narasi yang sejalan dengan kepentingan tertentu.

Karena itu, jurnalis harus terus mempertanyakan independensinya.

Apakah media masih menjadi pilar demokrasi atau justru berubah menjadi kendaraan kepentingan politik dan modal?

Kritik terhadap pemerintah maupun pemegang kekuasaan, menurutnya, merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun kritik harus tetap dibangun berdasarkan fakta, etika, dan kepentingan publik, bukan kebencian.

Tidak Berbohong Belum Tentu Menyampaikan Kebenaran

Salah satu persoalan penting yang disampaikan adalah mengenai keutuhan informasi.

Seorang jurnalis mungkin tidak secara langsung berbohong, tetapi apabila hanya menyampaikan sebagian fakta dan menghilangkan konteks penting, pemberitaan tersebut tetap dapat menghasilkan pemahaman yang keliru.

Karena itu, jurnalis tidak cukup hanya menghindari kebohongan.

Kebenaran harus disampaikan secara utuh, berimbang, terverifikasi, dan sesuai konteks.

Prinsip check and recheck menjadi bagian penting dalam kerja jurnalistik. Informasi tidak boleh langsung dipercaya hanya karena berasal dari sumber tertentu atau sedang menjadi pembicaraan publik.

Algoritma, Hoaks, dan Hate Speech

Tantangan jurnalistik semakin kompleks di era digital. Media sosial membuat informasi menyebar dengan sangat cepat, sementara algoritma dapat membuat seseorang terus menerima informasi yang sesuai dengan pandangannya sendiri.

Situasi tersebut dapat menciptakan ruang gema atau echo chamber, ketika seseorang hanya mendengar pandangan yang sama dan semakin sulit menerima perspektif berbeda.

Gomar juga mengingatkan bahaya hoaks, penipuan digital, serta hate speech. Jurnalis harus berhati-hati agar pemberitaan tidak justru memperbesar kebencian dan konflik di tengah masyarakat.

Yang viral belum tentu benar. Yang banyak dibagikan belum tentu penting. Dan yang banyak disukai belum tentu adil.

Karena itu, kecepatan tidak boleh mengalahkan verifikasi.

Jurnalisme Harus Memiliki Empati

Pembahasan juga menyentuh pentingnya empati dalam pemberitaan, khususnya terhadap korban kekerasan dan pelecehan seksual.

Media, kata Gomar, harus mampu menyajikan persoalan dengan hati. Namun empati tidak boleh berubah menjadi eksploitasi penderitaan korban demi mendapatkan klik dan viralitas.

Dalam kasus pelecehan seksual, misalnya, korban tidak boleh mengalami reviktimisasi atau menjadi korban untuk kedua kalinya akibat pemberitaan.

Jurnalis tetap harus menghormati asas praduga tak bersalah dan melakukan verifikasi, tetapi pada saat yang sama harus menjaga martabat, privasi, dan keselamatan korban.

Jurnalisme yang berempati membuat masyarakat peduli; jurnalisme yang sensasional justru dapat mengeksploitasi penderitaan.

Idealisme Berhadapan dengan Realitas

Gomar juga mengajak jurnalis menyadari bahwa profesi jurnalistik sering berada di antara idealisme dan realitas.

Ada tekanan dari kepentingan bisnis, pemilik media, politik, tuntutan viralitas, bahkan kondisi internal organisasi.

Dalam situasi tersebut, integritas justru diuji.

Jurnalis boleh memiliki keyakinan, identitas, dan keberpihakan terhadap nilai tertentu. Namun jangan sampai keberpihakan kepada kelompok sendiri membuat jurnalis kehilangan keadilan terhadap pihak lain.

Berpihak kepada kebenaran tidak sama dengan berpihak kepada kelompok sendiri.

Media sebagai Kekuatan Perubahan

Dalam sejarah, kekuatan media juga telah berperan dalam perubahan sosial. Perkembangan teknologi percetakan pada masa Reformasi Martin Luther, misalnya, memungkinkan gagasan dan kritiknya diperbanyak serta disebarluaskan secara luas.

Di era modern, fungsi tersebut berkembang melalui media digital dan media sosial.

Media dapat menjadi jendela bagi masyarakat untuk melihat dunia, tetapi media yang baik tidak sekadar menampilkan apa yang tampak di permukaan. Jurnalisme harus menggali lebih dalam, memberikan konteks, menghadirkan berbagai perspektif, dan membantu publik memahami persoalan secara lebih jernih.

Karena itu, media memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.

