, , ,

HUT Ke-50 IKBT: Perkuat Kasih, Persaudaraan, dan Pelestarian Budaya Tugu

JAKARTA — Indonesiasatu928, Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 , dalam suasana penuh sukacita, kekeluargaan, dan semangat pelestarian budaya di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Perayaan yang berlangsung di sekretariat IKBT tersebut menjadi momentum refleksi perjalanan panjang komunitas Tugu dalam menjaga persaudaraan, sejarah, tradisi, dan warisan budaya leluhur yang telah hidup sejak abad ke-17, pada Minggu, (10/6/2026).

IKBT merupakan organisasi komunitas keturunan Portugis di Kampung Tugu yang berdiri resmi pada tahun 1976 sebagai wadah pemersatu keluarga besar Orang Tugu. Organisasi ini dibentuk untuk menjaga solidaritas masyarakat sekaligus melestarikan budaya khas yang lahir dari percampuran budaya Portugis dan Betawi.

Sejarah Orang Tugu sendiri bermula pada tahun 1661 ketika kelompok Mardijkers, yakni bekas budak Portugis yang telah dimerdekakan, menetap di kawasan Tugu. Mereka berasal dari berbagai wilayah Asia dan Afrika yang pernah berada di bawah pengaruh Portugis. Dari komunitas inilah lahir identitas budaya unik yang hingga kini tetap bertahan di tengah perkembangan zaman modern.

Salah satu warisan budaya paling terkenal dari masyarakat Tugu adalah Keroncong Tugu, yang dikenal sebagai salah satu bentuk musik keroncong tertua di Indonesia. Lagu-lagu seperti Moresco, Cafrinyu, dan Old Song menjadi bagian penting identitas budaya Orang Tugu. Musik tersebut dimainkan menggunakan alat musik dawai seperti ukulele, gitar, selo, mandolin, dan biola dengan irama sederhana namun sarat nilai sejarah.

Selain musik, masyarakat Tugu juga mempertahankan berbagai tradisi khas seperti Rabo-Rabo dan Mande-Mande. Tradisi Rabo-Rabo dilakukan setelah perayaan Natal dan Tahun Baru sebagai simbol kebersamaan warga, sedangkan Mande-Mande menjadi tradisi saling memaafkan dengan mencoretkan bedak putih ke wajah sesama warga.

Dalam acara HUT ke-50 tersebut, Pdt. Josep Bates Raku menyampaikan pesan rohani sekaligus refleksi budaya yang menekankan pentingnya kasih sebagai dasar utama kehidupan bersama.

Menurutnya, perjalanan IKBT selama lima dekade bukanlah perjalanan yang mudah karena di dalamnya terdapat banyak karakter, pandangan, dan perbedaan pendapat. Namun kasih menjadi kekuatan utama yang menjaga persaudaraan tetap utuh.

“Dalam perjalanan IKBT ada banyak kepala dan banyak pendapat. Tetapi kasih itulah yang mengikat persaudaraan orang-orang Tugu di mana pun mereka berada,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa perkembangan zaman tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar sejarah dan budaya. Modernisasi boleh berkembang, tetapi identitas budaya dan nilai kekeluargaan harus tetap dipertahankan sebagai warisan yang hidup.

“Perubahan zaman boleh masuk dalam kehidupan kita, tetapi tidak boleh menghilangkan jati diri dan nilai budaya yang diwariskan para leluhur,” katanya.

Dalam khotbahnya, ia juga mengutip firman Tuhan dari Kitab Wahyu mengenai kasih mula-mula yang jangan sampai hilang dalam kehidupan umat percaya. Menurutnya, tanpa kasih, komunitas akan dipenuhi perseteruan, ego, dan sikap merasa paling benar.

“Kalau kasih itu tidak ada, maka yang muncul adalah permusuhan dan perseteruan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kasih merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan, mendamaikan perselisihan, dan mempererat hubungan persaudaraan. Karena itu, kasih harus terus dipelihara dalam keluarga, komunitas, dan kehidupan sosial.

Mengutip Kitab Amsal 3:3, ia mengingatkan:

“Janganlah kasih setia meninggalkan engkau, kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu.”

Menurutnya, IKBT menjadi alat pemersatu yang kuat untuk menjaga komitmen persaudaraan di tengah perubahan zaman. Keberadaan organisasi beserta gedung sekretariat menjadi simbol kebersamaan dan pengikat hubungan antar anggota lintas generasi.

Ia juga mengajak seluruh keluarga besar IKBT untuk terus merawat komunikasi, menjaga kekeluargaan, dan melestarikan sejarah serta budaya Tugu sebagai identitas komunitas sekaligus bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.

Dalam penutup pesannya, ia menyampaikan seruan penuh semangat yang disambut hangat oleh seluruh hadirin:

Aku adalah IKBT, IKBT adalah aku. I love you IKBT.”

Seruan tersebut menjadi simbol kuat rasa memiliki, cinta, dan komitmen bersama untuk menjaga persaudaraan serta melestarikan warisan budaya Tugu bagi generasi mendatang.

Pada perayaan HUT ke-50 itu, kegiatan juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Sejumlah mahasiswa dan peneliti dari Universitas Indonesia turut hadir melakukan penelitian lapangan mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tugu.

Penelitian tersebut melibatkan beberapa disiplin ilmu, khususnya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, di antaranya jurusan Antropologi Sosial dan Psikologi Sosial. Kehadiran para peneliti menunjukkan bahwa Kampung Tugu tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi objek kajian akademik penting dalam memahami keberagaman sosial, tradisi, dan dinamika komunitas keturunan Portugis di Jakarta Utara.

Dalam suasana penuh keakraban, sempat terjadi koreksi ringan mengenai asal jurusan para peserta penelitian. Namun hal tersebut justru mencerminkan suasana dialog yang hangat dan terbuka antara masyarakat Tugu dan para akademisi yang hadir.

Kini, memasuki usia setengah abad, IKBT tetap berdiri sebagai penjaga warisan budaya Orang Tugu sekaligus simbol persaudaraan masyarakat keturunan Portugis di Indonesia. Perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus hidup apabila dirawat dengan cinta, kebersamaan, dan komitmen lintas generasi.

Sebagai penutup, perayaan HUT ke-50 IKBT bukan sekadar peringatan perjalanan organisasi, melainkan juga peneguhan komitmen untuk terus menjaga kasih, persaudaraan, dan warisan budaya Orang Tugu di tengah perubahan zaman. Semangat kebersamaan yang diwariskan para leluhur menjadi kekuatan penting agar identitas budaya Kampung Tugu tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang. Dengan menjaga tradisi, merawat persatuan, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk mencintai budayanya sendiri, IKBT diharapkan terus menjadi rumah besar yang mempersatukan masyarakat Tugu sekaligus menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.

(Suwidodo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 3815