Ikhtiar Spiritual Melahirkan Negarawan
Reflektif — Pen: SW
KITAB MA HA IS MA YA merupakan kumpulan doa dan refleksi spiritual yang diperuntukkan bagi mereka yang dipersiapkan menjadi calon pemimpin dan negarawan. Buku ini lahir dari proses 20 jam bicara yang kemudian dibukukan oleh Sri Eko Galgendu dalam apa yang disebut sebagai “Bahasa Bumi”—bahasa yang berusaha mendekatkan nilai-nilai spiritual kepada realitas kehidupan bangsa.
Lebih dari sekadar kumpulan doa,KITAB MA HA IS MA YA dapat dipandang sebagai sebuah ikhtiar untuk membangun kesadaran batin seorang pemimpin. Kepemimpinan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, kekuasaan, dan kemampuan mengelola negara, tetapi juga membutuhkan kejernihan hati, keteguhan moral, keberanian, serta kesadaran bahwa kekuasaan merupakan amanah.
Dalam perspektif tersebut, hadirnya KITAB MA HA IS MA YA menjadi salah satu penanda dari kebangkitan spiritual bangsa Indonesia. Kebangkitan itu bukan semata-mata kebangkitan ritual, melainkan kebangkitan kesadaran untuk melahirkan manusia Indonesia yang mampu menghubungkan spiritualitas, kebangsaan, kenegarawanan, dan tanggung jawab sejarah.
Dari kesadaran spiritual itulah diharapkan lahir sosok negarawan yang tidak terjebak pada kepentingan sesaat, melainkan mampu melihat Indonesia dalam horizon sejarah yang panjang. Negarawan yang bekerja bukan sekadar untuk memenangkan kekuasaan, tetapi untuk menghadirkan keadilan, kemakmuran, persatuan, dan martabat Bangsa.
Karena itu, KITAB MA HA IS MA YA dapat ditempatkan sebagai bagian dari sebuah ikhtiar kebudayaan dan spiritual: menyiapkan manusia sebelum menyiapkan kekuasaan. Sebab, negara yang besar pada akhirnya membutuhkan bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi negarawan yang memiliki kekuatan jiwa.
Dari sanalah cita-cita menuju Negara Kertagama menemukan salah satu fondasi pentingnya: kebangkitan bangsa yang dimulai dari kebangkitan kesadaran manusia Indonesia.
Ada sebuah kesadaran penting dalam perjalanan sebuah bangsa: sebelum menyiapkan seorang pemimpin untuk mengelola kekuasaan, bangsa harus terlebih dahulu menyiapkan manusia yang mampu memikul amanah kekuasaan.
Dalam konteks itulah KITAB MA HA IS MA YA dapat dibaca bukan sekadar sebagai kumpulan doa dan refleksi spiritual, melainkan sebagai sebuah ikhtiar untuk membangun kesadaran batin bagi mereka yang dipersiapkan menjadi calon pemimpin dan negarawan.
Buku ini lahir dari proses 20 jam percakapan, yang kemudian dibukukan oleh Sri Eko Galgendu dalam apa yang disebut sebagai “Bahasa Bumi”—sebuah upaya untuk mendekatkan nilai-nilai spiritual kepada realitas kehidupan manusia dan perjalanan bangsa.
Spiritualitas dalam pengertian ini tidak berhenti pada ritual. Ia harus menjelma menjadi kesadaran, sikap, dan tindakan.
Seorang pemimpin membutuhkan kecerdasan untuk membaca persoalan, keberanian untuk mengambil keputusan, serta kemampuan untuk mengelola pemerintahan. Namun semua itu belum cukup. Kekuasaan tanpa kejernihan hati dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa moral dapat menjadi alat pembenaran. Dan kekuasaan tanpa kesadaran bahwa dirinya adalah pemegang amanah dapat menjauhkan seorang pemimpin dari rakyat yang dipimpinnya.
Karena itu, kekuatan seorang negarawan sesungguhnya tidak hanya diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar kemampuan dirinya mengendalikan kepentingan pribadi ketika berhadapan dengan kepentingan bangsa.
Di titik inilah KITAB MA HA IS MA YA menemukan relevansinya.
Ia dapat dipandang sebagai bagian dari sebuah ikhtiar kebudayaan dan spiritual untuk membangkitkan kesadaran manusia Indonesia bahwa perjalanan bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh sistem politik, ekonomi, teknologi, maupun pergantian kekuasaan.
