, ,

Cagar Budaya Tugu Terabaikan, Ikon Sejarah Jakarta Utara Dinilai Belum Jadi Prioritas

JAKARTA — Kawasan Cagar Budaya Tugu yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon sejarah dan budaya di Jakarta Utara dinilai belum mendapat peningkatan perhatian serius dari pemerintah. Padahal kawasan yang memiliki jejak sejarah ratusan tahun itu menyimpan warisan budaya penting bagi identitas Jakarta dan Indonesia.

Sorotan tersebut mengemuka dalam rangkaian perayaan HUT ke-50 IKBT atau Ikatan Keluarga Besar Tugu. Sejumlah tokoh masyarakat menilai kawasan Tugu seharusnya menjadi pusat pelestarian budaya yang representatif, bukan sekadar simbol sejarah yang perlahan kehilangan perhatian.Minggu (10/5/2026).

Kawasan Tugu dikenal memiliki kekayaan tradisi yang khas, mulai dari sejarah pemukiman masyarakat Portugis-Tugu, rumah-rumah tua bersejarah, nilai kekeluargaan lintas generasi, hingga seni musik Keroncong Tugu yang telah menjadi bagian penting warisan budaya Indonesia.

“Cagar Budaya Tugu adalah ikon Indonesia, khususnya bagi DKI Jakarta dan Jakarta Utara. Kawasan ini patut dipersolek dan dijaga serius, bukan dibiarkan berjalan seadanya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat dalam kegiatan tersebut.

Menurut sejumlah warga dan tokoh budaya, kawasan Tugu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi budaya. Namun hingga kini, kondisi penataan lingkungan dinilai belum mencerminkan besarnya nilai sejarah yang dimiliki kawasan tersebut.

Mereka menilai perlu adanya langkah konkret terjadwal  petahunan anggaran APBD, dari pemerintah daerah untuk melakukan revitalisasi kawasan, mulai dari perbaikan infrastruktur lingkungan, pelestarian bangunan bersejarah, penataan jalur wisata budaya, hingga pengembangan sentra seni dan kuliner khas masyarakat Tugu.

Sebagai pengurus Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), kami menegaskan bahwa Kawasan Cagar Budaya Tugu merupakan warisan sejarah yang sangat berharga dan tidak tergantikan bagi masyarakat Tugu, Jakarta Utara, serta bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Kami memandang bahwa pelestarian nilai-nilai sejarah, budaya, dan tradisi di kawasan Cagar Budaya Tugu harus menjadi perhatian bersama antara masyarakat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. IKBT berkomitmen untuk terus menjaga, merawat, serta mengembangkan identitas budaya Tugu, termasuk seni Keroncong Tugu, nilai kekeluargaan, dan situs-situs bersejarah yang masih ada.

Kami juga mendorong adanya langkah konkret berupa penataan kawasan, revitalisasi lingkungan budaya, serta penguatan edukasi sejarah agar generasi muda dapat mengenal dan mencintai akar budayanya sendiri. Pelestarian ini bukan hanya soal menjaga masa lalu, tetapi juga membangun masa depan yang berakar pada identitas budaya yang kuat.

Selain itu, keberadaan seni musik Keroncong Tugu juga dinilai perlu mendapat dukungan lebih serius agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Keroncong Tugu bukan sekadar hiburan masyarakat, tetapi bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai historis tinggi bagi Jakarta dan Indonesia.

Tokoh masyarakat juga berharap kawasan Cagar Budaya Tugu dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah bagi generasi muda. Dengan penataan yang baik, kawasan ini dinilai mampu menjadi simbol keberagaman budaya, toleransi, dan perjalanan panjang sejarah Jakarta.

Di tengah pesatnya pembangunan kota, masyarakat berharap pemerintah tidak mengabaikan kawasan-kawasan bersejarah yang menjadi akar identitas budaya bangsa. Kawasan Tugu dinilai bukan hanya milik masyarakat setempat, melainkan aset budaya nasional yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Perayaan HUT ke-50 IKBT pun menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui seremoni, tetapi membutuhkan perhatian nyata, kebijakan berkelanjutan, serta komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat.

