JAKARTA — Upaya menghadapi krisis iklim global tidak lagi cukup dilakukan melalui pendekatan konvensional. Dibutuhkan kolaborasi lintas negara, dukungan teknologi, serta keterlibatan dunia usaha untuk menghadirkan solusi yang nyata dan berkelanjutan. Semangat itulah yang mengemuka dalam forum diskusi internasional bertema lingkungan dan transisi energi yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari Indonesia dan Jepang di selenggarakan di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega KuninganJl. DR Ide Anak Agung Gde Agung Kav E11, Jakarta, Indonesia, 12950, Senin (11/5/2026).
Diskusi panel tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, lembaga internasional, perusahaan energi, hingga industri teknologi hijau. Di antaranya Dr. Takemoto Kazuhiko, Budiharto, Dr. Nomoto Takuya, Marisa Malahayati, Annisa Urfa, Suzuki Shintaro, serta Oh Hiroki.

Forum berlangsung dalam suasana dinamis dan penuh optimisme. Para pembicara menyoroti pentingnya transformasi kebijakan lingkungan yang tidak hanya berbasis regulasi, tetapi juga inovasi teknologi dan perubahan perilaku masyarakat.
Salah satu perhatian utama dalam forum tersebut adalah penguatan sistem pengelolaan lingkungan dan transparansi pelaporan emisi karbon melalui mekanisme MRV (Measurement, Reporting, and Verification). Sistem ini dinilai penting untuk memastikan target pengurangan emisi dapat dipantau secara akurat dan akuntabel.

Perwakilan pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa berbagai dukungan internasional telah diterima dalam pengembangan sistem lingkungan dan energi berkelanjutan. Namun demikian, tantangan implementasi masih menjadi pekerjaan besar, terutama dalam memastikan koordinasi antarlembaga berjalan efektif dan kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dalam forum itu juga mengemuka pandangan bahwa transisi energi tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dunia usaha dan sektor industri dinilai memiliki peran strategis dalam mempercepat perubahan menuju ekonomi hijau dan rendah karbon.
Kehadiran World Bank dalam diskusi memperlihatkan bahwa isu perubahan iklim kini telah menjadi agenda ekonomi global. Pendanaan hijau, investasi berkelanjutan, serta pengembangan teknologi rendah emisi dipandang sebagai bagian penting dari masa depan pembangunan dunia.
Marisa Malahayati menegaskan bahwa tantangan perubahan iklim tidak lagi dapat dipisahkan dari persoalan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, investasi pada energi bersih, sanitasi, dan teknologi ramah lingkungan bukan sekadar biaya pembangunan, melainkan investasi jangka panjang untuk ketahanan sosial dan ekonomi. 
Ia menilai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi hijau dunia apabila mampu memperkuat tata kelola, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.
“Transisi menuju pembangunan rendah karbon membutuhkan kerja sama yang inklusif. Pemerintah, sektor swasta, lembaga internasional, dan masyarakat harus bergerak bersama agar manfaat pembangunan berkelanjutan dapat dirasakan secara luas,” ujarnya.
Marisa juga menyoroti pentingnya akses teknologi dan pembiayaan hijau bagi negara berkembang. Menurut dia, dukungan internasional harus diarahkan tidak hanya pada target pengurangan emisi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Di sela diskusi panel, perhatian peserta juga tertuju pada sejumlah teknologi inovatif yang dipamerkan dalam forum tersebut. Salah satunya adalah teknologi pencuci tangan ramah lingkungan bernama WOSH yang dikembangkan oleh WOTA.
Teknologi itu menghadirkan konsep sanitasi modern berbasis daur ulang air. Sistemnya mampu mendaur ulang hingga 98 persen air yang digunakan melalui tahapan filtrasi, pemisahan partikel, dan sterilisasi ultraviolet (UV). Dengan dukungan sensor dan kecerdasan buatan (AI), kualitas air terus dipantau agar tetap aman digunakan.
Perangkat tersebut bahkan dapat dioperasikan di wilayah tanpa jaringan air permanen. Hanya dengan sekitar 20 liter air, sistem diklaim mampu menyediakan air bersih sesuai standar kebersihan World Health Organization.
Inovasi ini menjadi simbol bagaimana teknologi dapat menjawab tantangan lingkungan sekaligus kebutuhan dasar manusia. Di tengah ancaman krisis air dan meningkatnya kebutuhan sanitasi publik, solusi seperti WOSH dinilai relevan untuk diterapkan di fasilitas umum, kawasan terpencil, hingga situasi darurat bencana.
Forum internasional tersebut memperlihatkan bahwa masa depan pembangunan tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara teknologi, lingkungan, dan keberlanjutan hidup.
Kolaborasi Indonesia dan Jepang dalam forum itu menjadi gambaran bahwa kerja sama internasional tetap memiliki peran penting dalam membangun masa depan yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
(Suwidodo)



Tinggalkan Balasan