Pada akhirnya, kualitas sebuah negara sangat bergantung pada kualitas manusia yang menjalankan amanah di dalamnya.
Kebangkitan spiritual bangsa pun seyogianya tidak dimaknai sebatas meningkatnya aktivitas ritual. Kebangkitan yang lebih dalam adalah ketika manusia mulai mampu menghidupkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan tanggung jawab dalam kehidupan nyata.
Dari kesadaran semacam itulah diharapkan lahir negarawan.
Negarawan tidak berpikir hanya untuk hari ini. Ia melihat Indonesia dalam bentang sejarah yang panjang. Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk menghadirkan keadilan, kemakmuran, persatuan, dan martabat bangsa.
Negarawan juga memahami bahwa jabatan memiliki batas waktu, tetapi keputusan seorang pemimpin dapat meninggalkan jejak bagi generasi yang jauh setelah dirinya tidak lagi berkuasa.
Maka, menyiapkan manusia sebelum menyiapkan kekuasaan menjadi sebuah gagasan yang penting.
Sebab, bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat secara politik, tetapi manusia yang kuat secara moral dan spiritual. Negara membutuhkan orang-orang yang mampu berdiri tegak ketika diuji oleh kepentingan, godaan kekuasaan, tekanan, dan perubahan zaman.
Dalam perspektif itulah KITAB MA HA IS MA YA dapat ditempatkan sebagai salah satu ikhtiar untuk mempertemukan spiritualitas, kebangsaan, kebudayaan, dan kenegarawanan.
Cita-cita menuju Negara Kertagama pada akhirnya bukan hanya persoalan membangun struktur negara, tetapi juga membangun manusia yang memiliki kesadaran akan jati diri, sejarah, tanggung jawab, dan masa depan bangsanya.
Karena itu, kebangkitan Indonesia sesungguhnya dapat dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita: yaitu kebangkitan kesadaran manusia Indonesia.
Ketika manusia dibenahi, kekuasaan memperoleh arah.
Ketika hati dijernihkan, kepemimpinan memperoleh makna.
Ketika spiritualitas diwujudkan dalam tindakan, kebangsaan memperoleh jiwa.
Dan dari manusia-manusia yang memiliki kesadaran itulah, harapan untuk melahirkan negarawan Indonesia dapat terus dinyalakan. Kita Semua Sedang Menentukan Wajah Indonesia
Pada akhirnya, pertanyaan tentang lahirnya negarawan bukan hanya pertanyaan untuk para pejabat, politisi, tokoh masyarakat, atau calon pemimpin.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan untuk kita semua.
Sebab setiap zaman melahirkan pemimpinnya dari kualitas manusia yang hidup pada zaman tersebut.
Maka, jangan hanya bertanya, “Siapa yang akan memimpin Indonesia?”
Mari bertanya lebih dalam:
“Manusia seperti apa yang sedang kita lahirkan?”
Apakah kita sedang melahirkan generasi yang mengejar kekuasaan, atau generasi yang siap memikul amanah?
Apakah kita sedang membangun manusia yang ingin dilayani, atau manusia yang siap melayani?
Apakah kita sedang mewariskan ambisi, atau sedang mewariskan nilai?
Barangkali di situlah makna terdalam dari sebuah ikhtiar spiritual. Membangun negara tidak selalu harus dimulai dari istana. Membangun Indonesia dapat dimulai dari membangun hati manusia.
Dari hati yang jernih lahir pikiran yang terang. Dari pikiran yang terang lahir keputusan yang bijaksana. Dari keputusan yang bijaksana lahir kepemimpinan yang berkeadilan.
Dan dari kepemimpinan yang berkeadilan, lahirlah sebuah bangsa yang bermartabat.
Karena itu, KITAB MA HA IS MA YA bukan hanya tentang doa untuk melahirkan pemimpin. Ia adalah ajakan untuk mempersiapkan manusia agar ketika kekuasaan datang, ia tidak kehilangan dirinya; ketika jabatan diberikan, ia tidak melupakan rakyat; dan ketika sejarah mencatat namanya, yang tertinggal bukan sekadar nama, melainkan kebaikan yang diwariskan.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia tidak kekurangan orang kuat.
Yang selalu kita rindukan adalah manusia yang memiliki kekuatan jiwa untuk menggunakan kepintaran dan kekuasaannya demi bangsa.
Dan mungkin, perjalanan menuju Indonesia yang lebih bermartabat itu harus dimulai sekarang—dari diri kita sendiri.
Red.




Tinggalkan Balasan