GPIB Tugu Jadi Simbol Sejarah, Iman, dan Budaya di Tengah Modernisasi Jakarta

Di tengah pesatnya perkembangan ibu kota, GPIB Tugu tetap berdiri kokoh sebagai salah satu gereja tertua di Indonesia sekaligus simbol sejarah perjalanan komunitas Mardijkers di Nusantara. Gereja yang berada di kawasan Kampung Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara itu tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga penjaga warisan budaya dan identitas masyarakat Tugu yang telah hidup selama ratusan tahun.

Gereja Tugu memiliki akar sejarah sejak abad ke-17 ketika kelompok Mardijkers, yaitu bekas budak Portugis yang dibebaskan VOC, menetap di Kampung Tugu. Mereka berasal dari berbagai wilayah seperti Maluku, Benggala, India Selatan, dan Sri Lanka. Komunitas tersebut kemudian membangun kehidupan baru dengan memegang teguh nilai kekeluargaan, iman Kristen, dan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Bangunan gereja yang kini menjadi bagian dari Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) itu dikenal memiliki arsitektur kolonial khas Belanda dengan dinding tebal, jendela besar, serta halaman luas yang masih mempertahankan nuansa klasik. Di sekitar gereja juga terdapat makam-makam tua yang menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat Tugu diz Batavia.

Selain menjadi tempat ibadah, Gereja Tugu juga dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Keroncong Tugu, musik tradisional yang mendapat pengaruh Portugis dan menjadi salah satu bentuk keroncong tertua di Indonesia.

Keroncong Tugu Terus Dijaga sebagai Warisan Budaya Jakarta

Kawasan Tugu di Jakarta Utara memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting bagi perkembangan identitas budaya Betawi dan Jakarta. Sejak berdiri ratusan tahun lalu, masyarakat Tugu tetap berupaya mempertahankan tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman dan modernisasi kota menuju kota global.

Dalam perbincangan bersama tokoh masyarakat setempat, disebutkan bahwa sejarah komunitas Tugu telah berlangsung sangat lama dan terus dijaga hingga kini. Masyarakat bersyukur karena sejak sekitar tahun 1761 mereka masih dapat mempertahankan persatuan, kebersamaan, dan tradisi yang diwariskan nenek moyang.

“Tugu adalah nilai sejarah bagi Kota Jakarta, khususnya Jakarta Utara. Karena itu budaya dan tradisinya harus tetap dipertahankan,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.

Berbagai tradisi khas masih terus dijalankan hingga sekarang, di antaranya tradisi “Rabu-Rabu” dan “Mandi-Mandi” yang biasa dilaksanakan pada awal tahun sebagai bagian dari kebersamaan masyarakat Tugu. Selain itu, kehidupan bergereja juga menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat Tugu sejak berdirinya gereja tua peninggalan tahun 1747 yang kini masih terawat dengan baik.

Masyarakat Tugu juga dikenal memiliki semangat persaudaraan yang kuat. Perbedaan pendapat dalam organisasi dianggap sebagai hal yang wajar, namun persatuan tetap dijaga. “Kalau ada yang meninggal kami tetap bersama, ibadah bersama, tetap saling membantu,” ungkapnya.

Keroncong Tugu Tetap Dilestarikan

Salah satu identitas budaya paling terkenal dari Kampung Tugu adalah musik Keroncong Tugu. Musik ini menjadi kebanggaan masyarakat karena memiliki ciri khas yang berbeda dan tidak dimiliki negara lain.

Perjalanan musik keroncong di Tugu terus berkembang mengikuti pergantian generasi dan organisasi. Bermula dari kelompok Keroncong Moresco, kemudian berkembang menjadi Keroncong Tugu, hingga kini hadir kelompok Keroncong Bale-Bale yang menjadi bagian pelestarian budaya masyarakat Tugu.

Keroncong Bale-Bale dipimpin oleh  Santana dan terus aktif mempertahankan seni musik tradisional tersebut dipadukan gaya anak muda modern melalui latihan rutin dan berbagai kegiatan budaya. Selain musik keroncong, masyarakat juga mempertahankan seni tari dan tradisi budaya lainnya.