PEWARNA dan Tantangan Jurnalis Kristen

Bagi jurnalis Kristen, tantangan tersebut semakin besar. Profesionalisme jurnalistik harus berjalan bersama nilai iman, kejujuran, keadilan, kasih, keberanian, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Jurnalis Kristen tidak harus berbeda dalam teknik jurnalistik dengan jurnalis lainnya. Namun nilai yang menjadi dasar dalam menjalankan profesinya harus tercermin dalam tindakan.

Pertanyaannya kemudian menjadi sangat mendasar:

“Beranikah kita memberitakan kebenaran ketika kebenaran itu tidak menguntungkan kelompok kita sendiri?”

Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi insan PEWARNA Indonesia.

Sebab, PEWARNA tidak cukup hanya menjadi pewarta informasi. Tantangannya adalah menjadi penjaga kebenaran, terutama ketika kebenaran berhadapan dengan kepentingan, tekanan, kekuasaan, modal, maupun popularitas.

Tidak berbohong belum cukup

Gomar juga mengingatkan bahwa jurnalisme yang berintegritas tidak cukup hanya dengan menghindari kebohongan.

Informasi yang disampaikan secara sepotong dan kehilangan konteks dapat membuat publik memahami persoalan secara keliru, meskipun fakta yang disampaikan tidak sepenuhnya salah.

Karena itu, jurnalis perlu menyampaikan informasi secara utuh dan melakukan prinsip check and recheck.

“Yang viral belum tentu benar. Yang banyak dibagikan belum tentu penting,” menjadi refleksi dalam menghadapi derasnya arus informasi digital.

Tantangan media sosial

Perkembangan media sosial juga menghadirkan tantangan baru. Algoritma dapat membuat pengguna terus menerima informasi yang sesuai dengan pandangan mereka. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan ruang gema (echo chamber) dan mempersempit keberagaman perspektif.

Selain itu, hoaks, penipuan digital, dan ujaran kebencian semakin mudah menyebar.

Dalam situasi tersebut, jurnalis tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga harus mampu memverifikasi informasi sebelum dipublikasikan.

Kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran.

Lindungi korban

Gomar turut menyoroti pentingnya empati dalam pemberitaan, terutama terkait kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

Media harus mampu memberikan ruang bagi korban tanpa menjadikan penderitaan mereka sebagai komoditas untuk mengejar klik dan popularitas.

Pemberitaan harus tetap memperhatikan asas praduga tak bersalah, verifikasi, serta perlindungan terhadap martabat dan privasi korban.

“Jurnalisme harus mampu menyentuh rasa kemanusiaan, tetapi tidak dengan cara mendramatisasi penderitaan,” menjadi prinsip penting dalam konteks tersebut.

Jurnalis Kristen

Bagi jurnalis Kristen, Gomar menilai profesionalisme dan iman tidak perlu dipertentangkanPdt. Gomar Gultom, M.Th. saat menyampaikan materi tentang integritas, independensi, dan tanggung jawab sosial jurnalis dalam Seminar Capacity Building PEWARNA Indonesia PD DKI Jakarta, Senin (10/8/2026).. Jurnalis tetap harus menguasai pengetahuan dan kaidah jurnalistik, tetapi nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kasih, keberanian, dan tanggung jawab harus tercermin dalam pekerjaannya.qaa

Karena itu, tantangan bagi insan PEWARNA Indonesia bukan sekadar menghasilkan berita, tetapi memastikan media menjadi ruang yang memperjuangkan kebenaran dan kepentingan publik.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah:

“Beranikah kita memberitakan kebenaran ketika kebenaran itu tidak menguntungkan kelompok kita sendiri?”

Bagi Gomar, pertanyaan tersebut menjadi salah satu ujian nyata integritas seorang jurnalis.

Sebab, integritas bukan hanya tentang apa yang ditulis seorang wartawan, tetapi juga tentang keberanian mempertahankan kebenaran ketika berhadapan dengan kepentingan.

Pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya tentang kemampuan menulis berita, tetapi tentang keberanian menjaga kebenaran. Di tengah tekanan kepentingan, politik, modal, algoritma, dan tuntutan viralitas, integritas menjadi kompas yang tidak boleh hilang.

Bagi insan PEWARNA Indonesia, mari kita menjadi jurnalis yang bukan sekadar mengejar berita, tetapi menghadirkan kebenaran, keadilan, empati, dan harapan bagi masyarakat.

Jangan hanya menjadi pewarta suara, jadilah penjaga kebenaran. Jangan hanya mengejar yang viral, tetapi perjuangkan yang benar.

Sebab pada akhirnya, nama besar media akan berlalu, tetapi integritas akan menjadi warisan.

Berita boleh cepat, tetapi kebenaran harus tetap tepat. Tulisan boleh tajam, tetapi hati harus tetap berintegritas.”

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 4994
  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 4994