“Yang penting kami tetap mempertahankan budaya yang sudah diwariskan nenek moyang sampai sekarang,” ujar pengurus komunitas budaya Tugu.

Kawasan Cagar Budaya

Masyarakat Tugu juga terus mendorong pelestarian kawasan bersejarah mereka. Disebutkan bahwa sejak dahulu ada harapan agar kawasan sekitar gereja dan permukiman tua tetap dijaga sebagai kawasan cagar budaya dan tidak dipenuhi pembangunan modern.

Bangunan gereja tua yang berdiri sejak 1747 hingga kini masih mempertahankan bentuk aslinya dan beberapa kali mendapat bantuan renovasi dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta, termasuk renovasi rumah pendeta pada tahun 2017.

Selain gereja tua, kawasan Tugu juga memiliki berbagai peninggalan sejarah lain seperti tanah warisan komunitas, rumah pendeta, panggung kegiatan budaya, hingga ruang pertemuan masyarakat.

Menjaga Budaya di Tengah Jakarta Global

Di tengah perkembangan Jakarta menuju kota global, masyarakat Kampung Tugu berharap budaya lokal tetap menjadi bagian penting identitas kota. Berbagai program pelestarian terus dilakukan melalui latihan musik keroncong, tari-tarian, kegiatan budaya tahunan, dan pembinaan generasi muda.

“Program kami tetap mempertahankan budaya. Keroncong, tari-tarian, dan tradisi tetap dijalankan supaya generasi muda mengenal warisan leluhur,” ungkap pengurus komunitas.

Bagi masyarakat Tugu, menjaga budaya bukan hanya soal mempertahankan tradisi lama, tetapi juga menjaga persaudaraan, sejarah, dan identitas yang telah hidup selama ratusan tahun di Jakarta Utara.

Keturunan Portugis di Kampung Tugu Tetap Jaga Warisan Budaya Leluhur

Di usia 72 tahun, salah seorang tokoh masyarakat Kampung Tugu masih menyimpan semangat besar untuk menjaga warisan budaya leluhur yang telah bertahan ratusan tahun di Jakarta Utara.

Dengan penuh kebanggaan, ia menyampaikan bahwa dirinya merupakan keturunan Portugis generasi kesembilan yang hingga kini tetap mempertahankan tradisi dan identitas budaya komunitas Tugu.

“Harapan kami ke depan sederhana, yaitu tetap mempertahankan budaya kami,” ujarnya.

Menurutnya, perjalanan sejarah leluhur masyarakat Tugu sangat panjang, bahkan diperkirakan telah berlangsung lebih dari 500 tahun. Ia menceritakan bagaimana nenek moyang mereka dahulu datang dari Portugal, kemudian melalui Goa, Malaka, Ambon, hingga akhirnya menetap di wilayah Tugu, Jakarta Utara.

“Dulu perjalanan dari Portugal ke Goa, Malaka, menyeberang sampai Ambon lalu sampai ke sini,” tuturnya mengenang sejarah leluhur.

Keberadaan komunitas Tugu sendiri hingga kini masih dikenal luas, bahkan sampai ke Malaysia dan Brunei, terutama karena kekayaan budaya dan musik keroncong khas Tugu yang menjadi identitas mereka.

Meski banyak perubahan zaman terjadi, masyarakat Tugu tetap berusaha menjaga persaudaraan, tradisi gereja, musik keroncong, serta berbagai adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam suasana penuh keakraban, pertemuan itu ditutup dengan ucapan syukur dan doa.

“Tuhan berkati,” ucapnya hangat sebelum berpamitan.

Ini menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi Jakarta, masih ada komunitas yang dengan setia menjaga jejak sejarah panjang bangsa dan warisan budaya yang tidak ternilai harganya.

(Suwidodo)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Pos tanpa judul 3815
https://www.youtube.com/watch?v=cGKcLVakw_c&t=59s
  • Pos tanpa judul 3815